
Suara adzan subuh perlahan memasuki ruang dengar pasangan baru halal itu. Sebelum Aruna membuka matanya Arion telah mengeluarkan tangannya dari dalam baju tidur wanita itu.
"Yang ,,, bangun, kita shalat berjamaah." Bisik Arion sambil menggigit lembut daun telinga sang Istri.
"Aaaahhh ,,," Setengah sadar Aruna mengeluarkan suara se**inya membuat sebuah senyuman lebar menghiasi wajah si pelaku utama.
Perlahan mata bening Aruna terbuka dan hampir berteriak karena wajah Arion sangat dekat dengan wajahnya. Sebelum teriakan Aruna memenuhi kamar, Arion membungkam bibir wanitanya dengan menggunakan bibirnya.
"Morning kiss, Yang ,,, cepat bangun sebelum waktu subuh berakhir."
Arion langsung bangun dan buru-buru ke kamar mandi berwudhu, ia tak ingin kebebasan dan melewatkan shalat subuhnya. Shalat subuh pertama mereka lakukan dengan khusyu' dan diakhiri dengan salam. Aruna mencium punggung tangan pria yang menikahinya untuk kedua kalinya. Tanpa rasa canggung Arion mencium dahi Aruna dan sekilas menautkan bibir mereka.
"Kak !!"
"Biar hubungan kita berkah, Yang ,,, gitu kata pak Kiyai" Balas Arion membenarkan kelakuannya.
Ingatkan Arion untuk meminta maaf pada pak Kiyai karena telah meminjam namanya untuk menghindari amukan wanita berkata bening itu.
__ADS_1
"Jangan suka mengatasnamakan pak Kiyai, kak ,,, dosa lho."
"Demi kebaikan gak apa-apa, Yang, malah pak Kiyai berpahala." Balas Arion asal seraya mengganti baju sholatnya.
"Ck, ajaran darimana kayak gitu." Aruna mencebikkan bibirnya membuka dan melihat mukenahnya. Kemudian melihat sejarahnya dan sejadah yang dipakai Arion.
Kali ini Aruna sudah lebih bersahabat dan lebih enak diajak berkomunikasi oleh Arion. Pria tampan itupun menyadari hal itu. Hubungan mereka dimasa lalu karena komunikasi yang tidak terbuka dan keegoisan masing-masing lebih mendominasi hubungan mereka.
Arion kembali membaringkan tubuhnya dan menarik Aruna untuk mengikutinya. Ia ingin menyambut mentari pagi sambil memeluk sang istri. Hal yang belum pernah ia lakukan dimasa lalu.
"Aku mau menyiapkan sarapan pak Kiyai, kak." Ucap Aruna dengan wajah memerah karena Arion kini telah memeluknya dimana asetnya menyentuh dada bidang pria itu. Walaupun masih dilapisi oleh baju masing-masing.
"Ingatkan aku jika salah memanggilmu, mas." Bakas Aruna tersenyum salah tingkah.
Melihat tingkah malu-malu kucing sang istri membuat Arion gemes dan menghujani ci**an pada seluruh wajah sang istri.
"Mas, wajahmu jadi basah oleh liurmu." Protes Aruna berusaha menjauhkan badannya.
__ADS_1
"Dilarang protes, Yang ,,, itu baru menu pembukaan." Arion tersenyum miring dengan tangan mulai beraksi.
"Massss ,,, jangan. Masih pagi-pagi lagian om sama tante sebentar lagi ke bandara. Gak enak kalau kita gak bertemu, kapan lagi bertemu dengan mereka."
"Kan semalam sudah pamitan, Yang. Mungkin juga saat ini mereka sudah ke bandara." Balas Arion tak menghentikan pekerjaan tangannya.
"Jangan sekarang mas, please ,,,"
Dengan wajah penuh permohonan Aruna berusaha menahan tangan Arion. Ia bukannya menolak namun Aruna merasa yang dilakukan oleh suaminya itu terlalu cepat dan Aruna belum siap.
Arion tak tega melihat wajah permohonan Aruna. Ia pun menghentikan aksinya kemudian menci** dahi sang istri kemudian perlahan bangun dan segera masuk kedalam kamar mandi. Tak lama kemudian terdengar suara gemericik air beradu dengan lantai kamar mandi menandakan jika pria itu sedang mandi. Aruna pun lalu keluar dari kamar untuk menemui om dan tantenya yang akan kembali ke tempatnya setelah merapikan kencing bajunya yang dibuka oleh Arion.
Benar kata Arion, mereka sudah berangkat ke bandara setelah shalat subuh. Akhirnya Aruna ke dapur membantu bi Ina untuk menyiapkan sarapan bagi keluarga yang masih tinggal. Aruna tak tega melihat wanita tua itu sibuk di dapur walaupun dibantu oleh beberapa orang ART yang lain.
🌺🌺🌺🌺
SELAMAT PAGI READERS
__ADS_1
SELAMAT BERAKTIVITAS