MAHABBAH CINTA SANG MANTAN

MAHABBAH CINTA SANG MANTAN
Mahabbah Cinta Sang Mantan ~ 83


__ADS_3

Hingga selesai sarapan tak sekalipun Arion menatap Aruna membuat gadis itu semakin kesal. Pria itu benar-benar menjengkelkan, baru semalam mereka menikah dan pagi ini sudah bersikap dingin padanya.


Tak lama kemudian Restu datang dengan tumpukan map dan meletakkan di meja ruang tamu.


"Pak Restu boleh pakai ruangan disana sebagian ruang kerja." Ucap Aruna tersenyum manis pada adik iparnya itu.


Sesat Restu bingung dan selanjutnya ia terkekeh melihat ekspresi sahabat sekaligus bosnya itu. Ide jahil langsung memenuhi isi kepalanya, lumayan hiburan di pagi hari.


"Makasih kakak iparku yang cantik ,,," Balas Restu sumringah.


"Istri orang itu ,,," Sinis Arion tak terima melihat senyuman Restu.


"Iya tahu, tadi kan aku juga bilangnya kakak IPAR cantik." Sengit Restu menekan kata IPAR.


"Kalian kenapa sih, ada saja yang diperdebatkan ,,, heran deh." Aruna mengomel sambil berjalan kearah ruangan yang ia tunjuk untuk dijadikan ruang kerja mereka.


Restu lalu mengambil semua berkas yang ia bawa tadi. Berikut berkas yang sedang diperiksa oleh Arion. Sepertinya Restu memang sengaja memancing emosi bosnya itu.


"Restuuu !!!"

__ADS_1


"Sorry bos, nyonya rumah menyuruh kita bekerja di ruang kerja." Balas Restu cengengesan.


Pagi ini Restu terlihat sangat menjengkelkan dimata Arion. Semua kelakuan dan kata-kata yang keluar dari mulut asistennya itu sangat mengaduk-aduk emosi pria itu. Hingga mau tak mau Arion pun mengikuti kemana arah kaki kedua orang itu melangkah.


"Maaf kalau kurang layak." Ucap Aruna membuka tirai dan jendela ruangan tersebut.


Ruangan itu adalah bekas ruang kerja kakeknya berpuluh-puluh tahun yang lalu namun hingga kini masih terawat dengan baik. Nenek Sarah tak pernah membiarkan ruangan itu berdebu. Tapi karena sudah lama tak digunakan dan perabotnya tak pernah diganti maka kesannya sangat usang dan ketinggalan jaman.


"Run, dia belum buka puasa ?" Tanya Restu berbisik pada Aruna.


"Maksudnya ? Dia gak puasa kok, kemarin siang kan makan nasi." Jawab Aruna Balas berbisik.


Restu menepuk jidatnya menatap Aruna seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Wanita ini sungguh tidak tahu istilah pasangan suami istri pada umumnya.


"Aku memang cuti selama pak Kiyai disini, kasihan kan jika pak Kiyai ditinggal sendirian seharian penuh. " Balas Arion tak mengerti maksud dari ucapan Restu.


"Hasil apa yang mas Restu katakan ?" Timpal Aruna yang lebih tertarik pada kalimat terakhir adik iparnya itu.


"Mas Restu ?!" Arion mengulang kata-kata Aruna dengan wajah datar.

__ADS_1


"Apa ada yang salah ?"


"Kenapa panggilanmu ke Restu sama dengan ke aku ? Cari panggilan yang lain." Tegas Arion tak suka.


"Astaga ,,, gini amat ya. Aku harus panggil apa dong."


"Jangan coba-coba panggil aku abang, ya ,,, aku bukan tukang sayur. Lagian juga ini laki banyak banget protesnya. Apa karena kamu belum dapat jatah semalam ? Sehingga semua kamu protes ?" Tuduhan Restu tepat mengenai sasaran.


Wajah Aruna memerah mendengar kata-kata Restu. Ia bukanlah anak kecil yang tidak mengerti arti kata jatah. Walaupun pada pernikahannya yang lalu ia belum pernah menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri namun Aruna tahu pasti maksud perkataan Restu.


"Jangan suka asal kalau ngomong." Arion melemparkan Restu pulpen yang dipegangnya.


"Tolong jelaskan maksud mas Restu tentang tergantung hasilnya." Aruna adalah tipe gadis yang tak suka jika seseorang berbicara setengah-setengah.


"Jangan, Yang ,,, otak dia kotor." Sergah Arion melupakan kekesalannya pada Aruna. Tanpa sadar ia menyematkan panggilan sayang pada sang istri.


"Suasana pengantin baru sangat terasa disini. Lebih baik aku balik ke kantor daripada menyaksikan kalian. Gunakan waktu kalian sebaik-baiknya untuk saling mengenal luar dalam." Ucap Restu kemudian berlari ke arah pintu sebelum benda berikutnya melayang mengenai anggota tubuhnya.


🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


NAH DUA BAB HARI INI CUKUP YA,,,


JANGAN LUPA BAHAGIA.


__ADS_2