
Aruna sengaja memilih sebuah penginapan sederhana dipinggiraan kota. Ia pun tak berniat pulang ke rumah nenek Sarah selarut ini qpalagi sendirian, sang nenek pasti menginterogasinya. Aruna hanya ingin menenangkan dirinya malam ini tanpa gangguan dari siapapun. Aruna harus berpikir jernih dengan apa yang akan menjadi keputusannya, walaupun mereka menikah hanya karena perjodohan namun ada dua keluarga besar yang akan terlibat.
Aruna berusaha menutup mata meskipun terasa sulit hingga pada akhirnya ia terlelap karena kelelahan dengan masalah yang seolah tak ada bosan-bosannya menyapa hidupnya.
Sementara kakek Ramdhan, kedua pengantin baru dan seluruh keluarga kini terlelap dikamar masing-masing akan tetapi Arion masih berada di depan rumah nenek Sarah yang terlihat sunyi senyap. Melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 23.05. Arion mendengus frustasi kembali ke hotel dan melanjutkan pencariannya besok.
Menyesal, frustasi dan putus asa bercampur jadi satu dalam diri seorang Arzeno Arion. Kini Arion berada si dalam kamar merenungi nasibnya rumah tangganya.
"Aaarrrggghhhhh ,,," Teriakan Arion menggema dalam kamar, beruntung setiap kamar hotel, tersebut, edan suara sehingga tak mengganggu tamu yang lain.
Sebelum menghempaskan diri di atas kasur empuk, Arion menarik rambutnya hingga acak-acakan. Masih dengan baju pesta Arion akhirnya tertidur.
Hingga sang surya kembali menyapa dengan sinarnya yang hangat agar penduduk bumi menyambut harinya dengan senyuman. Berbeda haknya dengan Arion, ia tak merasakan bias hangatnya mentari pagi. Otaknya memanas karena tak berhasil menemukan cara untuk menghadapi Aruna.
Sementara itu, Aruna tak ingin membuang-buang waktu lebih banyak. Ia segera melumcur ke rumah sang nenek. Hari ini ia harus memberikan pengertian pada nenek Sarah agar beliau tak terpukul hingga menyalahkan dirinya.
"Assalamualaikum ,,," Salam Aruna ceria seperti biasa jika memasuki rumah sang nenek.
"Waalaikumsalam ,,," Balas bi Ina terkejut melihat nona mudanya tersenyum namun ada sesuatu yang berbeda.
"Nenek mana, bi ?"
"Biasa non, pagi-pagi begini beliau selalu ditaman." Jawab bi Ina masih menatap intens sang nona muda.
"Jangan menatapku seperti itu bi, ntar jatuh cinta ,,," Aruna terkikik geli berhasil menggoda ART setia nenek Sarah sebelum berlalu dari hadapan bi Ina.
Dengan langkah pasti, Aruna mengayunkan kakinya menuju nenek Sarah yang sedang menikmati pagi indahnya ditemani cemilan dan teh hangat.
"Asyik banget, nek ,,,"Sapa Aruna ketika telah berada di depan sang nenek.
"Tumben pagi-pagi kesini ? Bukankah semalam pesta pernikahan Arista ? Nak Arion kemana, kok gak sama-sama ? Nak Arion tahu kalau kamu kesini ?"
__ADS_1
Seperti dugaan Aruna semalam, nenek Sarah memberondongnya dengan banyak pertanyaan. Hal inilah yang Aruna hindari semalam.
"Kesehatan jantung nenek baik-baik aja, kan ?" Aruna tak menanggapi pertanyaan nenek Sarah dan malah balik bertanya yang sama sekali tak ada hubungannya dengan pertanyaan sang nenek.
"Selama ini baik-baik aja, Alhamdulillah ,,, memangnya ada apa ?" Tanya nenek Sarah dengan wajah serius.
"Nek ,,, sebelumnya Aruna meminta maaf karena pernikahan kami sepertinya tak bisa lagi dilanjutkan." Ucap Aruna serius.
"Ada apa, sayang ,,, apq nak Arion melakukan kekerasan ?"
"Enggak kok, nek ,,, Aruna hanya merasa tidak cocok bersanding dengan pria itu." Aruna masih berusaha menyembunyikan kelakuan negatif Arion.
"Kamu harus berusaha lebih keras lagi, sayang ,,, ini adalah wasiat kakekmu."
"Apakah kakek dalam wasiatnya itu melarang kami bercerai ?"
"Hal itu tidak dikatakan sayang, tapi kan sangat disayangkan jika sebuah pernikahan harus berakhir dengan alasan tidak ada kecocokan."
Sekilas nenek Sarah melihat sebersit kekecewaan dalam sorot mata Aruna. Walaupun senyumnya memperlihatkan jiak segala sesuatunya berjalan dengan baik-baik saja namun mata tua nenek Sarah tak bisa dibohongi.
"Sayang,bicara yang jelas agar nenek bisa mengerti dan memahami keputusanmu yang tiba-tiba begini. Nenek gak akan sakit jika itu yang kamu pikirkan." Nenek Sarah mencoba membujuk cucu kesayangannya.
Wanita tua itu menyadari kelakuan cucunya yang tak seperti biasanya. Ia semakin yakin jika Aruna mengalami kejadian yang tak mengenakkan. Aruna bukanlah gadis yang suk bertindak gegabah dan sangat pandai mengelola emosinya.
Takut jika Arion tiba-tiba muncul di rumah nenek Sarah dan mengacaukan pikiran sang nenek, akhirnya Aruna mengambil ponselnya dan memperlihatkan sebuah video yang sangat menjijikkan. Nenek Sarah hanya bisa terperangah dan kemudian menatap Aruna.
"Maafkan nenek, Sayang karena telah memaksamu menikahi pria seperti itu. Nenek benar-benar salah menilai seseorang." Wajah nenek Sarah sangat kecewa dan terluka.
"Gak usah dibahas lagi, nek ,,, Runa hanya butuh dukungan nenek, selebihnya biar pengacara yang menanganinya.
Nenek Sarah tak mampu berkata-lata lagi, ia hanya memelukmsang cucu dengan sangat erat seolah mengatakan jika dukungan sang nenek selalu ada buatnya.
__ADS_1
"Lakukan saja apa yang bisa membuatmu bahagia, sayang ,,, kita sudah melaksanakan wasiat kakek akan tetapi mungkin jodoh kalian memang hanya sampai disini saja dan itu bukankah kesalahanmu."
"Terima kasih,nek ,,," Aruna membalas pelukan nenek Sarah tak kalah eratnya.
Kini keputusannya sudah bulat. Tak ada lagi yang membebani pikirannya karena sang nenek ternyata mengerti dan mendukungnya. Hari semakin siang dan Aruna kembali mematikan ponselnya kemudian memberikannya pada sang nenek sebelum ia berpamitan.
"Nek, tolong simpan aja ponselku, nanti Runa beli yang baru." Aruna menyodorkan ponselnya.
"Kamu mau kemana, sayang ,,,"
"Jangan khawatir nek, aku hanya tak ingin bertemu dengan Arion sebelum putusan pengadilan."
"Hati-hati sayang ,,, jangan melakukan hal-hal yang merugikan dirimu dan hubungi nenek setiap saat agar wanita tua ini tak khawatir."
"Pasti nek, Runa pamit. Jaga kesehatan nenek." Balas Aruna kembali memeluk nenek Sarah sebelum akhirnya meninggalkan rumah tersebut.
Dengan tergesa-gesa Aruna keluar dari rumah nenek Sarah. Entah kapan ia busa kembali ke rumah yang penuh dengan kenangan masa kecilnya hingga remaja.
"Bi, titip nenek ya ,,," Ucap Aruna kala berpapasan dengan bi Ina.
"Pasti non ,,," Balas bi Ina dengan senyuman pada bibirnya yang mulai keriput termakan usia.
Aruna pun memeluk bi Ina sebagai ungkapan terima kasihnya karena telah menemani sang nenek selama ini. Setelah acara pelukan usai, Aruna kembali melanjutkan langkahnya menuju taksi online yang ia pesan sebelum mematikan ponselnya.
Setelah duduk manis di dalam taksi online tersebut, Aruna kemudian menyebutkan alamat penginapan yang ia tinggali untuk sementara. Ia harus mencari pengacara untuk mengurus segalanya sebelum ia meninggalkan kota ini. Yah, Aruna memutuskan untuk menetap disuatu tempat agar tak bertemu lagi dengan pria itu.
🌺🌺🌺🌺
KEMANA KIRA-KIRA ARUNA AKAN PERGI ?
JANGAN BOSAN MENGIKUTI KISAH ARUNA, YA ,,,
__ADS_1
TINGGALKAN JEJAKNYA DONG