
"Tica"....
Hariyanto memanggil sang keponakan dengan berjalan mendekat. Dia tidak mengetahui jika Allard berada di sana dan sedang memperhatikan gerak geriknya saat ini
"bagaimana kabar mu sayang? om merindukan mu"
Ucap Hariyanto menyapa sang keponakan dengan nada yang lembut, Ica membalas salam sang paman dengan takzim mencium punggung tangan Hariyanto meskipun dengan hati yabg was-was.
"alhamdulillah, baik om, om sendiri gimana kabarnya?"
Ica balas menjawab berbasa-basi meskipun rasanya enggan tetapi dia sudah melakoni sandiwara ini selama empat tahun yang lalu, saat dia mulai mencurigai sang paman, tetapi dia hanya mampu memendam prasangkanya didalam hati, tanpa berani mengatakan pada sang kakek kala itu.
Dia juga tidak ingin sang kakek menjadi syok, dan khawatir jika mengetahui semua itu adalah ulah sang paman, tanpa Ica ketahui selama ini sang kakek pun ternyata memendam hal yang sama, hanya saja dia tidak mengatakannya karena takut Ica tidak percaya, karena sungguh sebenarnya Hariyanto selama ini bersikap baik dan sopan dihadapannya dan Ica.
"sudah hampir tujuh bulan tidak bertemu, kau juga tidak pernah memberi kabar, om sengaja mampir ada pertemuan bisnis di kota ini".
"ah... iya om, maaf Ica sibuk sekali beberapa bulan ini, banyak dokumen para TKI yang harus diurus jadi memang menyita waktu".
"ya sayang, om hanya khawatir pada kesehatan mu, apalagi sekarang kau kuliah malam bukan?".
Deg...
Jantung Ica berdetak lebih kencang dari biasanya, ternyata om nya tahu jika dia juga memiliki jadwal kuliah malam.
" y-ya om, om tahu kalau Tica kuliah malam ya".
Ica menjawab dengan nada sedikit tergagap, tetapi dia berusaha senatural mungkin menghadapai orang yang sangat kejam dan licik.
"boleh kah kita bicara sebentar sayang, di sana".
Hariyanto menunjuk mobilnya yang terparkir dengan sempurna, dia ingin mengajak Tica masuk ke dalam mobilnya. Ica yang terlihat bingung karena kaget, tanpa diduga ternyata om nya berani mengajaknya langsung, meskipun keadaan sedang sangat ramai saat ini.
"kenapa tidak disini saja om?".
Ica berusaha menolak dengan halus ajakan Hariyanto yang ingin mengajaknya menaiki mobil sedan hitam yang terparkir tak jauh dari keduanya berdiri saat ini. Ketika dia sedang dilanda rasa bingung dan cemas karena Hariyanto sudah terlebih dahulu menarik pergelangan tangannya itu, suara yang sangat dikenal oleh Ica dan sangat diharapkan kedatangannya saat ini memanggil namanya.
"Ica, sayang mau kemana?"
__ADS_1
Sontak kedua orang yang saling bertautan tangan itu menoleh ke arah Allard, Allard memasang senyum manis terbaik miliknya tetapi diakhir senyumanya dia menunjukkan tatapan bengis dan tajam pada Hariyanto,
"All, aku ... om Har mau mengajak ku berbicara".
Ica seketika merasa lega saat ini, dia kemudian berusaha melepaskan cengkraman tangan Hariyanto yang entah sejak kapan berubah menjadi cengkraman kuat, padahal tadi awalnya hanya berupa ajakan dengan sedikit tarikan.
"benarkah, baik lah kalau begitu mari kita bicara bertiga, bagaimana kabar mu, Hariyanto?".
Allard memanggil Hariyanto langsung tanpa embel-embel om didepannya, rasa hormatnya sudah tidak tersisa saat ini. Bahkan dia terlihat mengepalkan tangannya dengan kuat melihat tangan Ica di cengkram dengan kuat dan meninggalkan warna merah dipergelangan tangan sang istri.
Dengan berat hati, Hariyanto melepaskan cengkraman tangannya pada pergelangan tangan sang keponakan, dengan mengulas senyum terbaiknya.
"kabar ku baik, kau disini rupanya Allard?".
Tanpa menanyakan kabar Allard, Hariyanto menjawabnya dengan sedikit marah, Allard sedikit terkekeh melihat ekspresi wajah Hariyanto saat ini, yang terlihat kesal dan kecewa.
"ya, apa kau tak melihat dua foodtruck itu, sengaja ku pesan untuk memberi kejutan untuk istri dan rekan kerjanya, jadi mari kita nikmati hidangannya bersama yang lain, karena waktu istirahat hanya tersisa tiga puluh menit lagi".
"y-ya, baiklah jika kalian ingin menikmati makan siang dulu, om akan menunggu mu pulang kerja nanti, ada sesuatu yang ingin om katakan padamu Tica".
Hariyanto memilih tak mau bergabung dengan Ica dan Allard, dia saat ini sedang menahan marahnya karena rencananya kembali digagalkan oleh Allard.
Ica yang sudah lebih tenang saat ini, mencoba bersandiwara sebaik mungkin dihadapan paman yang berhati busuk itu.
" om akan mengganggu waktu istirahat mu yang tinggal sedikit itu kalau ikut bergabung dengan mu, tak apa, om masih punya banyak waktu menunggu mu Tica".
Hariyanto menjawab dengan senyuman dibibirnya, tetapi matanya terlihat mengintimidasi seperti orang psikopat yang justru menatap tajam.
Allard segera meraih bahu sang istri dan mengajaknya mendekat ke arah foodtruck, Allard berfikir keras, alasan apa yang bisa digunakannya nanti jika harus menunggui istrinya yang sedang dalam ancaman berbahaya sang paman.
Tetapi Allard berusaha bersikap biasa didepan sang istri, dia tidak ingin Ica juga menjadi ketakutan sekarang, setelah peristiwa sebelas hari yang lalu.
..................
Hariyanto menendang tong sampah yang berada ditepi jalan hingga isinya berhamburan keluar. Dia merasa marah, karena lagi-lagi rencananya gagal, dia harus membuat Allard sibuk terlebih dahulu, atau dia harus membunuh keduanya sekaligus saat ini juga.
Dia terus mengumpat sembari menendang apa pun yang ada disekitar jalanan umum itu. Dia tak lagi merasa malu ketika semua orang melihat kearahnya dengan tatapan mata heran.
__ADS_1
Setelah Ica dan Allard selesai menyantap makan siang yang justru terasa hambar itu keduanya berpisah, Allard akan menjemput Ica nanti sepulang kerja, dia berpesan pada Ica jangan menemui Hariyanto lagi. Apa pun alasannya, dan Ica menyetujui hal itu.
Allard kembali ke secret hotel dengan perasaaan kacau, semua pikiran buruk berkecamuk dalam pikirannya. Bagaimana jika Hariyanto nekat mencelakai sang istri di kantor KBRI. Allard menempatkan Leo untuk berjaga dengan lima orang bodyguard terbaiknya. Sementara Darius mengikuti kemanapun Hariyanto pergi dengan jarak aman.
................
Tepat waktu pulang kerja, Allard berusaha secepat mungkin menuju kantor KBRI, tetapi ternyata ditengah perjalanan terjadi kemacetan panjang karena ada kecelakaan lalu lintas, Sementara Darius melaporkan jika saat ini Hariyanto sudah bergerak menuju kantor KBRI, dan sudah sampai di tempat Ica bekerja.
Sementara Ica saat ini sudah keluar dari kantor KBRI dan dia celingukan saat tak mendapati Leo disekitar kantornya.
"kemana perginya Leo saat ini".
Tanpa diduga, dari arah belakang, kedua bahunya di cengkram kuat oleh dua tangan besar dan terus mendorongnya kearah sedan hitam yang tadi digunakan oleh Hariyanto.
Ica tak berani berkutik karena saat ini tangan kiri irang yang mendorongnya telah berada dibalik punggungnya seraya menancapkan pisau lipat, yang saat ini terasa semakin menusuk dipunggung sebelah kirinya.
Ica hanya bisa terus berjalan patuh dengan sedikit ringisan dan kernyitan di keningnya, kala pisau lipat kecil itu telah berhasil menembus baju serta long cardigan yang dikenakannya, dan merobek kulitnya.
Ica dipaksa dan di didorong masuk mobil sedan selanjutnya tasnya diambil paksa, matanya ditutup dan mobil melaju dengan kecepatan tinggi menuju arah pinggiran kota Seoul.
........
Leo yang melihat mobil sedan hitam telah meluncur dengan kecepatan tinggi itu tersenyum tipis, dan dia segera mengirimkan pesan pada sang tuan.
Allard yang khawatir karena Leo mengabarkan tentang kondisi terkini pun Langsung berusaha mencari jalan tercepat, beruntung kemacetan sudah berakhir, secepat yang David bisa, dia mencoba mencari sinyal GPS ponsel Istrinya, yang menuju arah laut, tetapi setelah itu GPS ponsel Ica mati.
"f*ck".
"kecepatan penuh Dav, istri ku dalam bahaya".
"baik tuan".
.......................................
Hay.... selamat malam,,,, maafkan author mu karena telat Up, baru sempet ngerampungin bab ini.. tapi insyaallah tiap hari ttp Up kok..
Jan lupa ksih bonus Vote ya ini hari senin ada vote gretongan πππ
__ADS_1
jan lupa like n comen juga biar smangat ini ngetiknya,, pembaca ku menurun... πππ
tapi makasih buat kalian yang udah setia nungguin Up novel ku ππβΊβΊπππππππ