MAHABBAH CINTA SANG MANTAN

MAHABBAH CINTA SANG MANTAN
Mahabbah Cinta Sang Mantan ~ 9


__ADS_3

Sebelum burung-burung berkicau dengan suara merdunya menyambut mentari pagi, Aruna terlebih bangun dan langsung mandi. Ia tak ingin terlambat ke kantor agar tak bersinggungan dengan direkturnya. Hingga detik ini Aruna belum bisa memahami keinginan direkturnya itu, ia selalu saja salah dan berakhir dengan pertengkaran.


Aruna duduk di depan cermin kebesarannya. Ia tersenyum menatap bayangan dirinya. Hari ini ia harus menyiapkan mental untuk menghadapi direkturnya. Berbeda dengan karyawan lainnya yang memakai baju yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Aruna lebih memilih tampil dengan balutan celana panjang di padukan dengan hem lengan panjang terkesan sangat sederhana namun tetap terlihat cantik. Rambut hitamnya ia curly dengan polesan make up tipis sehingga tampak lebih fresh dan anggun.


“Sarapan dulu, sayang ,,,” Nenek Sarah ternyata sudah menunggu Aruna di meja makan.


Nenek Sarah tak pernah melewatkan sarapan bersama Aruna. Ia teramat menyayangi cucu satu-satunya yang ia miliki. Nenek Sarah hanya memiliki seorang putri yaitu mama Aruna. Dan kerabat yang lain berada di kota lain.


“Tentu nek, hari ini aku harus makan banyak agar kuat menerima kemarahan direkturku.” Aruna menyantap sarapan paginya dengan nikmat. Sengaja ia bangun pagi-pagi agar memiliki waktu yang cukup bersama sang nenek sebelum berangkat kerja.


“Kapan mempertemukan nenek dengan calon suamimu sayang ?” Nenek Sarah mulai memancing Aruna. Padahal sesungguhnya ia sangat mengharapkan agar Arion dan Aruna melanjutkan hubungan yang pernah terputus. Nenek Sarah yakin ada alasan dibalik putusnya pertunangan mereka.


“Sabar nek, semua akan terjadi jika saatnya telah tiba. Lagi pula Runa masih muda.”


Ya kali Aruna buru-buru menikah dengan orang yang belum bisa meyakinkannya. Walaupun mereka sudah saling mengenal namun Khalik belum pernah sekalipun mengenalkan Aruna dengan keluarganya. Khalik adalah pria campuran Indonesia dan Timur Tengah. Mereka menempuh pendidikan di kampus yang sama dan sering bertemu di perpustakaan hingga akhirnya keduanya berkomitmen sebagai sepasang kekasih.


“Nenek gak bosan setiap hari tinggal di rumah ?”


“Sudah biasa sayang, lagian ada bi Ina dan pak Danang. “


Kini cucu dan nenek itu sedang duduk di ruang keluarga menunggu jam 06.30. Aruna berangkat ke kantor jam segitu agar tidak terlalu lama nongkrong tak jelas sebelum jam kerja.


“Runa berangkat, nek ,,, assalamualaikum. “ Aruna mencium punggung tangan nenek kesayangannya sebelum melenggang keluar rumah.


Rumah minimalis namun terasa nyaman. Hubungannya dengan para tetangga pun sangat baik sehingga Aruna merasa aman meninggalkan nenek Sarah.


“Hati-hati di jalan, sayang. “ Teriak nenek Sarah dan hanya dibatasi dengan menautkan jari telunjuk dan jempolnya mengisyaratkan kata OK.

__ADS_1


Aruna kemudian menginjak gas mobilnya perlahan meninggalkan halaman rumah menuju jalan raya. Dengan santai Aruna menjalankan mobilnya, jalan raya belum ada tanda-tanda akan memakai kemacetan. Lagipula ia memilih melewati jalan tikus sehingga jarak antara rumah dan kantor tak terlalu jauh.


Perjalanan Aruna berakhir dengan memasuki gerbang perusahaan. Ia kemudian memarkir mobilnya di tempat biasanya. Dengan langkah anggun ia memasuki lobby perusahaan dan memasuki lift khusus karyawan. Aruna tak menyadari jika dibelakangnya Arion sedang berjalan bersama Restu.


Tiba di lantai 5, Aruna segera melakukan tugasnya. Menyiapkan air mineral kemasan dan kopi serta cemilan untuk bosnya. Setelah itu ia kemudian memulai pekerjaannya.


“Bawa semua berkas yang belum di tanda tangani. “ Titah Arion sambil terus berjalan.


Dengan lincahnya Aruna segera membawa berkas yang diminta oleh bosnya itu. Perlahan ia meletakkan tumpukan map yang sudah ia susun dengan rapi.


“Permisi pak.” Pamit Aruna sopan sebelum keluar dari ruangan direktur.


“Penampilanmu sangat kampungan. Mataku sakit jika setiap hari harus melihatmu dengan gaya seperti itu. Katanya lulusan Inggris tapi cara berpakaiannya kayak orang udik. “ sinis Arion sepedas cabe level 100.


Ingin rasanya Aruna mencakar wajah pria di depannya jika tak takut terjerat hukum. Aruna menggeram halus menahan emosi dalam da**nya.


“Daripada mata bapak sakit, ya jangan dilihatlah. Gampang kan?” Balas Aruna terlihat santai padahal hatinya sudah memanas.


Astaga pria arogan ini selalu saja mengibarkan bendera perang. Sungguh Aruna tidak ingin memamerkan auratnya. Walaupun ia tidak memakai hijab namun cara berpakaiannya selalu tertutup. Aruna sangat anti memamerkan lekuk tubuhnya yang sempurna. Tapi kini pria gila ini menyuruhnya memakai pakaian seperti sekretaris pada umumnya. Apa ia memiliki maksud lain ? Wajar saja jika Aruna berpikiran negatif.


“Lebih baik bapak cari Sekretaris baru dan tempatkan aku di bagian yang mana saja asal jangan tukang bersih-bersih.“


“No way. Kamu akan tetap jadi sekretarisku. Dan besok pakai pakaian yang enak dipandang. “


Aruna melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan direktur. Ia tak ingin meladeni pria itu. Bertengkar dengannya tak akan pernah selesai sementara pekerjaannya masih menumpuk.


Dalam hati Aruna bersyukur, pria itu tak menyinggung masalah foto itu. Semoga saja masalah foto itu tidak berbuntut panjang.

__ADS_1


Melihat Aruna kesal membuat Arion tersenyum tipis. Ia akan selalu mengganggu Aruna agar mereka bisa lebih dekat. Semalaman ia tak bisa tidur memikirkan mantan tunangannya yang ternyata sangat cantik. Duluan Arion memutuskan pertunangan mereka secara sepihak bahkan tanpa sepengetahuan sang kakek karena tak terima harus menikahi gadis dekil yang juga hanyalah cucu angkat dari nenek Sarah.


Kurang tiga menit jam istirahat siang. Aruna terlebih dahulu ngasih ke kantin. Ia sangat kelaparan setelah bertengkar dengan bos gilanya. Melihat Aruna sudah menghilang dari mejanya membuat Arion murka namun tak dapat berbuat banyak.


“Runrun ,,,” Teriakan seseorang menghentikan langkah Aruna. Sudah lama ia tak mendengar panggilan itu. Aruna segera mencari sumber suara. Hanya satu orang di dunia ini yang memanggilnya seperti itu.


“Dunia ternyata sangat sempit, sejak kapan penyedap rasa bekerja di sini ?” Balas Aruna tersenyum lebar.


Hanya Syasya seorang yang mengetahui wajah asli Aruna. Sahabat yang sejak kecil hingga terpisah oleh jarak yang selalu ada untuknya. Bahkan saat Aruna di Inggris pun mereka tak pernah putus komunikasi.


Keduanya tertawa terpingkal-pingkal sesaat setelah saling menyapa. Kedua wanita muda itu bergandengan tangan menuju kantin yang disediakan oleh perusahaan. Setelah mengambil makanan Aruna dan Syasya menempati meja yang terletak di pojok kantin agar mereka bebas berbicara tanpa mengganggu yang lain. Saat kedua sahabat itu bertemu maka yang terjadi adalah cerita yang tak jelas awal dan akhirnya.


“Gimana ceritanya tiba-tiba kamu muncul dengan wajah aslimu ? Apa kamu sudah bosan dekil ?” Syasya terkikik geli mengingat bagaimana dekilnya sahabatnya di masa lalu.


Lagian nenek Sarah ada-ada aja idenya. Hanya karena takut kehilangan cucu satu-satunya bahkan rela menyebarkan rumor jika Aruna hanyalah cucu angkat karena cucu yang sebenarnya sudah meninggal. Jadilah Aruna selalu di bully bahkan dituduh tak memiliki asal usul yang jelas sehingga nyonya Sarah menggunakan nama cucunya sebagai namanya.


“Aku ke luar negeri sekolah sekalian menghilangkan dekilku dan yang paling penting disana aku menemukan pacar.”


“Seriusan ?”


“Dua riusan malah.” Aruna terkekeh melihat ekspresi takjub sahabatnya.


Aruna sengaja mengatakan hal itu karena ekor matanya menangkap bayangan Arion yang duduk tak jauh dari mejanya. Pantas saja semua karyawan makan dengan tenang kecuali dirinya dan si penyedap rasa yaitu Syasya.


🌺🌺🌺🌺


HAI ,,, HAI ,,, MULAI SERU NIH CERITANYA

__ADS_1


JANGAN LUPA DUKUNGANNYA


SALAM MANIS DARI DUNIA HALU


__ADS_2