
Penghuni lantai lima perusahaan PT Glo_Tech sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Hari ini jadwal sang direktur sedang kosong. Ia hanya duduk tenang di mejanya memeriksa berkas-berkas yang tersusun rapi di depannya. Jam istirahat pun telah usai sejak satu jam yang lalu. Aruna mengeluarkan foto dekilnya yang telah ia satukan dengan foto tanpa dandanan dekil serta fotonya dengan wajahnya yang sekarang.
“Tak terlalu berbeda. Wajah dekilku tetap terlihat cantik bahkan kulitku terlihat eksotis.” Gumamnya terkekeh.
Arion yang kelelahan menyandarkan tubuhnya pada kursi kebesarannya. Mata elangnya tak sengaja melihat sang sekretaris menatap sesuatu di tangannya sambil tertawa. Rasa penasaran menggelitiknya.
‘Apa yang lucu ?’ Batinnya masih menatap tajam wajah cantik sekretarisnya.
Tak ingin larut terlalu lama dalam rasa penasarannya, Arion kemudian memejamkan matanya. Berusaha menghilangkan rasa lelah yang menyerangnya. Aruna menatap sekilas ke arah ruangan direkturnya yang hanya dibatasi sebuah dinding kaca. Jam pulang kantor kurang beberapa menit lagi, pekerjaan Aruna untuk hari ini kelar lebih cepat. Aruna pun sudah membereskan barang-barangnya. Bernostalgia sedikit dengan menatap foto dirinya yang terlihat lucu.
“Kalau kerjaannya sudah kelar, mending pulang sana. Mataku sakit lihat senyum jelek itu !” Arion memukul meja Aruna hingga si empunya meja terlonjak kaget. Dan foto ditangan Aruna pun terlepas dari tangan dan meluncur bebas di bawah kaki Arion.
Wajah cantik Aruna menampilkan ringisan. Otaknya segera berputar mencari kata-kata yang pas jika saja direkturnya itu bertanya tentang foto itu. Arion menatap gambar yang sejak tadi membuatnya penasaran sehingga dengan perlahan ia mendekati meja sekretarisnya. Entah mengapa rasa penasarannya tak jua hilang walaupun ia sudah berusaha.
“Apa hubunganmu dengan gadis dekil ini ? Kenapa fotomu kamu sandingkan dengannya ?” Arion menatap Aruna dengan tatapan taajam dan menuntut.
Sebelum menjawab pertanyaan Arion, Aruna menarik napas panjang mencoba merangkai kata yang pas agar tak menimbulkan kecurigaan. Tak sia-sia ia berteman dengan seorang pemain teater semasa putih abu-abu.
“Dia saudara jauh saya pak. “ Jawab Aruna asal. Suatu hal yang mustahil bagi Aruna untuk mengakui yang sebenarnya. Lagi pula gak ada untung baginya, toh hubungan mereka sudah berakhir.
Setengah percaya Arion menatap ketiga orang dalam foto tersebut dengan teliti. Satu hal yang membuatnya tergelitik adalah mata bening ketiga orang tersebut sama dan seolah mereka merupakan orang yang sama.
“Kamu gak bohong kan ? Jika ternyata kamu membohongiku maka bersiaplah untuk resign dari perusahaan ini. “ Ancam Arion tak main-main.
“Bapak pikir aku takut keluar dari perusahaan ini ? Sejak awal ancaman bapak hanya itu saja. Apa bapak gak bosan ?” Balas Aruna sinis. Sungguh kali ini ia tak bisa lagi menahan diri.
__ADS_1
Melirik jam tangan yang melingkar manis pada pergelangan tangannya, Aruna kemudian mengambil tasnya dan merebut foto yang berada di tangan Arion. Seolah mampu membaca pergerakan Aruna, dengan cepat Arion memasukkan foto tersebut ke dalam sakunya.
“Balikin fotonya, pak. Kasihan saudaraku akan jadi bahan hinaan jika orang lain melihatnya. “
“Aku memerlukan foto ini, besok aku kembalikan. “ Arion meninggalkan Aruna yang berdiri mematung.
Bagaimana jika kakek Ramdhan melihatnya ? Aruna terlihat frustasi. Tak ada jalan lain, ia harus menghindari pria itu. Bagaimanapun caranya. Aruna kembali duduk di mejanya dan menulis sesuatu yang akan merubah keadaan keesokan harinya. Setelah selesai, Aruna menuju ke ruangan HRD .
Tok
Tok
Tok
“Masuk.” Suara bu Dewi terdengar lembut sama seperti wajahnya yang keibuan. Terakhir kali mereka bertemu tiga minggu yang lalu, saat bu Dewi ke ruangan direktur. Yah, posisi Aruna sebagai sekretaris seolah membuat ruang geraknya tidak bisa sebebas karyawan lainnya. Ada-ada saja perintah direkturnya itu. Lelah. Itulah yang dirasakan oleh Aruna.
“Silahkan masuk, Aruna ,,, tumben mengunjungi ibu. “ Bu Dewi terkekeh pasalnya hanya Aruna yang bisa menarik perhatian direkturnya diantara sekian banyaknya sekretaris yang sudah dipecat.
“Mau menyerahkan ini bu. Sebelum di pecat lebih baik aku mengundurkan diri. “
“Lho, gak ada masalah jika kamu memiliki perasaan yang lebih pada bos, pak Ramdhan pasti akan sangat bahagia mendengarnya. “
“Bukan, bu. Aku gak akan pernah punya perasaan seperti yang bu Dewi maksudkan. “ Bantah Aruna secepatnya sebelum bu Dewi makin ngelantur.
“Lalu ?”
__ADS_1
“Barusan aku berbohong padanya bu dan beliau mengancam akan memecatku jika aku ketahuan berbohong.” Ucap Aruna tersenyum kaku mengakui kebohongannya. Bu Dewi jelmaan ibu peri baginya yang sejak pertama masuk selalu bersikap ramah padanya. Berbeda dengan beberapa karyawan yang menatapnya tak bersahabat.
Bu Dewi kaget namun sejurus kemudian tertawa terpingkal-pingkal. Baru kali ini ada seseorang yang berani berbohong pada bos arogannya. Bahkan rekan bisnisnya sekalipun tak ada yang berani membohonginya. Pak Ramdhan tak salah pilih menempatkan gadis cantik ini sebagai sekretaris direktur. Aruna adalah gadis dengan segala keunikannya.
Tak ingin Aruna mengundurkan diri, sesuai perintah sang pendiri perusahaan. Bu Dewi segera mencari alasan yang bisa diterima oleh Aruna. Tanpa sepengetahuan Aruna, bu Dewi telah menerima mandat langsung oleh kakek Ramdhan. Dan bu Dewi sudah mengetahui kisah mereka yang gagal.
“Tapi bagaimana dengan surat perjanjiannya ?” Beruntung bu Dewi mengingatkan surat yang pernah ditandatangani oleh Aruna.
“Boleh aku lihat bu ?” Saat itu Aruna sama sekali tak membacanya. Bukannya Aruna tak mempercayai bu Dewi akan tetapi ia hanya ingin memastikan karena saat itu ia memang menanda tangani sebuah berkas namun ia tak sempat membacanya karena bu Dewi mengajaknya berbicara hingga ia tidak bisa fokus. Dan inilah salah satu sifat jelek Aruna sejak dulu. Teledor dan mempercayai semua orang. Ingatkan dia untuk merubah sifat teledornya itu.
Bu Dewi segera membuka laci mejanya dan menyodorkan sebuah map. Aruna membaca setiap kata dengan teliti. Dan matanya sukses membuat sempurna. Di sana tertulis dengan jelas jika ia mengundurkan diri maka akan dikenakan denda sebesar tujuh ratus lima puluh juta rupiah. Aruna bisa saja meminta sang nenek membayarnya akan tetapi Aruna tak mungkin melakukan itu. Nenek Sarah sudah berkorban banyak untuk membesarkan dan menyekolahkannya.
Aruna menyandarkan punggungnya dengan lesu. Kenapa kehidupanku serumit ini ? Bu Dewi tak tega melihat wajah cantik Aruna yang lesu dan tak bergairah namun ia bisa apa ? Semua atas permintaan sesepuh perusahaan PT Glo_Tech. Tak ada yang bisa membantahnya.
Detik berikutnya wajah Aruna kembali tersenyum. Sebuah ide cemerlang memenuhi kepalanya. Besok ia akan meminta bos jeleknya itu agar memecatnya. Bukankah sebelum pulang pria itu berjanji akan memecatnya jika ketahuan berbohong ?
“Baik bu, aku pamit dulu. “ Pamit Aruna tersenyum semanis mungkim. Bu Dewi dibuat bingung dengan kelakuan Aruna yang tak jelas.
Aruna melenggang keluar dengan anggun diiringi dengan tatapan bingung bu Dewi. Semoga saja gadis itu tak memikirkan sesuatu yang buruk yang bisa membuat direktur naik darah atau bahkan mengamuk. Jika hal itu sampai terjadi maka bisa dipastikan Aruna dalam masalah besar.
🌺🌺🌺🌺
SELAMAT PAGI DUNIA HALU
SELAMAT BERAKTIVITAS
__ADS_1
JANGAN LUPA DUKUNGANNYA SEPERTI BIASA