MAGIC DESTINY

MAGIC DESTINY
Petaka Yang tak diSangka


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Kakek sudah mengetuk pintu kamar cucu tersayangnya itu, sebenarnya tica masih sedikit mengantuk karena semalaman hanya merenung dan menangis, tapi dia paksakan bangun membukakan pintu kamarnya.


"ada apa kek???, kenapa pagi-pagi sudah mencari ku?


sambil menutupi mulutnya yang menguap, Tica membuka pintu kamarnya.


"kakek ingin meminjam semua surat-surat penting mu. untuk mengurus pemindahan perusahaan".


jawab Prasetio, tica berjalan kearah lemari kemudian mengambilnya dari dalam tas karena memang sudah dimasukkan kedalam tasnya sebagai persiapan akan pergi ke Korea.


"ini kek, ada lagi? "


"tidak, ini saja sayang".


............


Kemudian Tica bersiap-siap, menyusun baju-bajunya dan segala keperluan yang akan Ia bawa ke Korea nanti.


Setelah semuanya siap, Tica segera membersihkan dirinya dikamar mandi, kemudian turun kelantai satu untuk sarapan yang bahkan sudah sangat terlewatkan.


Selera makannya benar-benar turun drastis dalam satu bulan ini, bahkan terkadang dia hanya makan sedikit sekali dalam satu hari. Ntah lah.. terkadang Patah hati membuat semuanya tak lagi sama, terutama dengan selera makan yang menghilang ntah kemana.


Tica hanya minum jus alpukat dan memakan sedikit nasi. Baginya yang terpenting saat ini bertahan, dan dia bisa bekerja dengan baik sehingga jika sewaktu-waktu HF kolaps, dia masih bisa bertahan dengan pekerjaannya sekarang.


Tica berencana mengunjungi kedua butiknya itu karena akan ditinggalkan dalam waktu yang cukup lama, meskipun Tica sudah menyerahkannya pada orang kepercayaannya, akan tetapi ia masih akan tetap memantau perkembangan butiknya yang memang ada beberapa baju yang dibuat dengan brand dia sendiri, karena cita-cita utama Tica dulu sebenarnya seorang Desainer.


Akan tetapi, tumbuh didalam keluarga pengusaha membuatnya mau tidak mau jatuh dalam dunia bisnis hingga ia mengambil kuliah jurusan Manajemen.


Dan rencananya nanti, Tica akan mengambil s2 dengan jurusan manajemen Bisnis. Supaya dia benar-benar bisa mendalami bisnis nantinya.


.....


Mengendarai maticnya selama 40 menit dengan kecepatan sedang Tica sampai di butiknya yang pertama dan para penjaga butik segera menyambutnya dengan sangat ramah, karena memang pada dasarnya Tica sangat ramah pada semua orang.


Setelah melihat semua pembukuan dan stok barang yang akan dijual masih ada, tica merasa lega dan segera melajukan motor maticnya ke butik yang kedua.


Akan Tetapi ditengah jalan yang sedikit sepi, dia tiba-tiba di srempet oleh mobil van yang sepertinya sedari tadi berada dibelakangnya sejak Ia berangkat dari rumahnya.


Tica mengerutkan keningnya saat teringat bahwa mobil itu yang sedari tadi berusaha menyalib dan terus saja memblunder perjalanannya. Tica mengingat -ingat lagi ia tidak kenal dengan mobil itu dan tiba-tiba,


"brak".. .


Bunyi kedua benda yang bertabrakan terdengar begitu keras. Sempat Oleng dan akhirnya Ia membanting stir ke kiri dan menabrak pohon yang berada dipinggir jalan.


"brak".....


Motor matic itu menabrak pohon dan Tica terpental beberapa meter dari motornya. Terlihat mengenaskan karena bodi depan motor hancur, saking kerasnya menabrak pohon.


Sementara Tica yang terpelanting 3 meter dari motornya terlihat terkapar dengan kepala mengeluarkan darah segar yang langsung merembes kehelm yang ia kenakan.


Seketika teriakan dari beberapa orang yang berada disekitar tempat itu menggema, dan Tica merasakan kepalanya sangat pusing, mencoba bangun tetapi tak sanggup. Tica hanya bisa mendengar suara teriakan dan dengungan yang cukup kuat, bersamaan dengan matanya yang menutup.

__ADS_1


....... .......


Kediaman Prasetio


"ya, dengan saya sendiri"


(...............)


"apa"???...


"bagaimana Bisa"


(..................)


"bagaimana Keadaannya? ".


(..................)


"baiklah saya segera kesana"


Kemudian secepat yang ia bisa Prasetio melangkahkan kakinya dan berteriak memanggil asistennya, untuk segera Pergi ke rumah sakit Telogorejo.


Dengan tergopoh-gopoh Prasetio berlari kecil menuju ruangan tempat perawatan Cucunya itu. Kabar yang didengarnya semakin membuatnya khawatir dengan keselamatan Tica.


Sampai diruang perawatan sang cucu, Prasetio begitu cemas melihat keadaan cucunya.


"Tica, cucuku"


Prasetio mengelus lembut rambut Tica, kemudian dia teringat bahwa cucunya pasti akan marah jika dia bangun tanpa mengenakan Kerudungnya.


Prasetio menyuruh asistennya mengambil kerudung beserta beberapa baju yang ada di butik milik cucunya. Prasetio yakin Tica akan sangat tidak nyaman, mengenakan pakaian rumah sakit yang berlengan pendek itu.


"kali ini benar-benar sudah keterlaluan... kakek tidak akan tinggal diam lagi, aku harus segera bertindak, supaya keselamatan mu terjamin sayang".


Ucap Prasetio dalam hati sambil kedua tangannya mengepal kuat, menahan emosi yang kali ini benar-benar sampai terasa ke ubun-ubunnya.


Prasetio segera mengambil ponselnya didalam saku jasnya. Kemudian dia mendial nomor seseorang disana.


"tolong Cucuku Pram, Percepat semuanya, kali ini pelakunya bahkan nyaris membunuh cucuku hari ini. Aku tak mau lengah lagi, semakin cepat semakin baik".


" (............) "


"besok setelah Tica keluar dari RS, segera lakukan, Aku sudah mengurus semua persyaratannya, dan sudah selesai hari ini, sampai tiba-tiba aku mendapat kabar cucuku Kecelakaan".


" (...........) "


"baiklah, terimakasih banyak Pram".


Setelah mengakhiri panggilannya kemudian terlihat Pras kembali melakukan panggilan.


"cari dan dapatkan buktinya, Jika benar yang aku curigai selama ini nyata, maka aku tak akan pernah mengampuninya".

__ADS_1


"hem, Baiklah, terimakasih".


Pras menutup panggilan teleponnya dan fokus pada Tica, beruntung kepalanya hanya mendapatkan 5 jahitan saja dan badannya hanya luka tergores pada beberapa jari tangan dan telapak tangan, serta kakinya yang bahkan kaos kaki sobek dan sepatu yang dikenakan Tica ntah kemana saat kecelakaan itu terjadi.


Sambil mengusap-usap lembut rambut cucunya, Prasetio berjanji dalam hati, akan melindungi Tica, bahkan jika taruhannya adalah nyawanya sendiri.


....,.........


Tica mengerjapkan matanya kala silau matahari sore itu terasa masuk mengusik tidurnya, ia mengernyit dan meringis saat tersadar dari pingsanya.


Kepalanya terbentur dengan cukup kuat sehingga membuatnya tak sadarkan diri beberapa jam setelah kejadian itu.


"Tica, sayang, kau sudah sadar ? ".


"mana yang sakit? "


pras terus saja bertanya mengkhawatirkan kondisi cucu sematawayangnya itu.


"dimana aku kek, Kenapa bisa? ".


Sambil bertanya matanya melihat kearah Infus yang terpasang ditangan sebelah kirinya. barulah Dia tahu, kalau sekarang dia sedang dirawat di RS. Seketika Tica mengingat kejadian sebelum dia tak sadarkan diri.


Badannya terasa remuk dan kepalanya juga terasa sangat pusing, tapi karena Tica tak ingin membuat kakeknya khawatir, Tica mengatakan jika ia baik-baik saja saat ini.


Kemudian pintu tampak dibuka dari luar masuklah seorang dokter dan dua orang perawat yang telah dipanggil oleh asisten


Prasetio saat melihat Tica tersadar dari pingsannya.


Asisten Prasetio orang yang sangat cekatan setelah tadi baru saja kembali setelah mengambilkan baju ganti untuk nona majikannya.


Tica langsung mencari keberadaan kerudungnya dan diberikan yang baru oleh kakeknya, Pras mengatakan kerudungnya yang tadi kotor dengan darah. Tica hanya menganggukkan kepalanya yang maaih terasa berat.


"lukanya tidak ada yang serius, meskipun sedikit dalam, karena benturan dikeningnya. Selebihnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan pada tangan dan kakinya, nanti diberi obat, setelah infusnya habis, pasien sudah boleh pulang, dokter keluarga yang akan rutin melihat dan mengganti perban dikepalanya dengan yang baru".


Dokter menjelaskan kondisi fisik Tica yang secara keseluruhan memang tidak ada luka dalam yang serius.


Prasetio sempat sedikit marah kala dokter mengatakan tidak ada yang perlu dihawatirkan. padahal kening cucunya bocor dan harus mendapatkan jahitan. Baginya sedikit saja Tica terluka, maka dia tak kan terima. Apa lagi ada yang secara sengaja menyakiti cucunya maka ia tak akan diam saja.


Namun setelah dokter menjelaskan lagi akhirnya Prasetio bisa menerimanya dan menunggu infus yang mengalir ditangan Tica habis, kemudian ia akan segera membawa Tica pulang kerumah yang pastinya lebih nyaman dari pada di RS.


Tentunya dengan penjagaan yang ketat, bahkan terlihat saat ini diluar pintu kamar perawatan Tica, sudah ada 3 Body guard yang tengah berjaga-jaga mencegah sesuatu yang tak diinginkannya terjadi.


........................


hay... hay...


maaf agak kemaleman ...


soalnya seharian sedikit full kegiatan..


tapi demi kalian aku rela ngetik malem ini .,

__ADS_1


tetep vote, like n comen ya...


makasih readers kuuhhh.... 😘😘😘😘☺☺☺


__ADS_2