
Malam semakin larut, suasana rumah sakit pun semakin sunyi. Sejak satu jam yang lalu tiba-tiba Arista harus pulang karena Restu mendadak demam tinggi. Kini Aruna seorang diri menjaga nenek Sarah. Tak mungkin bagi Aruna untuk meminta bi ina ke rumah sakit tengah malam seperti ini. Aruna masih setia duduk di samping brangkar sang nenek.
"Cepatlah membaik nek, kita akan ke luar negeri berobat." Gumam Aruna pelan.
Airmata Aruna tak henti-hentinya membasahi wajah cantiknya, sejak pagi saat ia menatap wajah sang nenek yang pucat maka airmatanya akan meluncur bebas.
Tok
Tok
Tok
Aruna segera menghapus airmatanya. Bulu keduanya merinding mendengar ketukan pada pintu kamar perawatan nenek Sarah di tengah malam sunyi seperti ini. Aruna tak ingin tidur sang nenek terganggu, dengan segenap keberanian yang ia miliki, Aruna melangkah perlahan mendekati pintu. Aruna teringat film horor yang pernah ia tonton. Adegan filmnya persis seperti keadaan Aruna saat ini. Ketukan pada pintu kamar sebuah rumah sakit ditengah malam buta.
Ceklek
Aruna memejamkan matanya kemudian membuka pintu tersebut. Tak ada pergerakan saat ia telah terbuka. Perlahan Aruna membuka matanya penasaran dengan ketukan pintu, meskipun takut namun namun Aruna tetap memberatkan diri.
"Kamu kenapa, Yang ,,,"
"Kau !!"
"Sssttt, jangan ribut sudah tengah malam nanti nenek Sarah terbangun. Boleh kan aku masuk ?" Arion langsung menyerobot masuk sebelum mendapatkan protes dari mantan istrinya itu.
__ADS_1
"Ngapain kamu disini ? Kita bukan muhrim."
"Kata pak Kiyai dalam keadaan darurat gak apa-apa, lagian mas juga gak akan ngapain-ngapain kamu sebelum sah." Balas Arion asal mengatasnamakan pak Kiyai. Ingatkan ia meminta maaf pada Kiyai Izham Khaliq saat bertemu nanti.
Aruna kesal mendengar kalimat terakhir Arion akan tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Jika boleh jujur Aruna sangat berterima kasih karena kedatangan Arion yang dengan sukarela mau menemaninya walaupun kemungkinan besar Arista menyuruhnya datang.
"Tidur aja, kak ,," Titah Aruna formal.
"Kamu aja yang tidur, Yang ,,, biar mas yang jagain nenek, kamu pasti lelah." Ucap Arion lembut.
"Jangan memanggilku seperti itu kak, bisa-bisa semua orang salah paham." Pinta Aruna dengan suara kesal dan wajah permohonan.
Arion hanya tersenyum tak menggubris permintaan Aruna. Ia mengusap pucuk kepala sang mantan istri. Baginya Aruna tetaplah miliknya dan berhak memanggil Aruna sama seperti dulu. Status mereka memang berpisah tapi hati Arion masih milik Aruna.
Jam sudah menunjukkan pukul 00.30, mata Aruna semakin berat. Seharian melihat dan memikirkan kondisi kesehatan sang nenek membuatnya tak dapat menahan rasa kantuknya. Melihat Aruna terkulai di samping nenek Sarah membuat senyum Arion terbit menghiasi wajah tampan.
'Keras kepalamu belum berubah, Yang.' Batin Arion menatap mantan istrinya dalam semalam lautan atlantik.
Arion menatap nenek Sarah yang masih terlelap. Merasa sang nenek belum ada tanda-tanda untuk bangun akhirnya Arion pun menyusul Aruna meraih mimpi. Tak lama kemudian mata nenek Sarah bergerak dan terbuka perlahan. Netranya menangkap dua sosok manusia disebelah kiri dan kanannya. Senyuman menghiasi bibir keriput nan pucat miliknya.
Hingga pagi kembali menyapa para penduduk bumi. Arion terbangun lebih dahulu dan kaget melihat tangannya berada diatas perut nenek Sarah saling menimpa dengan tangan Aruna. Menyadari hal itu, Arion tak bergeming dari posisinya. Ia sangat menikmati momen langkah ini. Rasa hangat memenuhi rongga hatinya, kali ini rasa hangat itu terasa berbeda.
Melihat kelopak mata Aruna bergerak-gerak dan akan segera bangun, Arion memutuskan untuk menutup matanya dan berpura-pura tidur. Ia ingin melihat reaksi Aruna saat melihat posisi tangan mereka saat ini. Aruna buru-buru menarik tangannya sebelum Arion terbangun sehingga membuat nenek Sarah terbangun. Arion pun pura-pura membuka kelopak matanya.
__ADS_1
"Alhamdulillah ,,, selamat pagi, nek ,,,"Sapa Aruna tersenyum kikuk. Tangannya baru saja bersentuhan dengan mantan suaminya itu.
"Assalamualaikum nek, apa kabar ?" Arion ikut menyapa nenek Sarah dengan senyumnya yang tulus.
"Kalian bersama lagi ?" Tanya nenek Sarah pelan tanpa membalas sapaan kedua anak manusia itu.
"Tidak nek ,,," Seru Aruna secepat kilat membantah ucapan sang nenek.
"Kami akan segera bersama kembali nek, jika nenek merestui hubungan kami." Arion menatap nenek Sarah lembut sangat bertolak belakang dengan Aruna.
Nenek Sarah membalas senyuman Arion dengan sedikit menganggukkan kepalanya. Aruna menyembunyikan kekesalannya pada sang nenek yang sangat ia sayangi. Ingin rasanya Aruna berteriak melihat nenek Sarah merepotkan dengan sangat baik perkataan Arion jika saja ia tak melihat kondisi lemah wanita yang telah merawatnya sejak kecil.
"Sebaiknya Runa membersihkan nenek ya, bentar lagi dokter Sandy akan datang memeriksa nenek." Ucap Aruna mengalihkan pembicaraan.
Aruna segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air dan membersihkan tubuh neneknya. Ia mengambil air dan washlap. Melihat hal itu Arion memutuskan untuk keluar mencari sarapan untuk mereka. Tak mungkin ia berada dikamar tersebut sementara Aruna merapikan neneknya.
Dengan telaten dan pelan, Aruna membersihkan tubuh nenek Sarah. Setelah sang nenek berpakaian rapi, giliran Aruna membersihkan diri di kamar mandi.
🌺🌺🌺🌺
SELAMAT SIANG READERS
SELAMAT MENIKMATI HARI LIBUR
__ADS_1
JANGAN LUPA BAHAGIA