MAHABBAH CINTA SANG MANTAN

MAHABBAH CINTA SANG MANTAN
Mahabbah Cinta Sang Mantan ~31


__ADS_3

"Arriioooooonnnn !!" Teriakan Aruna dipagi-pagi buta mengagetkan Arion yang terlelap. Beruntung kamar nenek Sarah tak bersebelahan dengan kamar mereka sehingga hanya Arion yang mendengarnya.


"Allahu Akbar ,,," Arion terduduk dengan setengah sadar.


Plaaakkk


"Awww ,,, ada apa sih, Yang ,,, pagi-pagi sudah anarkis ,,," Arion meringis sambil mengusap lengannya yang menjadi sasaran empuk Aruna.


"Kamu melanggar perjanjian. Ngapain kamu peluk-peluk aku !" Aruna menatap tajam Arion yang terlihat santai dan tak menyesal sedikitpun.


Jika saja melenyapkan nyawa seseorang tidak berurusan dengan hukum, ingin rasanya Aruna mencekik pria itu dengan kedua tangannya. Apalagi saat melihat wajah Arion yang tanpa dosa.


"Dasar player !!" Sarkas Aruna emosi kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


Deggggg


Arion membeku saat mendengar kata-kata kasar dari bibir Aruna. Bukan terkejut karena marah tapi Arion tak menyangka jika Aruna akan menuduhnya seperti itu dan soalnya memang ia sering melampiaskan hasratnya dengan wanita bayaran. Pikiran Arion melanglang buana. Ia tak menyangka Aruna mengatakan sesuatu yang hanya diketahui oleh mereka bertiga. Apakah salah satu dari sahabatnya yang memberitahukan pada Aruna ? Arion menggeleng-gelengkan kepalanya menolak pikiran negatifnya. Tidak mungkin Putra ataupun Restu, tapi siapa ? Arion meraup wajahnya frustasi pagi-pagi yang seharusnya ia adalah dengan senyum bahagia.


Sementara di dalam kamar mandi Aruna tak henti-hentinya merutuki sikap Arion yang suka seenaknya. Walaupun apa yang dilakukan oleh Arion bukankah sesuatu yang salah mengingat mereka sudah menikah namun Aruna tetaplah Aruna yang tak rela disentuh oleh Arion yang sudah sering berganti-ganti pasangan. Memikirkannya saja Aruna bergidik ngeri.


Selesai dengan urusan kamar mandi, kini Aruna keluar dengan berpakaian rapi. Kurang bedak dan kawan-kawannya saja. Arion yang tersadar dari lamunannya segera menggantikan posisi Aruna dalam kamar mandi. Tak ada keusilan yang dilakukan oleh Arion. Otaknya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan yang membutuhkan jawaban dari kedua sahabatnya.


Arion masuk ke dalam kamar mandi dan Aruna menghias dirinya di depan cermin. Setelah drama cukup, Aruna menyiapkan baju yang akan dipakai oleh Arion kemudian keluar kamar dan menuju meja makan dimana sang nenek sudah duduk menunggu.


"Sayang ,,, nak Arion mana ?" Tanya nenek Sarah lembut.


"Masih mandi, nek ,,," Aruna memperlihatkan senyum manisnya pada sang nenek walaupun hatinya masih dongkol pada Arion.

__ADS_1


Aruna sangat menyayangi nenek Sarah sehingga tak pernah bisa mengecewakannya. Biarlah nenek mengira pernikahan kami bahagia, pikir Aruna.


Akhirnya Arion keluar kamar dan bergabung dengan mereka. Senyum nenek Sarah merekah manakala Arion langsung duduk di samping Aruna seraya mencium pucuk kepalanya. Arion tersenyum walaupun ia tahu Aruna tidak menyukai perbuatannya. Arion berusaha bersikap biasa saja seolah apa yang dituduhkan Aruna pagi ini adalah salah.


Dengan malas Aruna memindahkan nasi goreng ke piring Arion berikut telur dadar dan kerupuk, semua ia tumpuk pada piring hingga terlihat seperti gunung. Nenek Sarah melotot melihat perbuatannya namun Aruna pura-pura tak menyadari. Aruna kemudian menikmati sandwich dan su** seperti biasanya. Perut Aruna sejak dulu tak mampu menampung nasi di pagi hari.


Selesai sarapan, Aruna segera meraih punggung tangan sang nenek dan menciumnya. Pun Arion melakukan hal yang sama.


"Kalian berangkat bareng, kan ?"


"Enggak nek, Runa akan menjemput Syasya terlebih dulu, kasihan kendaraannya dalam perawatan di bengkel." Jawab Aruna sebelum Arion membuka suara.


"Ya sudah, kalian hati-hati di jalan." Ucap nenek Sarah melambaikan tangannya.


Aruna melarikan mobilnya keluar dari halaman rumah diikuti oleh mobil yang dikendarai sendiri oleh Arion. Sejak dulu Arion tak pernah diantar jemput oleh sopir, ia lebih memilih menyetir sendiri kemana-mana kecuali ada meeting diluar kantor.


Dengan santai Aruna mengarahkan mobilnya menuju perusahaan. Arion hanya bisa menarik napas panjang.


Secara beriringan keduanya kini memasuki area perusahaan. Aruna mengarahkan mobilnya menuju parkir khusus karyawan sedangkan Arion berhenti di depan lobby perusahaan. Aruna sengaja berlama-lama di mobil karena melihat Arion sedang berdiri menunggunya.


"Pak Slamet, jika sekretarisku datang tolong minta kunci mobilnya dan parkirkan mobilnya dekat mobilku. Geser aja parkiran Restu." Titah Arion melanjutkan langkahnya.


Beberapa karyawan saling bertatapan penuh tanda tanya mendengar perintah sang bos. Untuk pertama kalinya direktur mereka memperhatikan parkiran sekretarisnya. Tak ingin ditegur, mereka menuju ruangan masing-masing setelah mengabsen kehadiran mereka.


Tak lama kemudian Aruna pun masuk dan langsung di cegat oleh pak Slamet. Bagi pak Slamet apapun yang keluar dari bibir pak direktur adalah kewajiban baginya. Walaupun direktur perusahaan ini arogan dan super dingin namun dalam soal kesejahteraan karyawannya, beliau tak ada duanya. Itulah yang membuat para karyawan betah dan sangat berdedikasi dalam pekerjaan masing-masing.


"Bu, tolong kunci mobilnya." Ujar pak Slamet menengadahkan tangannya.

__ADS_1


"Untuk apa pak ?" Aruna ,engerutkan alisnya bingung.


Pasalnya pak Slamet adalah security yang paling irit bicara bahkan mereka belum pernah bertegur sapa sekalipun dan kini tiba-tiba meminta kunci mobilnya. Bukannya Aruna berpikiran negatif akantetapi wajar jika ia mempertanyakan tujuan pak Slamet.


"Pak bos yang yuruh, bu. Katanya parkiran mobil ibu dekat mobil beliau." Balas pak Slamet tak sabar.


"Gak perlu pak." Aruna melanjutkan langkahnya tak memperdulikan ucapan pak Slamet.


"Tapi bu ,,, gimana kalau pak bos marah dan memecatku."


"Masa hanya gara-gara itu pak Slamet dipecat. Ada-ada aja" Aruna terkekeh sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Memang terdengar sangat lucu dan menggelitik mendengar ucapan pak Slamet. Bagi orang yang tak mengenal seorang Arseno Arion. Direktur perusahaan PT Glo_Tech dam Aruna memang tak mengenalnya walaupun mereka kini berstatus suami istri.


Pak Slamet menatap punggung Aruna yang hilang ditelan kotak besi berbentuk segi empat itu.


Tiba di lantai empat seperti biasa, Aruna keluar dan melanjutkan dengan menggunakan eskalator yang menghubungkan lantai lima dimana meja kerjanya berada.


Aruna kemudian mengaktifkan benda pipih lebar dimana semua jadwal direkturnya telah ia simpan. Baru beberapa langkah Aruna meninggalkan mejanya, sebuah suara memaksanya berhenti dan membalikkan badannya.


Tampak seorang wanita cantik berjalan kearahnya. Aruna seketika menyambutnya dan memasang senyuman termanis yang ia miliki.


"Arion sudah datang, kan ?" Tanya Aletta sambil mengangkat dagunya dengan angkuhnya.


"Iya, nona. Beliau baru saja datang." Balas Aruna apa adanya.


"Baiklah, kamu jangan pernah masuk ataupun mengganggu kami, ingat itu !"

__ADS_1


Aruna mengangguk dan kembali tersenyum. Aruna kembali duduk di kursinya dengan tenang. Pekerjaan pqgi ini hanya membacakan jadwal sang bos dan memberitahukan beberapa surel yang masuk. Aruna tak ingin mengganggu keduanya. Tak ada rasa sakit hati yang dirasakannya karena memang Aruna sudah mendengar jika suaminya itu suka JAJAN. Mungkin jadwalnya memang sebagian ini. Aruna bersyukur tidak gampang terlena dengan perlakuan manis Arion. Ia harus bisa mempertahankan kesuciannya hingga waktu perpisahan mereka tiba. Aruna tak ingin menderita dengan menghabiskan waktu bersama pria seperti Arion.


🌺🌺🌺🌺


__ADS_2