MAHABBAH CINTA SANG MANTAN

MAHABBAH CINTA SANG MANTAN
Mahabbah Cinta Sang Mantan ~ 25


__ADS_3

"Jangan terlalu berharap pada pernikahan ini." Ucapan Aruna membentuk senyum tipis pada sudut bibir Arion.


"Bagaimanapun penolakanmu, kita tetaplah pasangan suami istri. Kamu dan aku saat ini dan seterusnya telah berubah menjadi kita." Balas Arion menatap tajam Aruna.


"Kalian ganti baju, gih ,,, acara sudah selesai." Titah nenek Sarah.


Arion dan Aruna masuk kedlaam kamar untuk berganti baju. Tampak petugas katering dan WO membereskan barang-barangnya. Mereka mengerjakan tugas masing-masing. Acara selesai dan tak ada resepsi. Arion tersenyum kecut dengan pernikahannya. Seorang pengusaha muda yang sukses dan idaman setiap wanita di negeri ini harus melaksanakan pernikahan dengan sangat sederhana dan jauh dari kata mewah.


Jantung Aruna berdebar kencang, untuk pertama kalinya ia memasukkan pria ke dalam kamarnya Saat di Inggris jika Kevin bertamu ke apartemennya, teman satu flat Aruna selalu menemani. Ia tak pernah menerima Kevin jika hanya mereka berdua.


"Kenapa gugup ? Bukankah hal wajar jika pasangan suami istri berada dalam satu kamar ? Pasangan kekasih saja bisa berduaan dikamar." Ucap Arion menatap Aruna dengan intens.


"Menurutmu seperti itu tapi menurutku beda." Sinis Aruna


"Ck, santai aja, aku gak qkqn menyentuhmu sebelum kamu sendiri yang meminta."


Mendengar kata-kata Arion membuat Aruna seketika tersenyum lebar. Ia teringat dengan surat oe4janjian yang dituliskan semalam. Saking tak terimanya dengan pernikahan ini, Aruna hingga menuliskan beberapa point yang ia anggap perlu. Aruna membuka laci mema riasnya.


"Syukurlah, tapi untuk lebih meyakinkan hal itu tolong tanda tangan disini. " Aruna menyodorkan sebuah kertas yang ditulis dengan rapi. Tulisan tangan Aruna emang bagus dan rapi.


Arion menautkan alisnya seraya menerima kertas tersebut. Kemudian matanya memindai satu persatu huruf yang telah di rangkai menjadi kata-kata yang meruntuhkan harga dirinya. Bisa saja ia mementahkan semua point yang di tulis oleh gadis yang telah resmi menjadi istrinya itu namun demi ketenangan sang istri maka Arion tetap menanda tangani hanya menambahkan beberapa point uuntuk Aruna agar adil.

__ADS_1


Arion hanya meminta jika Aruna keluar rumah harus meminta ijin pada Arion. Sesuai permintaan Aruna yang tak membolehkan adanya kontak fisik, Arion menambahkan jika mereka tak boleh pisah ranjang. Dan yang paling terakhir Arion menambahkan jika Aruna tak boleh menemui kekasihnya. Dengan mantap Arion menanda tangani kertas tersebut kemudian menyerahkan kembali pada Aruna.


Aruna mendengus kasar membaca tulisan Arion. Ia tak bisa menolaknya karena itu adalah hak Arion. Hanya tiga point walaupun point keduanya terasa berat bagi Aruna. Ia merutuki keteledorannya sehingga tak memikirkan tidur mereka harus terpisah. Melihat ekspresi Aruna membuat Arion tersenyum lebar.


'Mari kita bermain, sayang.' Batin Arion tersenyum miring.


"Aku yang pakai kamar mandi lebih dulu. " Aruna mengambil bajunya dalam lemari kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


Dalam kamar mandi, Aruna bukan hanya berganti baju akan tetapi ia melakukan ritual mandi yang sangat lama hingga membuat Arion memutuskan untuk berganti baju saja.


"Aku bisa jamuran menunggu gadis itu keluar. Sepertinya mulai besok aku yang harus mandi lebih dulu. Ck, wanita kalau di kamar mandi selalu saja betah berlama-lama padahal kan hanya mengirim badan dan memakai sabun. " Gumam Arion kesal sambil membuka bajunya.


Rasa gerah dan tak nyaman membuat Arion ingin segera mengganti baju pengantinnya. Setiap pria dan wanita yang memakai baju adat bugis memang akan mengalami hal yang sama. Jika pria merasa gerah karena memang kainnya yang tak menyerap keringat sedangkan bagi wanita karena aksesorisnya yang terasa sangat berat.


Lelah dan mengantuk membuat Aruna langsung menyapa kasur dan bantalnya. Rasa nyaman menguasainya sehingga tak harus menunggu lama untuk Aruna mengunjungi dunia mimpi. Ia terlelap hingga melupakan semua urusan dunia dan kegalauan dalam pernikahannya.


"Nak Rion ,,, mana Aruna ?" Tanya nenek Sarah yang sejak tadi tak melihat bayangan cucunya.


"Tadi masih mandi, nek."Jawab Arion apa adanya.


"Tumben kerasan banget di kamar mandi." Ucapan nenek Sarah membuat Arion bingung karena itulah kenyataannya. Kesan pertama yang didapat Arion saat ini.

__ADS_1


Arion yang tak mengenal Aruna dengan baik termasuk kebiasaan-kebiasaannya membuat seorang Arion selalu memberikan penilaian pada sang istri berdasarkan apa yang dirinya lihat saja.


"Nenek ijin masuk kamar kalian, ya ,,," Lanjut nenek Sarah berjalan berjalan ke arah kamar Aruna diikuti oleh Arion yang penasaran dengan ucapan nenek mertuanya.


Saat pintu terbuka lebar, pemandangan pertama yang mereka lihat membuat nenek Sarah mencak-mencak membangunkan cucunya. Arion terkekeh melihat nenek Sarah yang uring-uringan sendiri. Aruna tak terusik sedikitpun dengan omelan nenek Sarah. Hingga nenek Sarah kehabisan akal membangunkan Aruna.


"Runa ,,, Aruna Melisha !!! Astaga anak ini." Nenek Sarah berteriak frustasi melihat cucunya tidur dengan sangat nyenyak.


"Biarkan aja, nek. Mungkin dia kelelahan, nanti juga pasti bangun." Ucap Arion menenangkan nenek Sarah.


"Tapi nak, gadis ini sekarang sudah menjadi seorang istri. Sangat tidak pantas jika dia enak-enak tidur sementara suaminya belum makan."


"Gak apa-apa nek, aku juga belum lapar. atau nanti aku coba bangunkan" Arion tersenyum meyakinkan sang nenek. Sebuah ide gila tiba-tiba terlintas dalam benaknya.


Nenek Sarah kemudian keluar setelah Arion berhasil meyakinkan. Kini tinggal Arion dan Aruna yang sedang terlelap menggapai mimpi indahnya. Perlahan Arion ikut berbaring disisi sang istri dengan badan menghadap Aruna. Arion memperhatikan setiap detik wajah sang istri dengan bebas.


"Cantik ,,," Gumam Arion membelai pipi Aruna dengan pelan, takut jika Aruna terbangun dan mengamuk.


Arion terkekeh menyadari kelakuannya bagaikan seorang pencuri. Melihat Aruna tak bereaksi, Arion kembali melancarkan aksinya dengan mencium pipi mulus istrinya kemudian Arion memejamkan matanya. Arion pun memejamkan matanya berusaha menetralkan sesuatu dibawah sana yang minta dipuaskan. Saat bersama dengan Aletta, ia lebih suka menyewa wanita yang sudah terjamin kesehatannya daripada melakukannya bersama Aletta. Arion hanya tak ingin mengambil resiok jika sewaktu-waktu Aletta menuntut untuk dinikahi sedangkan kakek Ramdhan tak merestui mereka.


Dengan sengaja Arion meletakkan tangan besarnya pada perut rata Aruna. Rasa nyaman menyapa yang baru pertama kali ini ia rasakan sejak kepergian kedua orang tuanya beberapa tahun lalu. Arion menggeser kepalanya sehingga wajahnya menempel pada ceruk leher Aruna. Wangi tubuh gadis itu semakin membuatnya melayang. Arion melakukan pelanggaran pada point tidak ada kontak fisik.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺


__ADS_2