
Tak ingin membuang-buang waktu, Arion kemudian memulai siasatnya agar bisa menemukan bukti penipuan yang dilakukan oleh Maretha. Putra pun turut serta membantu sahabatnya. Putra membantu Arion bukan sebagai seorang abdi negara akan tetapi ia hanya menggunakan sedikit trik dari instansinya.
Tak sulit bagi Arion untuk menemukan tempat tinggal Maretha. Wanita itu tinggal seorang diri di sebuah apartemen sederhana sehingga memudahkan Arion dan Putra memasang CCTV. Agar mereka lebih mudah untuk memantau pergerakan Maretha, keduanya tinggal diflat kosong yang kebetulan bersebelahan dengan yang ditempati oleh wanita itu.
Arion meminta izin pada Aruna untuk melakukan perjalanan bisnis sedangkan Putra berkata dengan jujur pada sang istri. Arion tak pernah keluar dari flatnya sedangkan Putra tetap melakukan aktivitasnya seperti biasa.
"Sudah dua hari aku terkurung ditempat ini namun pergerakan wanita itu masih normal-normal aja." Keluh Arion menatap Putra yang baru saja pulang dari kantor.
"Makanya jadi laki-laki jangan suka celup sana celup sini ,,, gini kan akhirnya." Balas Putra santai.
Arion menatap tajam sahabatnya yang sedang membuka sepatunya. Putra bisa seenaknya berkata seperti itu karena dia tidak pernah mengalami stress seperti dirinya. Bahkan hampir setiap hari Arion harus menguras otaknya untuk memikirkan bagaimana agar perusahaannya semakin maju. Arion butuh penyegaran dan pilihannya ternyata salah dan berbuntut panjang.
"Aku butuh merefresh otakku agar gak stress."
"Tapi caramu salah, bro ,,, kalau sudah begini kan semua orang jadi susah, hidupmu gak tenang." Balas Putra apa adanya.
Saat keduanya sibuk berdebat, mata jeli Putra melihat seorang pria masuk ke dalam apartemen Maretha. Mendengar percakapan keduanya membuat Arion mengepalkan tangannya.
"Gimana urusanmu dengan Arion ?" Tanya sang pria seraya menge**p mera bibir Maretha.
"Beres, sisa tunggu waktu aja agar aku bisa masuk ke dalam rumah mewahnya." Balas Maretha tersenyum lebar.
"Apa dia gak curiga dengan kehamilanmu ?"
"Curiga gimana ? aku kan memang hamil tapi anakmu ,,," Maretha tertawa mengakhiri ucapannya.
Gigi Arion gemeretak mendengar kata-kata Maretha. Wanita laknat itu sudah menipunya, bahkan kini rumah tangganya berada diujung tanduk dan terancam hancur. Beruntung Rafael segera mengajari Restu soal tuntutan cerai Aruna.
"Kurasa bukti ini cukup untuk menyeret mereka ke kantor polisi." Geram Arion seraya berdiri.
__ADS_1
"Sabar dulu kenapa sih, kita dengar dulu rencana mereka. Aku yakin mereka memiliki motif lain." Putra menahan sahabatnya yang selalu terburu-buru jika sudah emosi seperti saat ini.
Arion kembali menghempaskan badannya di kursinya. Benar yang dikatakan Putra, biarkan pasangan penipu itu mengungkap semua rencananya agar ketahuan motif yang sebenarnya.
"Setelah Arion yakin jika anak yang kamu kandung adalah darah dagingnya maka kamu harus memanfaatkan kehamilanmu sesuai perintah Aletta." Pria itu mengusap lembut perut Maretha.
Emosi Arion semakin memuncak mendengar nama Aletta sebagai sutradara penipuan atas dirinya. Arion tak lagi mengindahkan ucapan Putra. Baginya sudah cukup semua bukti untuk melabrak Maretha dan kekasihnya. Ia sudah dua hari terjebak dalam ruangan sempit itu dan berpisah dengan wanitanya. Dengan kesal Putra mengikuti Arion yang bergerak cepat menghampiri flat Maretha. Beruntung Putra menempatkan beberapa anak buahnya untuk berjaga-jaga. Bagaimanapun Arion adalah orang penting yang bisa saja lawan bisnisnya memanfaatkan kesempatan.
Braaaakkk
Dengan kemarahan yang memuncak, Arion mendobrak pintu apartemen Maretha hanya dengan satu kali tendang. Arion yang menguasai bela diri tak gentar menghadapi musuh sekuat apapun. Nyalinya terlalu besar sehingga disegani oleh kawan maupun lawan. Arion tak pernah memberi ampun pada siapapun yang berbuat jahat padanya ataupun keluarganya.
Anak buah Putra segera meringkus pasangan tersebut. Putra kemudian menyita ponsel keduanya.
"Sayang, apa yang kamu lakukan ? Kasihan anak kita ,,," Maretha mencoba merayu Arion yang terlihat bengis.
"Sayang, semua ini salah paham." Maretha masih tetap berusaha meyakinkan Arion.
"Bawa wanita ja**ng ini keluar !!!"
Beberapa pria berpakaian sipil setengah menyeret Maretha dan kekasihnya keluar dari apartemen tersebut setelah Putra menganggukkan kepalanya. Wajah Arion masih memerah meskipun napasnya sudah mulai normal.
"Aku akan mengantarmu pulang dan membantumu menghadapi Aruna." Ucap Putra seraya mengirim pesan pada Restu.
"Kita harus membawa rekaman CCTV dulu agar Aruna semakin yakin. Tapi bagaimana dengan Aletta ? Dia harus bertanggung jawab atas semua ini. Aku gak bisa tenang sebelum memberinya pelajaran." Geram Arion.
"Biarkan kepolisian yang menanganinya, jangan mengotori tanganmu dengan pekerjaan seperti ini." Putra sangat mengenal sahabatnya yang terkenal ganas dan kejam pada lawannya.
Sebagai sahabat Putra tak ingin jika Arion terlibat perbuatan melanggar hukum. Ia tak akan bisa melindungi sahabatnya dari jeratan hukum jika pria itu benar-benar menyingkirkan Aletta dengan caranya.
__ADS_1
Setelah membereskan barang-barangnya, Arion dan Putra turun ke lantai dasar dimana mobil Putra terparkir. Arion sengaja tak membawa mobilnya agar Maretha tak mengetahui keberadaannya di apartemen tersebut.
Perlahan Putra menginjak gas mengarahkan mobilnya keluar dari area apartemen sederhana tersebut. Mobil yang disupiri oleh Putra kemudian bergabung dengan pengguna jalan yang lain menuju rumah pribadi Arion. Kemacetan di jalan raya yang tak dapat dihindari membuat mereka harus menghabiskan waktu lebih lama. Hingga dua jam kemudian barulah mereka bisa keluar dari zona macet khas ibukota.
Perlahan mobil mereka memasuki pintu gerbang perumahan elit dimana Arion dan Aruna selama ini tinggal. Putra menghentikan mobilnya di depan pintu pagar dan seorang security yang sedang bertugas membukakan pintu setelah Arion membuka kaca mobil sedikit.
"Selamat datang, pak ,,, pak Restu baru saja tiba." Sapa pak Alex sekaligus memberitahukan kedatangan Restu di rumahnya.
Putra kembali menginjak gas mobilnya dan mengarahkan kearah pintu pagar Arion. Setelah memasuki garasi yang luas itu, Arion dan Putra keluar dari mobil secara beriringan. Restu menyambut keduanya.
"Akhirnya kalian pulang juga." Ucap Restu tersenyum lebar.
"Ck, gak usah senyum kayak gitu, mataku sakit melihatnya." Arion justru mengomentari senyuman Restu.
Putra terkekeh mendengar ucapan Arion yang tak berperasaan. Sebaliknya Restu mengomel tanpa suara. Setiap bosnya itu terkena masalah selalu saja dirinya yang jadi korban. Nasib seorang asisten yang selalu jadi objek penderitaan.
Arion terus melangkah masuk ke dalam rumah diikuti kedua pria tampan yang berstatus sebagai sahabatnya. Aruna yang baru keluar kamar hanya menyapa Restu dan Putra, seolah Arion adalah makhluk tak kasat mata.
"Eh pak Restu dan mas Putra, maaf aku gak tahu kalau kalian datang. Mari silakan duduk." Ucap Aruna lembut dan jangan lupakan dengan senyuman manisnya.
"Kami datang bareng Arion, kok." Balas Putra tak enak hati pada sahabatnya.
"Oh. Aku tinggal dulu mas, pak." Pamit Aruna kemudian berjalan ke arah dapur tanpa memperdulikan Arion yang berdiri di dekatnya.
🌺🌺🌺🌺
SELAMAT MALAM READERS
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK, YA.
__ADS_1