MAGIC DESTINY

MAGIC DESTINY
Allard Meragu


__ADS_3

Allard masih berada di samping ranjang king size dikamar Tica, menjaga istri kecilnya yang masih terus saja mengigau dan panas tubuhnya belum turun meskipun dokter Harry telah memberikan paracetamol.


"kek, Tica mohon jangan pergi, Ayah, Ibuk.... , jangan pergi"


"aku sendiri, Jangan pergi..... "


Tica masih terus mengigau dan mengeluarkan keringat dingin, ntah mengapa perasaan Allard menjadi begitu gelisah. Dia biasanya tidak perduli dengan siapapun, dan bersikap dingin, tapi kali ini ada sesuatu yang membuatnya enggan beranjak dari kamar Tica saat ini.


Dia merasa tidak tenang, 1 jam yang lalu dia mempercayakan pengawasan Tica pada Mila, dia kembali ke kamarnya yang berada tepat didepan kamar Tica, Tetapi masih juga belum bisa memejamkan mata barang sedikit pun, pikirannya masih terus saja memikirkan kondisi Istri kecilnya.


Alhasil dia kembali lagi ke kamar Tica, keadaannya semakin memburuk, dia menelpon dokter Harry, dan dokter mengatakan jika dalam watu 2 jam panasnya masih belum turun, maka dia menganjurkan segera dibawa ke Rumah sakit Jong Hwa, RS itu merupakan milik keluarga dokter tampan itu. Disana banyak teman SMA nya yang menjadi dokter, bekerja di RS itu.


Karena batas waktu 2 jam yang ditentukan dokter Harry sudah lewat, maka Allard memberi perintah pada Mila untuk segera bersiap membawa Tica Ke rumah sakit. Allard segera mandi dan mengganti pakaiannya, mengabaikan Chintya dan shabatnya yang menginap.


Mereka semua sedang menikmati sarapan yang sangat terlambat karena setelah pesta semuanya bangun siang. Dengan langkah yang memburu cepat Allard menggendong Tica dan membawanya dengan sedikit berlari kearah depan dimana David dan Leo sudah menunggu dengan mobilnya.


Allard berjalan terburu menuruni anak tangga, ketika sampai di lantai satu, semua mata memandang kearahnya, dengan tatapan heran dan bingung.


"silahkan dinikmati sarapannya, aku akan membawa istri ku ke RS".


Ucapnya masih sambil berjalan cepat menuju pintu utama tanpa rasa lelah sedikitpun, karena memang bobot tubuh Tica yang dirasa turun drastis dalam waktu 3 bulan, pasca pernikahannya.


Dan Hal itu semakin membuat Allard merasa tidak nyaman, Allard bukannya tidak menyadari jika Tica tak pernah sekalipun menggunakan kartu ajaib tanpa limit, yang sudah dia berikan padanya.


Lelah fisik, Sedih, patah hati, kecewa, kehilangan kakek ditambah nyawanya yang terancam, mempunyai suami dingin, dan jauh dari kata baik, semuanya turut andil membuat tekanan pada Tica, puncaknya saat ini, dia benar-benar tidak kuasa lagi menahan semua beban yang ditanggungnya.


Tubuhnya tak kuasa menerima semua tekanan itu, meskipun dia bersikap seolah baik-baik saja. Tapi tubuhnya tak bisa berbohong, Luka dikakinya hanyalah luka kecil, jika dibandingkan dengan luka hatinya saat ini.


Chintya hanya mendengus kesal saat Allard begitu terlihat perduli dengan istrinya itu. Dia tidak suka, dia terlalu besar kepala saat Allard masih mau terus bercinta dengannya, disaat dia telah memiliki Istri. Dia merasa memiliki Allard, padahal Allard sama sekali tidak pernah menganggapnya sebagai kekasihnya.


Allard hanya menganggapnya seperti hubungan yang saling menguntungkan, karena dia memberikan dukungan pada Chintya, sehingga sampai saat ini Chintya masih menjadi Model papan atas, semua itu berkat dukungan yang diberikan Allard.


"wah, lihatlah, bahkan dalam kondisi sakit pun istrinya tetap terlihat cantik alami"


Alan mengomentari Tica yang berada dalam gendongan Allard,


"kalau aku menjadi Allard, sudah ku makan sejak lama, dia terlihat polos dan baik, meskipun sudah diperlakukan dengan tidak baik".

__ADS_1


Balas Joe, sambil terus menatap kepergian Allard.


Para sahabat Allard mengomentari Allard dan Tica yang dianggap cocok meskipun keduanya memiliki perbedaan umur yang lumayan cukup jauh.


Chintya yang langsung kehilangan selera makannya memilih pergi dari meja makan, dan hanya dilirik oleh Cathline dan Amber, pasangan dari Daniel dan Alex. kedua wanita itu sebenarnya tidak terlalu menyukai Chintya, karena sifatnya yang angkuh, terlebih Cathline dan Amber juga seorang pengusaha jadi memang tidak pernah menemukan kecocokan jika mengobrol dengan Chintya.


................


Sampai di Rumah sakit Jong Hwa, Tica langsung mendapatkan penanganan khusus oleh tim dokter yang merupakan sahabat Allard. Menunggu hasil Lab keluar, sembari terus memandangi istri kecilnya, yang memang bertambah kurus, terasa saat dia dulu pertama kali menggendong Tica saat Usai pernikahan itu, masih terasa sedikit berat dari pada sekarang yang terasa begitu ringan.


Dia merasa kasihan, sekaligus takut, ntah mengapa Allard merasa takut kehilangan Tica, istri kecilnya yang jarang sekali dia perhatikan.


ada rasa sesal kala dia mengingat penjelasan dokter tadi, jika luka nya mengalami infeksi, sehingga menyebabkannya demam tinggi.


Luka itu ada karena dia lah penyebabnya. Ntah terbuat dari apa hati istrinya ini, yang masih begitu kuat menghadapi Masalah demi masalah yang mendatangi istri kecilnya ini, Allard bukannya tidak tau jika Tica mencintai Hafidz, belum lagi saat dia harus kehilangan keluarga satu-satunya, dan terus saja di incar oleh Hariyanto.


Saat itu juga Allard berjanji pada dirinya sendiri untuk terus menjaga Tica dengan baik, meskipun dia tidak turun tangan secara langsung, dia tetap akan memantau melalui Leo. Supir sekaligus bodyguard Tica.


.............


Tica mengerjabkan matanya beberapa kali, kala cahaya terang menyilaukan netranya. dia terkejut karena tidak berada di kamarnya.


"Kau sudah bangun, Syukurlah, mau minum? atau makan sesuatu".


Tica mengernyitkan keningnya kala pertanyaan yang dia ajukan tak mendapat jawaban, malah dijawab dengan pertanyaan oleh Allard. Dia juga bingung, kenapa tiba-tiba Allard berubah menjadi perhatian?.


"pergilah".


Tica mengingat lagi saat sebelum ia tak sadarkan diri, dan seketika rasa itu membuatnya enggan melihat Allard.


"kenapa kau begitu keras kepala, hem?? "..


Menghela nafas kasar Allard yang hendak mengambil air minum kembali diurungkan saat Tica mengusirnya.


"aku tak ingin melihat mu,"


Tica memalingkan wajahnya saat Allard menatapnya dengan intens.

__ADS_1


Dalam hati kecilnya, sebenarnya Allard ingin minta maaf tetapi karena gengsinya yang cukup besar, dia mengabaikan itu. Memilih pergi setelah Mila masuk kedalam ruangan.


Allard kembali ke mansionnya dan mendapati Chintya sudah tak disana lagi, hanya para sahabatnya saja.


"aku heran, mengapa kau begitu bisa menahannya saat dia sudah menjadi Istrimu Al".


Tanya Alex saat Melihat Allard yang meneguk minuman dingin kaleng itu. dia baru saja sampai mansion dan bergabung dengan teman-temannya duduk diteras belakang.


"kami mempunyai kontrak untuk tidak saling mencampuri urusan masing-masing".


"kalau begitu, bisakah kau ceraikan dia, dan berikan dia pada ku?".


Alan menyahut ucapan Allard. Dan dia seketika langsung mendapatkan tendangan ditulang keringnya yang cukup keras, sampai membuatnya jatuh dari kursinya dan mengaduh kesakitan.


"ada apa dengan mu, kenapa kau marah, bukannya kau membencinya?"


Sahut Joe dengan cepat, dia heran dengan sikap ajaib temannya ini, yang tak mau berbagi wanita seperti biasanya.


"aku tak akan menceraikannya".


"kenapa? apa kau sekarang mencintainya huh?"


Tanya Daniel yang begitu penasaran dengan perubahan sikap Allard ini.


"pokoknya aku tak akan menceraikan gadis cilik ku itu, apa lagi memberikannya pada mu Joe"


"wo wo wo, selow Al, aku hanya bercanda, tapi jika kau ingin membuangnya, aku siap menampung, Haha ha".


Balas Joe cepat sembari terus saja menggoda Allard. dan Joe hanya bisa menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah baru Allard,


....................


Catatan penulis:


Hay sayang kuhh....


jangan lupa tetep kasih Vote, liken comen yaa...

__ADS_1


makasih... ☺☺☺🙏


__ADS_2