
Keluar dari kamar mandi setelah berpakaian rapi, Aruna kemudian menghampiri nenek Sarah dengan wajah bahagia. Walaupun masih terlihat pucat namun beliau sudah bisa tersenyum. Bagi Aruna, senyuman nenek Sarah adalah bahagianya.
"Nenek makam dulu ya ,,, bentar lagi dokter Sandy akan datang memeriksa kondisi nenek." Ucap Aruna masih dengan senyumannya.
"Kamu sudah kenal dengan dokter Sandy, sayang ?" Tanya nenek Sarah memperhatikan raut wajah cucunya.
"Sudah dong nek, kan dokter itu yang menolong nenek. Kebetulan beliau berada ditempat." Jelas Aruna apa adanya.
Tanpa sepengetahuan Aruna, sang nenek diam-diam melirik Arion yang sedang memperhatikan mereka dengan empat dos makanan untuk sarapan mereka. Nenek Sarah kembali menatap sang cucu dengan tatapan sendu yang tak disadari oleh Aruna.
"Gimana pendapatmu tentang dokter Sandy ?"
"Baik dan tampan, setidaknya itu penilaian pertamaku buatnya." Jujur Aruna dan membuat Arion mendelik tak terima jika Aruna memuji pria lain.
"Jangan menilai seseorang dari luarnya saja, sayang. Kenali lebih dalam sebelum memberikan penilaian agar tidak salah dalam memilih." Nasehat nenek Sarah tanpa sadar menjebak dirinya sendiri.
"Bener nek tapi sepertinya hal itu berlaku pada jaman nenek saja. Berbeda dengan jaman sekarang. Terkadang keluarga sangat yakin dengan pilihannya karena alasan sudah mengenal keluarganya dengan sangat akan tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Saat ini Runa memilih untuk menilai seseorang dari apa yang terlihat pertama kalinya walaupun itu tak menjamin seratus persen." Balas Aruna panjang lebar sambil tersenyum manis.
Wajah Arion memerah. Ia merasa tercubit dengan semua perkataan Aruna yang seolah ditujukan untuk dirinya. Arion tak tahan lagi, ia kemudian mendekati Aruna dan nenek Sarah. Baru saja Arion akan berbicara, pintu diketuk dari luar sehingga ia kembali terdiam dan duduk dekat kaki sang nenek. Sedangkan Aruna langsung berdiri menggapai pegangan pintu dan membukanya.
Tok
Tok
__ADS_1
Tok
"Assalamualaikum dan selamat pagi, nona ,,," Sapa dokter Sandy tersenyum sopan melihat Aruna.
"Waalaikumsalam, dok ,,, mari silahkan masuk." Balas Aruna ramah.
Arion mendengus kasar melihat bagaimana gembiranya Aruna menyambut dokter Sandy. Arion tak menyukai interaksi keduanya. Tanpa berlama-lama dokter Sandy segera memeriksa kondisi pasiennya disertai dengan beberapa pertanyaan pada nenek Sarah.
"Maaf pak bisa bergeser sedikit ?" Pinta dokter Sandy tersenyum ramah.
"Tentu saja tapi saya pun harus mendampingi nenek mertua saya." Ucap,Arion dengan wajah tanpa dosa.
Dokter Sandy mengangkat wajahnya menatap Arion sejenak sebelum melanjutkan pekerjaannya. Meskipun dokter Sandy penasaran mendengar ucapan pria yang tak ia kenal namun tak lantas mengganggu konsentrasinya. Berbeda dengan Aruna yang menatap Arion dengan tatapan membunuh.
Aruna sejak tadi memperhatikan wajah tampan dokter tersebut yang menyiratkan kekhawatiran pada nenek kesayangannya, keluarga satu-satunya yang ia miliki.
"Nyonya Sarah sudah mulai membaik, jangan bosan berdoa agar beliau segera pulih." Dokter Sandy memegang kedua bahu Aruna sambil tersenyum menenangkan.
"Boleh kita bicara, dok ?" Tanya Aruna tak memperdulikan tatapan tak suka dari Arion.
"Tentu, mari ke ruanganku." Balas dokter Sandy dengan sedikit menganggukkan kepalanya pada Arion.
"Nek, aku bicara sama dokter Sandy dulu, ya ? Hanya sebentar, kok." Aruna berpamitan dan mencium nenek Sarah.
__ADS_1
Kemudian Aruna berlalu begitu saja tanpa menoleh pada Arion. Sesungguhnya Aruna tak nyaman dengan kehadiran Arion apalagi tatapan tajamnya sangat mengganggu kesehatan jantungnya.
Setelah Aruna menghilang, Arion menatap nenek Sarah yang masih terbaring lemah. Ia pun merasa khawatir melihat kondisi kesehatan nenek Sarah yang semakin melemah.
"Nenek jangan khawtir, semua akan baik-baik saja." Ucap Arion seolah paham makna tatapan mata sang nenek.
"Terima kasih nak." Balas nenek Sarah dengan pelan hampir tak terdengar.
"To ,,, long pang ,,,gilkan ka ,,, kekmu, nak ,,," Lanjut nenek Sarah terbata-bata.
Tanpa banyak bertanya, Arion segera melakukan perintah nenek Sarah. Ia menelepon Arista karena takut kakek Ramdhan mengabaikan panggilannya. Setelah itu ia menelepon Aruna. Bersamaan dengan datangnya bi Ina.
"Bi, tolong panggilkan Aruna di ruangan dokter Sandy. Sejak tadi ia mereject panggilanku, keadaan nenek Sarah memburuk." Titah Arion panik.
Mendengar ucapan Arion, bi Ina langsung membalikkan badannya dan setengah berlari menuju ruangan dokter Sandy.
🌺🌺🌺🌺
SELAMAT SORE READERS
SELAMAT MEMBACA
MAAF OTHOR GAK BISA UP BANYQK-BANYAK, LAGI SIBUK DI DUNIA NYATA DAN PERSIAPAN CERITA BARU.
__ADS_1
EDISI KEJAR SETORAN ,,,, HEHEHEHE