MAHABBAH CINTA SANG MANTAN

MAHABBAH CINTA SANG MANTAN
Mahabbah Cinta Sang Mantan ~ 10


__ADS_3

Semangat Aruna kembali normal setelah pertemuan tak disengajanya dengan sahabatnya. Ia kembali menekuni pekerjaannya agar selesai dengan segera dan bisa pulang. Walaupun setiap detik menunggu kabar dari perusahaan PT. Wijaya Group namun Aruna selalu bertanggung jawab pada pekerjaannya. Jika ia benar-benar meninggalkan perusahaan PT. Glo_Tech maka ia tak ingin ada pekerjaan yang belum selesai.


Tak lama kemudian Arion pun datang dan langsung masuk ke dalam ruang kerjanya, sambil membanting pintu ruangannya. Membuat Aruna kaget setengah mati. Suasana lantai lima yang tadinya sunyi tiba-tiba pintu tertutup dengan kerasnya.


Braaaakkk.


"Astagafirullah. " Aruna mengusap da**nya agar jantungnya kembali normal. Beruntung jantungnya sangat sehat.


Arion tak dapat menahan kemarahannya mendengar penuturan Aruna. Ia tak suka jika Aruna memiliki seseorang yang hanya membicarakannya sudah membuatnya bahagia.


"Melishaaa ,,," Arion berteriak sekeras-kerasnya, padahal meskipun tak mengeluarkan tenaga penuh, Aruna pasti akan mendengarnya.


"Ya pak ,,, ada yang bapak butuhkan ?" Aruna segera masuk ke dalam ruangan Arion sebelum bosnya itu berteriak yang kedua kalinya.


"Mengapa kamu menggunakan nama Melisha ? Apa kamu ingin bersembunyi dariku ?" Sarkas Arion menatap tajam manik mata Aruna.


"Untuk apa bersembunyi pak ? Aruna Melisha adalah namaku jadi terserah aku mau memakai yang mana. Hanya saja Aruna bagiku sudah tak ada lagi untuk orang asing. Pqnggilan Aruna hanya berlaku untuk nenekku saja." Balas Aruna datar dan tanpa emosi.


"Tapi bagiku kamu tetaplah Aruna tunanganku. "


"Maaf pak, mantan tunangan lebih tepatnya. Dan mantan itu memiliki arti selesai dan hanya masa lalu yang tak ada gunanya untuk diingat ataupun dikenang. Meskipun masa sekarang tak akan pernah ada jika tak ada masa lalu. " Arion diam-diam bergidik ngeri mendengar suara dingin Aruna.


Sebelumnya Arion hanya pernah bertemu dengan Aruna sebelum orang tua mereka meninggal. Saat itu Aruna masih terlihat cantik dan kemudian ketika kakek Ramdhan memperlihatkan foto Aruna yang dekil sebagai tunangannya. Arion tak menolak karena ia percaya pilihan kakeknya pastilah yang terbaik buatnya.


Aruna memilih keluar dari ruangan Arion sebelum keadaan semakin memanas. Sungguh Aruna tak ingin mengingat lagi peristiwa itu. Baginya semua sudah selesai dan ia pun sudah memiliki Kevin yang sangat mencintainya.


"Bos kenapa ?" Tanya Restu yang berpapasan dengannya. Aruna hanya mengedikkan bahunya tak ingin membahas lebih lanjut.


Aruna memilih kembali fokus pada pekerjaannya yang sempat tertunda. Hanya beberapa menit setelah ia menarik napas panjang, konsentrasi Aruna telah kembali seperti sediakala.

__ADS_1


Saking seriusnya menekuni pekerjaannya, Aruna tak mendengar langkah kaki seseorang mendekatinya hingga orang tersebut memukul meja dengan kasar seraya menatap tajam pada Aruna.


Braaakkk


"Dasar sekretaris tak tahu aturan !! Ada tamu tapi tak disambut !" Seorang wanita tiba-tiba datang dan menggebrak meja kerjanya sehingga membuat mata bening Aruna membola saat melihat wajahnya.


Masih jelas dalam ingatan Aruna bahkan ia masih menyimpan foto mereka yang dikirimkan oleh Arion enam tahun lalu. Foto diatas tempat tidur dengan selimut sebagai penghalang tubuhnya bersama wanita yang kini berdiri di depannya. Semua orang mengerti apa yang terjadi dengan pemandangan seperti itu. Aruna berusaha bersikap normal, toh wanita ini tak mengenalnya.


"Maaf mbak, saya terlalu serius bekerja. " Balas Aruna sopan. Ia menggunakan kata saya karena mereka tidak saling mengenal dan terdengar lebih formal.


Aruna tak ingin dituduh tak sopan. Sudah cukup Arion seorang yang selalu mengajaknya bertengkar, Aruna capek dengan semua itu. Jangan lagi ada yang lain. Betul kata orang-orang jika pasangan seseorang adalah cerminan dirinya. Inilah yang terjadi pada Arion dan kekasihnya.


"Lain kali kalau kamu melihatku, kamu harus berdiri menyambutku. Dan perlu kamu ketahui jika saya adalah calon istri direktur. Jadi jikalau ada perasaan aneh-anehmu pada Arion, maka segera singkatan rasa itu. " Ucap gadis yang belum Aruna ketahui namanya.


Dalam hati Aruna sedikit penasaran, enam tahun yang lalu Arion bersama wanita ini tapi hingga sekarang mereka masih berstatus pasangan kekasih ? Bukankah hubungan mereka sudah sangat dekat bahkan sudah tidur bersama ? Aruna menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba mengusir pikirannya yang tiba-tiba dipenuhi rasa penasaran. Maklum wanita pada umumnya memang seringkali penasaran.


"Maaf mbak, jangan khawatir soal itu, sampai kapanpun saya gak akan pernah mencintai pasangan orang. " Balas Aruna tersenyum manis.


"Bagus, lagipula sepertinya kamu bukanlah selera Arion. Penampilanmu terlalu biasa sebagai seorang sekretaris. " Sinisnya.


"Oh ya, namaku Aletta. Ingat baik-baik karena saya tak akan mengulang lagi. " Lanjut Aletta memperkenalkqn diri tanpa dengan sombongnya sambil menatap Aruna masih dengan tatapan sinisnya.


Aruna tak dapat lagi menahan emosinya. Walaupun caranya membalas terdengar halus dan disertai senyuman semanis madu tapi percayalah jika orang tersebut bisa menggunakan otaknya maka ia akan sangat tersinggung.


"Jangan terkecoh dengan penampilan luar seseorang, mbak. Bagaimanapun cara berpakaian seseorang yang paling penting adalah attitudenya. Sebagai orang timur hal itu harus kita pelihara karena merupakan ciri khas yang terkenal hingga ke mancanegara. " Aruna menampilkan wajah polosnya dan senyuman manisnya seolah tak menyinggung wanita direkturnya.


"Ck, kamu terlalu pandai berbicara. " Aletta membalikkan badannya kemudian melangkah menuju ruangan direktur, kekasihnya.


Ceklek.

__ADS_1


"Hai sayang ,,," Sapa Aletta terdengar manja.


"Ada apa kamu kemari ?" Balas Arion dengan mata masih menatap laptop di depannya.


"Aku merindukanmu, sayang." Ucap Aletta tak memperdulikan kehadiran Restu. Ia bergerak ingin mendekati meja kerja Arion.


"Duduk di sana aja, Aletta. Jangan menggangguku, pekerjaan masih banyak menumpuk. "


"Itulah gunanya sekretaris dan asisten, sayang. Jangan terlalu memanjakan mereka. "


"Tolong berhentilah berbicara yang unfaedah. Mereka juga banyak pekerjaan. " Arion masih berusaha bersabar menimpali setiap ucapan kekasih yang tak pernah direktur oleh sang kakek. Hingga Arion lelah meminta restu.


Aletta mendengus kasar kemudian duduk tak jauh dari Restu. Pakaiannya yang kurang bahan membuat Restu risih duduk berhadapan dengan wanita itu. Wajahnya memang cantik, bodynya bagus dan merupakan idaman setiap pria namun baju yang dikenakannya yang terlalu terbuka memberikan kesan seorang ja**ng. Restu pindah duduk di depan meja Arion.


"Kenapa kamu pindah?" Arion mengerutkan dahinya.


"Seharusnya bos yang duduk disana, aku risih dengan baju Aletta yang jauh dari kata sopan." Bisik Restu pelan agar Aletta tak mendengarnya.


"Kamu bernafsu ?" Tuduh Arion tak berperasaan.


"Ck, enak aja. Aku justru menyukai wanita yang berpakaian sopan seperti Melisha. " Restu terkekeh dengan ucapannya sendiri. Mendengar hal itu Arion menatap tajam sahabatnya sekaligus asistennya.


Restu hanya menaik turunkan alisnya menggoda Arion. Sebagai seorang asisten sekaligus sahabat, Restu sangat paham jika bosnya itu memiliki rasa yang tak biasa pada sekretarisnya.


🌺🌺🌺🌺


HAI READERS SELAMAT BERAKHIR PEKAN


OTHOR USAHAKAN UP 2 BAB SETIAP HARI

__ADS_1


OLEHNYA ITU JANGAN LUPA DUKUNGANNYA


__ADS_2