
Kala sang penunjuk waktu berada pada angka yang sudah menjadi kesepakatan bersama seluruh umat manusia maka saat itu pula para pengais rejeki mulai melakukan aktifitas masing-masing. Jalan raya seolah menjadi ajang pelampiasan bagi penduduk bumi yang akan menuju tempat kerja. Arion, Restu dan Aruna pun berada diantara mereka.
Atas perintah sang direktur maka dengan sekuat tenaga Restu membujuk Aruna agar berkantor pada PT. Glo_Tech. Walaupun diawali dengan perdebatan yang cukup alot akhirnya Aruna menerimanya. Entah apa yang dikatakan oleh Restu sehingga Aruna bisa luluh.
"Run, kakek mengundang makan siang bersama." Ucap Restu yang kini tengah bersama Aruna di ruang kerjanya.
Hanya Restu yang memiliki kebebasan keluar masuk ruangan Aruna. Meskipun sesekali Arion bertindak nekad masuk ke ruangan mantan istrinya itu.
"Gimana kabar kakek dan Arista ? Kalian sudah memiliki anak ?" Tanya Aruna antusias
"Yang mana dulu nih yang harus aku jawab ?"
"Terserah anda, pak ,,," Aruna kembali ke mode on datarnya.
"Astaga Run, santai sedikit dong ,,, jangan terlalu datar."
"Jam berapa kakek ada waktu ?" Tanya Aruna mengalihkan pembicaraan.
"Makan siang, Run ,,, kakak dan Arista ingin makan siang denganmu. Kalau diizinkan aku dan Arion juga pingin gabung sih. Kasihan pria itu setahun ini ia tak pernah bertemu dan bertegur sapa dengan kakek."
"Lho, kok bisa ?!" Aruna tak dapat menahan rasa penasarannya mendengar cerita Restu.
__ADS_1
"Sejak kalian bercerai dan kakek mengetahui alasan perpisahan kalian, beliau sangat murka dan mengusir Arion dari rumah dan melarangnya menginjakkan kakinya dirumah kakek walau beliau memegang nyawa sekalipun." Jawab Restu sedikit menambahkan cerita.
Dengan sedikit kebohongan untuk kebaikan tidak ada salahnya, kan ? Pikir Restu membenarkan diri sendiri. Kakek Ramdhan memang mengusir Arion tapi tak pernah mengatakan jika Arion tak boleh menginjakkan kaki di rumahnya bahkan saat ajal menjemputnya. Demi sahabat, bos dan sekaligus kakak iparnya, Restu rela melakukan apa saja. Sudah cukup baginya melihat penderitaan hati sahabatnya.
"Dan pria itu gak ada usaha gitu untuk membujuk kakek ?"
"Kakek terlalu keras kepala, Run ,,, bahkan Arion sudah bertaubat dan menghabiskan waktunya berbulan-bulan di pesantren dan setelah itupun setiap akhir minggu Arion hanya mengunjungi pesantren untuk mengisi waktu liburnya. " Balas Restu apa adanya.
"Bilangin sama kakek dan Arista, aku akan bergabung dengan mereka." Ucap Aruna untuk kesekian kalinya ia mengalihkan pembicaraan.
Aruna merasa apapun yang dikerjakan Arion bukan urusannya lagi. Ia sudah bertekad untuk berdamai dengan masa lalunya dan orang-orang yang pernah menghiasi masa lalunya. Aruna hanya ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dengan tenang.
Diam-diam Restu menarik napas panjang. Aruna sama sekali tak tertarik dengan kehidupan Arion. Mungkinkah Aruna sudah memiliki tambatan hati ? Jika demikian halnya maka Arion harus mencari cela jika ingin kembali bersama Aruna. Otak Restu segera bekerja.
Aruna hanya menganggukkan kepalanya kemudian melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
Braaaakkk
Restu membuka pintu ruangan Arion dengan kasar membuat empunya ruangan terlonjak kaget. Bukan hanya kali ini Restu membuka pintu ruangannya seperti itu. Seandainya saja Restu bukankah sahabatnya mungkin sejak lama Arion sudah menendangnya ke planet lain.
"Ini ruanganku jadi jangan pernah berlaku seenaknya." Ucap Arion datar.
__ADS_1
"Ck, kalian memang pasangan yang cocok. Sama-sama datar." Balas Restu duduk manis di depan meja kerja Arion.
"Jangan bertele-tele. Ada apa ? Pekerjaanku masih banyak."
"Sepertinya hati Aruna sudah ada yang memiliki. Dia tak menyimpan rasa padamu, bos." Ucap Restu memprovokatori kakak iparnya.
"Lalu, aku harus menangis meraung-raung, gitu ?"
Sungguh hati Arion bagai disiram bensin ditengah api yang berkobar mendengar ucapan Restu. Bibirnya terdengar dingin dan tak perduli kala berucap namun tatapan matanya menyiratkan keadaan hati yang sebenarnya. Restu bersorak gembira dalam hati. Ia sudah berhasil memancing Arion.
"Hanya itu yang ingin aku katakan, bos." Ucap Restu dengan wajah tak bersalah kemudian dengan santainya meninggalkan ruangan kerja Arion.
Setelah pintu ruangannya tertutup, Arion segera meraih remote untuk mengunci ruangannya dan menggelapkan dinding kacanya. Ia mengacak-ngacak rambutnya frustasi mendengar ucapan Restu.
'Benarkah yang dikatakan oleh Restu ? Apa yang harus aku lakukan ? Ayo gunakan otakmu Arion.' Batin Arion menatap Aruna dari ruangannya.
"Kamu hanya akan menjadi milikku, Yang ,,," Gumam Arion tersenyum tipis dibalik rasa frustasinya.
🌺🌺🌺🌺
HAI READERS ,,, SELAMAT PAGI ,,,
__ADS_1
TERIMA KASIH ATAS DUKUNGANNYA