
Nenek Sarah mengantar mereka hingga ke teras di dampingi oleh bi Ina. ART setia yang mengabdikan diri pada keluarga sang nenek. Aruna melambaikan tangan pada kedua wanita yang selalu ada untuknya. Nenek Sarah dan bi Ina pun membalas lambaiqn tangan Aruna dengan mata berkaca-kaca.
"Non Runa, pasti bahagia bersama den Arion, Nyonya ,,," Ucap bi Ina memahami pikiran majikannya.
"Semoga saja, bi ,,, Aruna hingga terakhir bersama kita belum menerima pernikahannya. Sakit hatinya pada nak Arion di masa lalu telah menutup pintu hatinya apalagi sebenarnya dia memiliki kekasih yang qkqn segera dia kenalkan padaku." Balas nenek Sarah sendu.
"Sabar Nyonya ,,, semoga sakit hati non Runa berubah jadi cinta pada den Arion. Sang Pemilik segala makhluk maha membolak balikan hati manusia, kita doakan saja." Ucap bi Ina bijak.
"Aamiin ,,," Nenek Sarah segera mengaminkan ucapan bi Ina dan menengadahkan kedua tangannya lalu mengusap wajahnya.
Mobil yang membawa Aruna pun perlahan menjauh dan akhirnya menghilang diujung belokan. Kedua wanita itu pun masuk ke dalam rumah untuk beristirahat. Umur mereka sudah tak lagi muda hingga tak akan mungkin kuat untuk begadang.
Sementara didalam mobil yang sedqng melaju, Aruna hanya terdiam dengan mata berkaca-kaca. Ia merasa berat hati meninggalkan nenek Sarah. Mata Aruna kini menganak sungai, Arion segera mengusap pelan pundak Aruna.
"Nenek gak apa-apa, kok. Besok juga kita bisa ke rumah beliau." Arion tersenyum tulus.
Senyuman tulus Arion seketika menenangkan perasaan Aruna. Sambil menarik napas panjang, Aruna menghapus sisa kristal bening disudut matanya. Lagi-lagi Arion memanfaatkan kesempatan memperlakukan Aruna dengan mesra. Ia tahu jika Aruna tak mungkin menolaknya didepan kakek Ramdhan.
Cup
__ADS_1
Arion mencium pucuk kepala Aruna. Bertepatan saat kakek Ramdhan melihatnya pada spion hingga menerbitkan senyuman bahagia pada bibir kakek Ramdhan.
'Nak, semoga kalian bahagia di alam sana ,,, lihatlah anak-anak kalian kini telah bersatu sesuai keinginan kalian. Doakan agar pernikahan mereka bahagia.' Batin kakek Ramdhan teringat anak menantu dan anak menantu sahabatnya yang kini telah dipanggil terlebih dahulu oleh Yang Maha Kuasa.
Mobil yang disupiri oleh supir pribadi kakek Ramdhan terus melaju membelah jalan raya yang masih dipadati oleh para pengguna jalan. Menghabiskan waktu beberapa jam sebelum akhirnya tiba di rumah mewah kakek Ramdhan pada pukul 21.30.
Pintu gerbang terbuka dari dalam setelah pria paruh baya itu membunyikqn kelakuannya sebanyak tiga kali. Security yang bertugas menyambut mereka kemudian kembali menutup pintu gerbang setelah mobil memasuki halaman rumah tersebut.
"Selamat datang kakak ipaaaarrr !!" Teriakan Arista memecah kesunyian malam.
Kakek Ramdhan hingga terjungkit kebelakang hingga beberapa langkah. Arista merasa bersalah telah mengejutkan kakek yang sangat ia sayangi.
"Buang kebiasaanmu yang suka teriak-teriak, kamu tuh sudah dewasa ,,, dan sudah pantas untuk menikah hanya saja gak ada pria yang suka dengan gadis pecicilan seperti kamu, dek." Ucap Arion dengan wajah tak berdosa.
"Jangan berdebat ! Sudah tengah malam. Lebih baik kalian masuk ke kamar masing-masing dan tidur." Ucapan kakek Ramdhan menghentikan Arista yang akan memulai serangan baliknya untuk sang kakak yang gak ada akhlak.
Arion tersenyum miring kearah Arista yang tampak kesal. Kemudian Arion menyeret koper Aruna masuk kedalam kamarnya. Arista pun masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan dongkol.
"Jangan berpikir untuk tidur di lantai, Yang karena disini gak ada sofa." Ucap Arion saat mereka sudah berada di dalam kamar.
__ADS_1
Aruna hanya menatap Arion sesaat kemudian membuka koper yang diletakkan Arion di dekat lemari. Ia mengambil baju tidur lalu masuk ke dalam kamar mandi. Aruna berdecak kagum melihat kamar mandi Arion yang mewah. Semua kebutuhannya telah tersedia di dalam kamar mandi tersebut.
Kamar mandi yang di dominasi warna putih dengan ubin yang juga tampak berkilau diterpa cahaya bohlam. Luasnya mungkin sama dengan luas kamar tidur Aruna. Ditambah dengan bathup dengan berbagai aroma terapi yang berjejer rapi. Kamar mandi Arion lebih mirip kamar mandi cewek daripada kamar mandi cowok.
'Mungkin Arion setengah melambai.' Batin Aruna terkikik geli dengan pikirannya.
Setelah mencuci wajah dan sikat gigi kemudian berganti baju tidur, Aruna lalu keluar dan menuju tempat tidur dimana Arion sudah berbaring. Rupanya Aruna terlalu lama mengamati kamar mandi Arion sehingga yang empunya kamar berinisiatif menggantinya bajunya.
"Yang, mulai malam ini kita jangan saling sinis-sinisan lagi. Kita harus memikirkan masa depan pernikahan kita." Ucap Arion serius.
"Bagaimana bisa kamu berkata semudah itu jika pada kenyataannya aku berada diantara kamu dan Aletta. Aku bukan gadis yang bisa bahagia dengan menyakiti hati wanita lain." Balas Aruna menatap wajah tampan Arion.
"Bukannya kamu yang masih menjalin kisah dengan kekasihmu ? Aku dan Aletta berakhir sebelum menikah denganmu. Kalau pun dia datang ke kantor dengan dramanya, itu karena dia tidak rela kehilangan segala fasilitas yang aku berikan." Ucap Arion tersenyum kecut.
Sekian lama Aletta menipunya dengan topeng cintanya padahal dibelakang Arion wanita itu bermain gila dengan beberapa pria yang tak jelas. Beruntung Arion secara tak sengaja melihat Aletta berpelukan dengan mesra memasuki apartemen yang ia berikan pada Aletta.
🌺🌺🌺🌺
SELAMAT PAGI READERS
__ADS_1
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA, YAK