
Dengan rasa lelah dan perih Tica menaiki anak tangga, tak lagi menghiraukan apa yang terjadi dilantai satu, segera masuk ke kamar dan membersihkan diri, meminum obatnya melupakan makan malamnya kali ini, karena kepalanya sudah terasa sangat berdenyut, dia memilih tidur setelah membersihkan lukanya dan mengganti perbannya lagi.
Karena efek obat dan rasa lelah Tica segera memejamkan matanya, berusaha melupakan rasa sakit dengan cara tidur.
............
Pagi hari ini seperti biasa dia berangkat kerja, kakinya sudah membaik setelah dia mendapatkan obat dan salep dari dokter Harry yang berkunjung pagi harinya setelah malam itu.
Tiga hari sudah berlalu, hari-hari yang dijalaninya di mansion masih seperti biasa, kecuali makan malam yang sudah dua malam terakhir ini dia makan bersama Allard, keduanya serasa ingin berdamai dengan keadaan, dan karena memang 2 hari ini dia tidak melihat ada wanita lain yang dibawa pulang oleh suaminya.
Pagi ini dia berusaha membuatkan lagi sarapan untuk suaminya itu, karena bagaimana pun juga statusnya adalah seorang istri, meskipun tak pernah di anggap oleh Allard.
"morning"
Sapa Allard yang berjalan mendekati Pantry dan duduk di kursi yang telah tersedia dengan menu yang dibuatkan oleh istrinya.
Tica hanya membalas dengan anggukan dan sedikit senyuman, karena merasa canggung dengan sapaan yang jarang dilakukan Allard kepadanya.
"duduklah, aku ingin sarapan berdua, dan bukan kah kau yang selalu membuatkan sarapan untuk ku sebelum kaki mu sakit?".
Lagi-lagi Tica terperangah dengan sikap Allard pagi ini, ia mengurungkan niatnya untuk memasukkan bekal sarapannya kedalam kotak bekal yang telah tersedia, dia juga tidak melihat adanya wanita yang malam ini menginap di mansion.
"kopi buatan mu sangat enak dan terasa pas, aku menyukainya, bisakah tolong buatkan aku kopi setiap hari?".
Sambil mengunyah sandwich yang disiapkan oleh Tica, Allard terus saja memandang Tica dengan tatapan yang membuat Tica salah tingkah.
"baiklah, aku usahakan akan membuatkan kopi untuk mu setiap pagi".
Jawab Tica sambil menunduk dan menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
"jangan lupakan sarapannya juga, aku menyukai masakan mu".
Dan lagi, Tica hanya mengangguk dan menyeruput kopinya. Ntah kenapa tiba-tiba makanan ini sulit ditelan. Berusaha bersikap seperti biasa pun ternyata sulit dilakukan.
"mau berangkat bersama?"
Tica mendongak dan mendapati Allard yang sedang memandangnya. Tica menggeleng pelan.
"tidak, berangkatlah terlebih dahulu, kantor mu lebih jauh dari pada KBRI".
"baiklah, aku berangkat dulu".
Allard mengambil HP nya dan kemudian melangkah, tetapi baru tiga langkah dia membalikkan badannya lagi.
"sepertinya aku melupakan sesuatu".
Tica menoleh saat Allard menghentikan langkahnya .
"apa? ".
Cup.
Allard mendaratkan kecupan manis di keningnya, sembari mengelus puncak kepala Tica dengan sayang.
Tica terdiam dengan mata melebar tak berkedip, dan mulutnya sedikit terbuka, tanpa dia tau ekspresinya itu terlihat menggemaskan dimata Alllard, melihat mulutnya yang terbuka ia malah mempunyai niat jahil,
Cup.
__ADS_1
Lagi, dia mengecup sekilas bibir Tica yang sedikit terbuka itu.
"kau terlihat menggemaskan jika sedang terkejut, bernafaslah".
Setelah mengatakan itu, Allard kembali melenggangkan kakinya menuju pintu utama mansion dengan senyum yang mengembang diwajahnya, menuruni anak tangga yang terasa sangat ringan kali ini, untuk cepat sampai ke mobilnya.
Tica yang kemudian tersadar langsung mengusap bibirnya yang dengan wajah memerah dan bibir cemberut,
"ahhh.... Allard sialan beraninya dia melakukan itu".
Nafsu makannya pun seketika menguar ntah kemana, dia merasa kenyang meskipun sandwichnya masih separuh. Memilih memakai tas dan segera berangkat ke KBRI diantar oleh Leo.
................
Tica masih mengetik di komputernya saat teleponnya berdering, sudah sore, hari ini dia tidak memiliki job kerja sebagai negosiator dan kuliahnya juga sedang libur karena dosennya sedang pergi keluar negri.
Tica mengangkat telepon yang terus saja berbunyi itu.
"iya dengan saya sendiri"
Jawab Tica.
"ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda, namanya Hafidz, dari Indonesia"
ternyata telepon itu dari resepsionis yang berada dilobi bawah gedung KBRI, yang mengatakan jika Hafid ingin menemuinya.
"baiklah, suruh dia menunggu sebentar lagi saya selesai kerja".
"baik mb".
"Tica, bagaimana kabar mu dek".
Dengan pandangan haru, Hafidz melangkah mendekati Tica,
"alhamdulillah baik kak, kakak sendiri gimana kabarnya".
"alhamdulillah baik juga, kamu kelihatan keren dengan baju seperti ini dek".
Ucap Hafidz dengan pandangan berbinar melihat Tica yang memang terlihat anggun dan berwibawa.
"ah kakak bisa aja, loh,, mana mb Bila? ga ikut? bukannya kalian kemari untuk berbulan madu?".
Hafidz tertawa mendengar pertanyaan Tica,
"ga dek, kakak kesini buat seminar kedokteran spesialis anak, kebetulan kakak disini sudah dua hari ini, iseng aja pingin ngunjungi kamu, kan nyarinya mudah di sini"
"oohhh gitu, kirain mau bulan madu, kakak nginap di hotel mana".
"di Secret Hotel, deket kok dari sini 30 menit aja"
"oh, di secret hotel ternyata, ya udah mampir ke mansion sekalian yuk".
"boleh kah?, takutnya suami mu ga ngizinin"
"boleh kak, santai aja, ya udah ayuk, itu mobilnya"
Tica menunjukkan mobil BMW yang setiap hari dinaikinya. Tica mempersilahkan Hafidz duduk didepan dan dia sendiri duduk dibelakang, setelah sebelumnya mengenalkannya pada Leo sang supir sekaligus bodyguardnya.
__ADS_1
Sambil terus berbincang-bincang tentang semua hal yang ingin Hafidz tau, dia memastikan jika Tica disini baik-baik saja,
"Kakak pulang dua hari lagi dek, bingung mau kasih oleh-oleh apa sama Bila".
"oh, ya udah besok aku anterin cari oleh-oleh buat mb Bila ya kak".
"ga ngrepotin dek?".
" ya ga lah kak".
"izin dulu sama suami mu".
"iya, kak".
Diingatkan tentang Allard ia jadi tersenyum sendiri dengan pipi yang bersemu merah, teringat kejadian tadi pagi yang berhasil membuat jantungnya tidak normal.
..........
"ini, mansion kamu dek? Masyaallah mewah sekali",
" iya kak, mansion suami tepatnya".
Hafidz memandang takjub seluruh mansion Allard, pandangannya terus saja berkeliling melihat semuanya yang terlihat indah dan mewah.
Hafidz yakin jika Tica tak kekurangan suatu apa pun, dia merasa lega saat itu.
"ayo kak, masuk".
Hafidz yang masih sangat takjub dan kagum dengan kemewahan mansion Allard, hanya mengangguk saat Tica mengajaknya masuk.
Tica tidak langsung naik ke kamarnya lantai atas karena ingin menunjukkan kamar untuk Hafidz supaya bisa shalat magrib terlebih dahulu.
"kakak shalat dulu aja ya, dikamar itu".
Hafidz mengangguk, sebenarnya dia penasaran saat tidak melihat Allard, tapi mungkin belum pulang, maklumlah orang sibuk, Hafidz beranjak mengikuti Tica menuju kamar untuknya istirahat sebentar dan shalat.
Tica membuka salah satu kamar tamu yang berada dilantai satu yang sangat jarang dipakai Allard bermalam dengan para wanitanya.
"Astaghfirullah,...... "
Seketika Allard dan Tica beristighfar bersamaan dengan nada menjerit kala melihat adegan panas yang telah diperankan oleh Allard dan Vanesha, keduanya terlihat tengah bergelut indah menikmati sensasi yang diciptakannya sendiri dengan ******* dan erangan yang berbaur menjadi satu. Allard yang berada di atas Vanesha sontak terkejut dan menoleh, saat mendengar suara lain yang bukan berasal dari suara mereka berdua.
Saat itu juga, Tica merasa mual melihat pemandangan itu, air matanya tak lagi bisa dibendung, Dadanya terasa nyeri seperti dihantam batu, Tubuhnya meluruh kelantai dengan keadaan yang sangat menyedihkan.
.................
siang readers kuh..
panas nih ah nulis ini πππ€£π€£
g jago aku kalo nulis yang beginian ah ntah lah...
Pokoknya ditunggu Vote, like, n comen ya...
BTW alhamdulillah berkat support kalian semua Novel ini udah dikontrak NovelToon..
makasih bgt βΊβΊβΊβΊππππ
__ADS_1