MAHABBAH CINTA SANG MANTAN

MAHABBAH CINTA SANG MANTAN
Mahabbah Cinta Sang Mantan ~ 75


__ADS_3

Arista dan kakek Ramdhan serta Restu berlarian menuju ruang perawatan nenek Sarah. Mereka menerima telepon bertepatan saat Restu sedang memarkir mobilnya di parkiran rumah sakit Healthy Care.


Ruang perawatan nenek Sarah mendadak ramai, beberapa suster membantu dokter Sandy yang sedang sibuk menolong nenek Sarah yang kondisinya mendadak kritis.


"Sabar, Yang ,,, nenek akan baik-baik saja." Ucap Arion menopang tubuh Aruna yang lemah tak bertenaga.


Mata nenek Sarah terbuka menatap kakek Ramdhan. Melihat sorot mata istri sahabatnya, kakek Ramdhan mendekat.


"R ,,, Ram ,, titip Aruna. A ,,, aku ,,, su ,,, sudah ,,,t ,,, tak ,,, ku ,,,at la ,,,gi" Ucap nenek Sarah terbata-bata dengan napas berat.


"Nek ,,, jangan ngomong seperti itu. Nenek harus sembuh ,,, hiks ,,, hiks." Aruna melepaskan pelukan Arion dan bersimpuh disisi sang nenek.


Nenek Sarah tak bisa lagi berbicara, ia hanya menatap Aruna kemudian beralih pada Arion yang berdiri di belakang Aruna. Mata nenek Sarah seperti ingin mengatakan sesuatu namun napasnya tiba-tiba berhenti dengan kepala terkulai.

__ADS_1


Alat monitor hemodinamik dan saturasi, terletak di dekat nenek Sarah yang bertujuan untuk mengetahui antara lain : Gelombang denyut jantung, tekanan darah, oksigen yang diserap tubuh, temperatur, frekuensi pernapasan, tiba-tiba mengeluarkan bunyi panjang dan layarnya menampilkan garis lurus. Semua mata menatap monitor tersebut.


"Maaf, kami sudah berusaha namun Yang Maha Kuasa berkehendak lain." Ucap dokter Sandy hampir tak terdengar.


"Nek ,,, nenek ,,, ayo bangun nek, jangan tinggalkan Runa sendiri." Aruna mengguncang bahu sang nenek dengan airmata berlinang.


Suara tangisan Aruna terdengar sangat menyayat hati. Arion tak kuasa mendengarnya, rasa nyeri memenuhi rongga dadanya mendengar tangisan pilu sang mantan ìstri, ia mendekati dan membawa Aruna ke dalam pelukannya yang hangat. Keduanya melupakan hubungan yang pernah terjadi diantara mereka.


Restu segera mengurus kepulangan jenazah nenek Sarah. Masih jelas dalam ingatan Aruna semua nasehat sang nenek, rupanya beliau mengetahui jika hidupnya di dunia ini tak lama lagi sehingga setiap hari sejak Aruna tiba di tanah air dengan sabar selalu memberinya nasehat tentang berbagai hal walaupun terkadang otak Aruna tak bisa menerimanya.


Setelah urusan dengan rumah sakit selesai, jenazah nenek Sarah dipulangkan dengan menggunakan ambulance. Aruna ikut serta dalam ambulance tersebut begitupula dengan Arion yang tak membiarkan Aruna hanya bersama bi Ina. Sedangkan Arista memakai mobil Arion sementara Restu dan kakek Ramdhan tetap menggunakan mobil mereka.


Iring-iringan mobil jenazah akhirnya memasuki halaman rumah milik nenek Sarah yang kini telah dipenuhi oleh para tetangga. Jenazah nenek Sarah perlahan diturunkan dari ambulance dan dibawa ke ruang tamu.

__ADS_1


Rencana pemakamannya akan dilaksanakan setelah shalat ashar sambil menunggu keluarga dari luar kota.


"Yang, boleh mas memanggil pak Kiyai Izham Khaliq untuk memimpin sholat jenazah ?" Bagaimanapun sedihnya Aruna namun Arion tetap harus meminta ijin pada gadis itu agar tak menimbulkan kesalahpahaman diantara mereka berdua.


"Lakukan saja yang menurut kakak baik." Balas Aruna pelan.


Aruna hanya pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh Arion. Lagipula ia pun mengenal baik sosok Kiyai Izham Khaliq. Dulu saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, nenek Sarah kerap kali membawanya ke pesantren beliau bahkan saat liburan sekolah Aruna dibawa ke pesantren pak Kyai untuk belajar ilmu agama.


🌺🌺🌺🌺


SELAMAT PAGI READERS


TERIMA KASIH ATAS DUKUNGANNYA

__ADS_1


__ADS_2