
"untuk apa lagi pagi-pagi dia kesini, rupanya berani mencari masalah dengan ku".
Dengan rahang yang mengeras dan tangan terkepal, Allard melihat sosok yang teramat dibencinya, terutama sejak peristiwa malam kemarin.
"apa maksud mu Allard?".
Tica yang tak mengerti kemana arah pembicaraan Allard pun bertanya dengan wajah polosnya.
"kalian tidak janjian bukan?, kemarikan HP mu"
"untuk apa kau meminta HP ku?"
Tanpa basa basi lagi Allard segera mengambil HP istrinya yang berada ditangannya itu, entah apa yang dia lakukan saat ini, apa kah mengecek pesannya atau kenapa, Tica yang merasa tak ada masalah dengan pesan-pesan di HP nya hanya bisa pasrah saat Allard merebut paksa HPnya dari genggamannya.
"ternyata dia masih berani mengirimkan pesan seperti itu hem??, lihatlah apa yang bisa aku lakukan untuk mu".
"kenapa kau masih berbalas pesan dengan pria tak tau malu itu Ica?"
"siapa yang kau sebut tak tau malu Allard?".
Tanpa Tica tahu, ternyata saat ini Allard memblokir no HP Hafidz di HP tica, supaya dia sudah tidak bisa lagi mengirim pesan atau pun melakukan panggilan telepon pada Hafidz, maupun sebaliknya.
"ingat pesan ku, jangan pernah temui Hafidz lagi, kapanpun itu, jika tidak dengan ku".
Allard berbicara dengan nada tegas dan intimidasinya pada istri kecilnya itu, dan Tica hanya bisa diam sembari mengedip-kedipkan matanya beberapa kali. Melihat tingkah ajaib Allard kali ini, rasanya sedikit aneh menurutnya.
"Apa kau mengerti?"
Allard bertanya lagi pada Tica, dan kali ini mendapat anggukan dari Tica, tak ingin berdebat terlalu lama supaya dia tak terlambat masuk ke kantornya. Karena saat ini mereka masih ada di lobi depan gedung KBRI.
"pergilah lewat pintu samping dan jangan temui Hafidz, apa kau mengerti?".
Menghembuskan nafas lelahnya Tica mengikuti perkataan Allard, meskipun dia merasa kasihan pada Hafidz, tetapi dia tidak mau terus menerus berdebat dengan Allard, dan memilih jalan aman.
"baiklah"...
Tica seperti maling yang menyelinap masuk kedalam gedung KBRI melalui pintu samping, meskipun merasa kasihan pada Hafidz, dia juga tak ingin menemuinya setelah peristiwa kemarin malam. Dia merasa masalah akan bertambah jika dia nenemui Hafidz.
...........
Tica menelpon security, untuk mengatakan pada Hafidz jika dia hari ini ada pertemuan penting di Korea Utara selama satu minggu kedepan, dia merasa cara ini ampuh untuk membuat Hafidz pergi dan tak menghampirinya lagi selama dia di Seoul.
Ternyata cara ini ampuh, berhasil membuat Hafid pergi melenggang lesu, dia berulang kali berusaha menelvon dan mengirim pesan pada Tica, tetapi tak pernah tersambung, tanpa dia tahu ternyata Allard telah memblokir nomer telvon Hafidz di HP Tica.
__ADS_1
Hafidz ingin menemui Tica, membujuknya sekali lagi untuk mau ikut pulang bersamanya, tekatnya sudah bulat kali ini, dia ingin mengajak Tica pulang ke Indonesia, dia tak mau Tica disini hanya diperlakukan seperti sampah oleh Allard.
...............
Jam istirahat siang pun akhirnya tiba, Tica yang sedang sibuk mengetik di keyboard komputernya sedikit terkejut saat HP nya berbunyi, sejak pindah ke Seoul jarang sekali ada yang menghubunginya. karena hanya beberapa orang saja yang mengetahui nomer HPnya.
"sudah makan siang?"
Tica melongo ketika mendapatkan pesan dari Allard, kenapa dia jadi seperhatian ini?
"belum" .... Send
"turunlah, aku di Lobi KBRI".
Tanpa berfikir panjang Tica turun ke lobi bawah saat dia menuruni anak tangga, Allard terus saja memperhatikannya dengan dia yang menyandar di mobil Rolls Royce dengan gaya angkuh dan dinginnya menyedot semua perhatian penghuni kantor KBRI. Semua wanita terpesona oleh penampilan Allard yang tidak pernah gagal itu. sementara laki-laki terpesona oleh mobil yang dikendarai Allard.
Tak terkecuali Tica, tetapi dengan cepat dia mengalihkan pandangannya kelain arah, dia tidak Ingin Allard menjadi besar kepala, jika Tica ketahuan terpesona oleh Allard.
Tica menemui Allard yang yang masih menyandarkan tubuhnya pada mobil hitam kesayangannya itu,
"kenapa kemari?"
"wah.... tumben sekali, apakah CEO Secret Hotel sekarang mempunyai banyak waktu luang?".
"khusus hari ini, karena tiba-tiba aku ingin makan siang bersama istri kecil ku"
"kemana?"
"masuklah".
Allard membukakan pintu mobil samping untuk Ica, lalu memutar tubuhnya menduduki kursi dibelakang kemudi, menginjak pedal gas dan meninggalkan gedung KBRI.
"mau makan apa? "
Tica menoleh kearah Allard dalam hatinya masih sedikit canggung berada satu mobil dengan Allard dan hanya ada mereka berdua, biasanya ada David atau pun Leo, tapi kali ini cuma mereka berdua.
Tica juga masih merasa sedikit heran kenapa akhir-akhir ini sikap suaminya berubah, tapi dia juga belum bisa lupa bagaimana saat ia memergoki Allard sedang bercinta dengan para wanitanya. Dia lalu menggelengkan kepalanya mengusir sedikit rasa senang yang sedang mulai bertumbuh dihatinya, dia tidak ingin jatuh dalam pesona Allard meskipun dia suaminya sendiri.
"Terserah, mau makan dimanapun asalkan yang halal aku mau".
"baiklah".
__ADS_1
Allard menjalankan laju mobilnya dengan kecepatan sedang membelah siang kota Seoul, menuju restoran langganannya yang biasanya sering dia kunjungi saat meeting bersama para kolega bisnisnya.
................
Tica cemberut dengan pandangan mata sinis kearah Allard, Allard yang tak mengerti maksud Tica pun hanya bisa cuek dan terus memakan makanannya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"kenapa g dimakan? malah diliatin doang?".
"kenapa makannya ditempat kayak gini? "
Tica yang lebih senang makan ditempat yang sederhana pun merasa kurang suka diajak makan siang dengan full table manner seperti ini.
Terlalu berlebihan dan sangat tidak nyaman. makan siang biasanya dia makan di kantin atau paling tidak hanya ke cafe sebelah dengan teman satu timnya saja dan tidak pernah ke restoran mewah seperti ini.
makan harus dengan kehati-hatian, pada hal sudah sangat lapar, dia lebih suka makan langsung dari pada harus menggunakan tata cara makan seperti ini. Menurutnya sangat membuang-buang waktu makan siang yang sangat singkat ini.
"kenapa masih cemberut dan melihat ku seperti itu?".
"kenapa makannya di restoran mewah seperti ini?, aku lebih suka makan di kios pinggir jalan, dari pada makan di restoran mewah sayang sekali waktu istirahat singkat ku harus terbuang begitu saja".
"ada apa dengan mu? biasanya para wanita akan suka jika diajak kerestoran mewah seperti ini".
"karena aku bukan seperti wanita-wanita mu yang lain Allard".
Allard meletakkan sendok makannya kemudian mengelap bibirnya dengan sapu tangan yang tersedia, menatap Ica dengan Intens.
"kau tadi mengatakan terserah yang penting halal kan?"
Tica menganggukkan kepalanya.
"jadi ya sudah nikmati saja makanannya kenapa harus diributkan lagi?"
Tica mendengus kemudian mulai mengambil garpu dan pisau mengiris daging sapi wagyu di depannya, dan menyuapkan kemulutnya, terasa juicy dan lembut sekali, makanan restoran mewah memang beda batinnya...
..................
Hay semua,,,,,,,
maaf bgt yaa...
aku Up nya lama, kemarin demam, ini alhamdulillah sudah membaik, doakan bisa Up lancar lagi ya
jangan lupa vote, like n comen yaa.. βΊβΊπππ
__ADS_1