
Maxime terpaku saat dia berhasil mengenali sosok dalam dekapan sang sahabat, Wanita dengan penutup kepala, sosok yang mampu membuat hatinya bergetar dan sempat membuatnya khawatir saat pertemuan pertamanya.
Wanita yang ia kagumi atas kecerdasan dan ketangkasan berpikirnya, serta jiwa pemberani yang bahkan tidak gentar saat melihat matanya.
Sosok wanita yang membuatnya sedikit merugi karena menjual senjata dengan harga murah, tetapi dia juga akhirnya bisa memperoleh keuntungan dari kliennya yang berada di Rusia sehingga dia dengan mudah bisa mendirikan anak cabang perusahaan persenjataannya di Rusia saat ini.
Wanita yang mampu memberikan kerugian serta keuntungan yang besar dalam waktu yang bersamaan. Dan wanita itu merupakan istri dari sahabatnya sendiri.
Ada sedikit rasa tidak nyaman saat mengetahui jika wanita yang dia kagumi merupakan istri dari sahabatnya. Dan dia langsung tersadar secara penuh untuk tidak mengulang kesalahan tujuh tahun silam itu.
Dia tidak ingin membuat persahabatannya kembali merenggang dengan Allard, orang yang telah nyaris rela mengorbankan nyawanya untuk dia.
Jika dulu Allard yang mengalah, maka kali ini dia yang harus mundur sebelum melangkah. Ya, dia harus melakukan itu, meskipun hatinya sedikit terasa sakit dan tidak nyaman.
Apa lagi mengingat status wanita yang sempat dia kagumi itu merupakan istri sahabat baiknya, dan juga dengan perkataan Allard beberapa saat yang lalu, jika dia sudah mulai mencintai istrinya.
..............
Tubuh Ica seketika menegang dengan senyuman yang memudar, saat dia berhasil mengingat siapa sosok pria dengan pesona yang sulit untuk ditolak itu, dia merupakan salah satu kliennya yang merupakan pengusaha sekaligus mafia asal Spanyol itu.
Pertanyaan demi pertanyaan terus berputar-putar dikepalanya tentang siapa sosok Maxime Del Cano, lebih tepatnya, kenapa dia bisa berada disini saat ini.
"All,... dia...?".
Ica bertanya pada suaminya sembari matanya memutar berusaha memberi isyarat pada sang suami tentang keberadaan seorang pria disana, Allard mengikuti kemana arah mata Ica, dan dia segera tersenyum, kemudian berkata.
"oh ya, perkenalkan, dia sahabat baik ku, Maxime Del Cano".
Ucap Allard sembari tersenyum lebar memperkenalkan sahabatnya dengan sangat bangga.
Maxime berusaha tersenyum meskipun kaku, kemudian dia berusaha menjabat tangan Ica, tetapi dia harus menelan kekecewaan saat Ica lebih memilih menangkupkan kedua tangannya didepan dada dan sedikit menganggukkan kepalanya.
"dia muslim Max, dan itu merupakan ajaran agamanya".
" aahhhhh.... ya, baik lah, senang bertemu lagi dengan mu Rahma".
Tubuh Ica kembali menegang saat Maxime dengan tidak tahu dirinya mengatakan kalimat itu, yang sepontan membuat Allard menoleh pada nya.
"kalian sudah saling mengenal dan pernah bertemu sebelumnya?".
Tanya Allard dengan ekspresi penasaran, sejak kapan mereka berdua saling mengenal, di mana mereka bertemu, dan kapan.
__ADS_1
"ya, aku sudah mengenalnya, dan sudah pernah bertemu dengannya".
Jawab Maxime santai dengan tanpa rasa bersalah, dia kemudian melihat ke arah Ica yang terlihat melotot dengan tatapan mengintimidasi Maxime tanpa rasa takut sedikitpun, karena saat ini dia lebih takut jika Allard marah karena sudah menemui pria lain tanpa sepengetahuannya.
Ica tahu betul seperti apa watak Allard yang sangat posesif, meskipun baru mengetahuinya satu bulan terakhir ini. Tetapi itu cukup membuatnya mengerti akan watak sang suami.
Ica kemudian melihat ke arah Allard, dia berusaha tersenyum meskipun kikuk dan terkesan dipaksakan, yang malah justru terlihat seperti ringisan menurut Allard.
"sejak kapan kalian saling mengenal?".
Allard menatap istrinya dengan tatapan marah yang terlihat dari pancaran matanya saat ini. Dan hal itu membuat Maxime sadar jika mungkin saja Allard tidak mengetahui jika istrinya bekerja sebagai negosiator.
"apa kau tahu jika istri mu berkerja sebagai negosiator All?"
Maxime bertanya dengan nada sedikit halus, dia berusaha membaca ekspresi wajah sang sahabat, dia juga sempat melihat ada kemarahan saat mengetahui jika dia mengenal sang istri. Maxime yang tidak ingin ada kesalahfahaman diantara mereka lalu berusaha untuk jujur pada sang sahabat.
"ya, aku tahu, Ica sempat mengatakannya malam itu, tapi aku tidak percaya saat itu".
Jawab Allard sembari berusaha menenangkan degup jantungnya yang saat ini berdetak lebih keras karena kejutan ini.
"dia menjadi negosiator untuk pengusaha asal Rusia, yang ingin membeli senjata dari ku All".
"benarkah?, kapan?"
"tepatnya aku lupa tetapi saat kunjungan ku ke Seoul beberapa saat yang lalu saat kau membatalkan rencana pertemuan kita malam itu All".
"aaahhh.... aku ingat sekarang, jadi, malam itu kau pulang larut dengan keadaan kacau dan luka sayat dil lengan mu itu bukan Ica? dan berakhir kau menandatangani gugatan perceraian yang sebenarnya akan ku lenyapkan".
Jawab Allard dengan nada naik dua oktaf, berbicara sedikit keras dan menggebu, dadanya naik turun seolah dia sedang berusaha menahan emosinya saat ini.
Hal itu membuat Ica semakin ketakutan dan wajahnya mutih sepucat kertas, dia takut keduanya akan baku hantam saat ini.
Semua itu tak luput dari perhatian Maxime, melihat Ica ketakutan ada rasa iba yang tiba-tiba menelusup di hatinya, saat dia mengetahui seberapa takut Ica pada Allard saat ini.
"slow dude, untuk luka itu aku minta maaf sepenuhnya memang kesalahan bodyguard ku, aku benar-benar tidak tahu jika bodyguard ku akan melakukan itu".
"maaf kau bilang?, kau bahkan tidak tahu saat itu dia harus dirawat beberapa hari karena luka terinfeksi akibat pisau bodyguard mu yang kotor itu".
"benarkah? oh god, maafkan aku All, Rahma, saat itu aku sudah menawarkan untuk membawanya ke RS tapi dia menolak, dia juga audah mendapatkan perawatan dari Daren dokter pribadi ku".
"what?? Daren? dia menyentuh mu sayang? kau benar-bernar".
__ADS_1
Ucap Allard sembari matanya memandang ica, kemudian dia bangkit dari duduknya diranjang perawatan sang istri kemudian menarik jas yang digunakan Maxime, dia marah karena Daren berani menyentuh istrinya.
"wo wo wo, slow dude, dia hanya mengobati dan menjahit luka istri mu, tidak lebih".
"aku bahkan mengusir dokter pribadi pria keluarga ku, dan menggantikannya dengan dokter wanita".
"All, sudahlah... ku mohon jangan berdebat, kepala ku pusing mendengarnya".
Ica segera menengahi saat keduanya terus saja adu mulut bahkan nyaris adu jotos jika saja Maxime melayani Allard, tetapi Maxime lebih bisa bersikap dewasa saat ini dan memilih mengalah, karena memang dia juga merasa bersalah pada Rahma.
Maxime juga menyadari seberapa besar rasa cinta Allard pada istri kecilnya itu sehingga dia bersikap seposesif itu pada Ica.
.......................
"lalu bagaimana? apakah dia sudah mengakui siapa yang menyuruhnya Max?"
Tanya Allard, keduanya membahas Keemo yen yang sedang di sandra oleh Maxime saat ini, guna mendapatkan informasi orang yang telah menyuruhnya menculik Ica.
Keduanya sudah tak lagi berdebat saat ica terus saja mengeluh jika ada suara keras dan berisik, Ica yang tidak ingin ada pertengkaran itu milih menggunakan cara ini supaya ampuh, juga dia memang sedang mengalami pusing hebat dikepalanya saat ini.
Alhas keduanya memilih berdiskusi ringan setelah Allard memastikan Ica tertidur lagi setelah mendapatkan suntikan pereda nyeri dari dokter Harry.
"dia bilang, seseorang dari Indonesia, negara asal istri mu bukan?"
......................................
hay semua selamat pagi.....
maaf bgt kemrin g bisa double Up hr ini pun sbenere masih agak kliyengan belum lagi duo bocil ku yang terus saja seperti Allard dan Maxime 😭😭😭😭
eh kok malah curhat...
doain bisa double Up hari ini ya zeyeng...
jan lupa ksih Vote, like n comen.
BTW g bosen bilang vote, like n comen trus thor??
Yq g lah.. kalian aja g bosen bca karya kuh 😂😂🤣🤣🤣
makasih pokoknya
__ADS_1
maaf klo banyak Typo
😘😘😘😘🙏🙏🙏🙏