
Pagi ini tidak seperti biasanya Tica bangun agak terlambat, Tubuhnya terasa remuk saat bangun tidur, ia duduk sebentar mengingat kejadian tadi malam yang memang benar-benar diluar dugaannya. Dia kira om Har akan menyerah setelah dia pindah ke Korea, nyatanya semua perkiraannya salah.
Tica mandi menggunakan air hangat, setelah melaksanakan kewajibannya dia bersiap berangkat bekerja, seperti apa pun rasa sakit di tubuhnya saat ini, dia ingin tetap berangkat, karena masih banyak dokumen WNI yang menumpuk dan harus dia selesaikan hari ini juga.
Memakai setelan kantor formal, Tica menyelesaikan memakai hijab segi empatnya yang dibuat simpel ala wanita kantoran, memakai tas dan menenteng laptop tipisnya, ia menuruni anak tangga dengan anggun, sambil mengirim pesan pada Leo, untuk menunggunya didepan pintu utama. Tica tak sadar jika ada 5 pasang mata pria tengah menatapnya tanpa kedip.
Sampai dilantai satu, tepatnya di pantry, Tica langsung menaruh tas dan laptopnya di atas meja bar, kemudian berjalan menuju pantry, mengambil 2 potong sandwich memasukkan dalam kotak bekalnya, menyeruput kopi yang sudah disiapkan oleh Mila.
Hari ini dia terlambat bangun, jadi tidak membantu Mila menyiapkan sarapan. Juga dikarenakan tubuhnya yang kurang fit, Meskipun sudah mandi dan mengaplikasikan mike up senatural mungkin, untuk menutup wajahnya yang pucat, tetapi masih saja terlihat jika dia tengah sakit.
"ekhem,"
Allard berdehem kala dia tersadar dari keterpesonaanya pada Tica, dia melihat semua teman-temannya memandang takjub pada Tica meskipun dia mengenakan hijab.
Ntah mengapa ada rasa tidak rela di hatinya, saat Tica dipandang begitu mendamba oleh keempat teman Prianya. Meskipun tadi malam dia juga menghabiskan malam dengan Chintya tetapi ntah mengapa rasa itu datang secara tiba-tiba, Dia merasa memiliki Tica, dia tidak ingin membaginya dengan siapapun.
Alex, Daniel, Joe dan Allan adalah sahabat Allard, keempatnya merupakan pengusaha muda seumuran dengan Allard, mereka sudah berteman sejak dari bangku SMA. Alex dan Daniel merupakan pengusaha Tambang yang keduanya sudah memiliki Tunangan dan kekasih. Sementara Joe dan Allan pengusaha properti dan masih betah dengan status jomblonya tetapi terus saja berganti pasangan layaknya Allard.
"bukankah kau sedang sakit?, Kenapa memaksa berangkat bekerja? ".
Tanya Allard sambil berjalan mendekat pada Tica, dia menyandarkan tubuhnya di meja bar dan menatap intens Tica dengan tangan berpegangan pada meja bar.
"pekerjaan ku masih sangat banyak dan harus selesai hari ini, Para WNI menunggu dokumennya, aku tidak bisa membiarkan mereka menunggu lebih lama, karena aku juga berada diposisi mereka".
Jawab Tica panjang, menjelaskan perihal pekerjaan yang tidak bisa ditunda lagi.
"apa hanya kau yang bekerja disana? sehingga semua itu harus dirimu yang mengurus?".
Tica menghela nafasnya lelah, ternyata Allard masih tidak mengerti, kewajiban bekerja sebagai pegawai biasa.
__ADS_1
"perlu ku ingatkan? disana aku hanya sebagai pegawai biasa, bukan bosnya, seperti mu yang kapan pun kau mau libur bisa terwujud".
"aku berangkat dulu".
Sambil menganggukkan kepala kearah teman-teman Allard, yang sedang membicarakan tentang istri kecil sahabat mereka itu, Tica mengambil tas dan juga laptopnya, kemudian mengucapkan salam dan melenggang kearah pintu depan.
Baru saja Tica berjalan 5 langkah, Para gadis yang baru saja keluar dari kamar masing-masing, sudah berjalan ke arah pasangannya, Tica menoleh kebelakang melihat pemandangan yang sangat membuat sakit matanya.
Mereka semua mengucapkan selamat pagi dengan saling mencium pasangannya masing-masing, bahkan terlihat Allard sedang me****t bibir Chintya. Dasar pria mesum, apa tidak bisa menunggu setidaknya sampai dia keluar dari rumah ini?.
Membuang nafas kasarnya Tica menarik handel pintu mansion utama. Melirik lagi kearah Allard yang masih saja berciuman dengan Chintya, tetapi kali ini Allard juga melihat kearahnya. Tatapan mereka bertemu 3 detik, sebelum Tica langsung menghempaskan pintu sedikit kasar karena rasa kesalnya. Ntah mengapa dia justru merasa hatinya diremas melihat adegan tak pantas itu.
.............
Di dalam mobil yang mengantarkannya menuju kantor KBRI, Tica melihat keluar jendela, mengingat semua perhatian sekaligus perlakuan Allard pada Chintya,
"sampai kapan aku harus bertahan dengan semua ini Ya Rabb, Aku lelah dengan semuanya, tapi aku masih harus bertahan dengan keadaan yang membuatnya semakin tertekan".
Liquid bening dari netra indah Tica mengalir, saat dia mengingat kilas balik hidupnya selama 1 bulan ini. Ntah mengapa dia merasa tak nyaman dan hatinya seperti dicubit, kala mengingat apa yang dilakukan Allard dan Chintya.
Tapi dia segera menepis rasa tidak nyaman itu, mungkin hanya sebatas marah, karena mereka melakukan adegan tak pantas didepan matanya.
............
Seperti biasa Tica berusaha bekerja dengan baik, meskipun rasa tidak nyaman itu masih saja mengganggunya. Tica berusaha menyelesaikan semua pekerjaannya hari ini, dia ingin besok Weekend bisa santai sedikit di mansion.
Tica bahkan melewatkan makan siangnya kali ini, Kepalanya terasa bertambah pusing saat dia berhasil menyelesaikan semuanya, masih ada satu jam lagi sebelum jam pulang kerja, dia manfaatkan untuk menyeduh kopi dan menikmati cup cake yang diberikan oleh temannya sekantor.
Tica melangkah kan kakinya ke lobi depan kantor KBRI, berjalan memasuki mobilnya. Tica sebenarnya ingin berjalan-jalan di kota Seoul ini, bahkan dia belum pernah segedar berkeliling, mengingat dia sedang menjadi incaran orang suruhan om Har.
................
__ADS_1
Sampai di mansion, Tica ingin melepas penat dengan berendam, berharsp sakit kepalanya sedikit berkurang, tetapi itu hanya bisa menjadi harapan, saat dia sampai di depan mansion melihat semua para maid sedang sibuk mempersiapkan segalanya untuk sebuah acara, mungkin pesta lagi atau apa lah.
Dengan langkah berat dia menaiki tangga hingga sampai di kamarnya. Berendam air hangat yang diharapkan dapat meredakan sedikit rasa berdenyut di kepalanya, justru malah menambah rasa pusing itu semakin menjadi.
Tica bangun kemudian membilas tubuhnya dibawah shower air hangat, memakai pakaian, dia sedang kedatangan tamu bulanannya, jadi tidak melaksanakan shalat, memilih segera masuk kedalam selimut, tubuhnya terasa panas tetapi disaat bersamaan dia kedinginan hebat.
Tica berusaha memejamkan matanya, berharap rasa sakit yang mendera kepalanya hilang. meskipun terasa berputar-putar. Keringat dingin pun mengalir dipelipisnya. Sungguh menyedihkan bahkan dalam keadaan sakit seperti ini dia sendirian.
Ia jadi mengingat bi Surti yang selalu ada jika dia sedang sakit, dan langsung segera memanggilkan Hafidz, tapi kali ini dia harus berjuang sendiri.
Mila yang teringat sang nyonya belum turun sejak pulang dari kerjanya, memutuskan untuk membawakan makan malam, mungkin nyonya sungkan turun kebawah ditengah-tengah pesta yang sedang berlangsung ini, dan hanya di datangi oleh pengusaha-pengusaha dan wanita-wanita cantik, Allard memang sering mengadakan acara seperti ini jika dia memenangkan tender besar.
"nyonya, Nyonya sudah tidur? saya membawakan makan malam untuk nyonya".
Tika sebenarnya ingin menjawab tapi ia tak kuasa hanya untuk segedar bersuara.
"saya mohon izin masuk nyonya".
Mila sangat terkejut melihat sang nyonya yang terbaring lemas dengan keadaan menggigil dan suhu tubuh sangat panas, Ia segera merogoh sakunya mengambil ponsel dan mendial nomor dokter Hary, dokter pribadi Allard, yang memang sering datang jika dibutuhkan.
Mila mengambil kompresan, sembari menunggu dokter Hary datang. Dia merasa iba dengan sang nyonya yang sama sekali tidak pernah mendapatkan perhatian layaknya seorang istri dari suaminya, bahkan sekarang Allard sedang sibuk bercumbu dengan Chintya.
...................
Hay gaez... maap yah kemarin libur, tapi sebelumnya aku dah double up kok..
tetep dukung karya ku ya
jangan lupa Vote, like n comen,
makasihhh.....
__ADS_1
ππππβΊβΊβΊππππ