
Suara MC yang memulai acara membuat keduanya terdiam. Aruna berubah tegang saat MC mulai menyebutkan kata erang-erang atau seserahan jika di tempat lain yang berupa persembahan dari sang mempelai pria kepada mempelai wanita yang berupa perlengkapan dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Makna dari erang-erang itu adalah sebagai hadiah yang dipersembahkan oleh pengantin pria untuk pengantin wanita.Erang-erang ini juga memiliki makna jika mempelai pria sanggup memenuhi segala kebutuhan mempelai wanita.
Adapun tata cara penyerahannya, rombongan gadis pembawa erang-erang yang terdiri dari 12 orang gadis remaja berbaris rapi dikawal oleh keluarga pengantin pria menuju ke tempat pengantin wanita.
Adapun jumlah pembawa erang-erang menunjukkan derajat keturunan atau status sosial sang mempelai. Semakin banyak jumlahnya, menandakan semakin tinggi derajat sosial sang mempelai.
Saat tiba di gerbang halaman, Pengantin Pria disiram dengan Bente atau Benno (beras yang telah disangrai) oleh salah seorang sesepuh dari keluarga Pengantin Wanita. Dilanjutkan dengan dialog serah terima pengantin dan penyerahan erang-erang. Semua terdengar jelas oleh Aruna karena Syasya sengaja membuka pintu kamar Aruna yang kerap suara.
Terdengar suara Arion mengucapkan ijab qabul atas nama Aruna Melisha binti Asdi Wibowo dengan sangat kencang dan satu tarikan napas, diiringi teriakan Sah dari dan temukan tangan dari para tamu yang hadir.
Selanjutnya kakek Ramdhan mengantar sang cucu untuk menemui istrinya untuk pertama kalinya setelah resmi menjadi pasangan suami istri. Kakek Ramdhan mengetuk pintu yang tertutup rapat. Sebagai orang bugis, kakek Ramdhan pun mengerti apa yang harus dilakukan agar pintu tersebut terbuka. Beberapa lembar uang dollar ia selipkan melalui celah pintu yang membuat mata Syasya membulat sempurna dan terpekik gembira. Pintu pun terbuka lebar tanpa drama. Aruna menatap sinis pada sahabatnya yang teramat sangat matre sejak jaman purba.
"Lumayan Runrun, gaji lima bulan kedepan akan aman sentosa direkening." Bisik Syasya terkikik geli melihat ekspresi Aruna.
"Assalamualaikum ,,," Salam kakek Ramdhan saat memasuki pintu kamar mempelai wanita.
"Waalaikumsalam pak ,,, silahkan lakukan apapun padanya, sudah resmi juga kan ?" Ucap Syasya membuat kakek Ramdhan tertawa lepas mendengar kata-kata ambigu gadis muda itu.
Selesai ritual mappasikarawa ( menyentuh istri pertama kalinya) dilanjutkan dengan saling memakaikan cincin pernikahan dijari manis masing-masing. Aruna tak sekalipun melihat wajah Arion kemudian Aruna mencium punggung tangan Arion sebagai tanda baktinya pada pria yang kini resmi menjadi suaminya.
'Ya Allah berkaitan pernikahan mereka dengan kebaikan dan kebahagiaan dunia akhirat. ' Batin kakek Ramdhan berdoa dalam hati seraya menatap Aruna yang selalu tertunduk.
Kakek Ramdhan sangat memahami isi hati cucu menantunya. Kakek Ramdhan sejauh ini masih memakluminya. Peristiwa enam tahun lalu memang tak busa dibenarkan dilihat dari sudut pandang manapun.
Semua mata menatap pasangan pengantin baru yang kini sedang berjalan beriringan keluar dari kamar pengantin menuju pelaminan. Kerabat kakek Ramdhan yang penasaran sejak mendengar kabar Arion akan menikah ikut menatap kagum pada Aruna.
__ADS_1
"Senyum dong, Yang." Bisik Arion lembut.
Ritual selanjutnya adalah meminta restu pada keluarga inti kedua mempelai. Aruna berjalan menghampiri nenek Sarah yang sejak tadi menatapnya penuh haru. Aruna dan Arion bergantian mencium punggung tangan sang nenek.
"Maafkan Runa jika selama ini belum bisa membahagiakan nenek." Ucap Aruna terisak sambil memeluk nenek Sarah.
"Gak ada yng perlu dimaafkan sayang, hiduplah dengan bahagia bersama suamimu. Hanya itu harapan nenek."
Tak ada jawaban atau sekedar tanggapan dari Aruna. Semua itu tertangkap oleh netra Arion.
Keduanya kini beralih pada kakek Ramdhan yang tersenyum bahagia menyambut pasangan baru itu. Hal yang sama mereka lakukan pada kakek Ramdhan.
"Berbahgiakah kalian dan berikan kakek cicit yang banyak." Ucapan kakek yang tanpa filter membuat Aruna tersenyum kikuk.
Jika saja Arion yang mengucapkan kata-kata tersebut, sudah bisa ia pastikan jika Aruna akan mengamuk. Akan tetapi Aruna sangat menghormati pria tua itu sehingga ia hanya bisa membalasnya dengan bahasa tubuh yang salah tingkah.
Arista mendekati kedua mempelai sebelum ikut bergabung dengan keluarga yang lain. Walaupun perutnya menagih haknya namun Arista mengenyampingkannya sejenak demi menggoda kedua pasangan baru itu.
"Karena acaranya tertutup dan gak ada resepsi maka nanti malam langsung acara inti, kan ?" Arista terlihat sangat antusias dan diiringi kekehan oleh Restu yang selalu menempel padanya.
Aruna memang meminta pernikahannya sederhana saja yang penting semua ritual sahnya pernikahan terpenuhi dan tak perlu resepsi besar-besaran, cukup keluarga besar mereka saja itupun sudah terlihat ramai.
"Jangan mulai, dek. Kalau kamu pengen banget ngerasain, noh ajak si Restu ke pelaminan." Balas Arion serius sedangkan Aruna hanya menatap datar tak merubah ekspresinya.
"Beneran kak ?"
"Kalau Restu sudi memiliki istri modelan kamu, kenapa enggak ?" Balas Arion mengedipkan sebelah matanya menggoda sang sahabat.
__ADS_1
Arion bukanlah pria lugu yang tidak bisa membaca bahasa tubuh sahabatnya kala bertemu dengan Arista. Setelah Arista ke luar dan sama sekali tak pernah pulang, Restu seringkali menanyakan keadaan adiknya walaupun pertanyaannya terkesan tak berlebihan.
"Sudah ,,, sana makan supaya perutnya kenyang supaya kamu gak banyak ngomong." Arion mengusir adiknya karena tak ingin jika Aruna semakin merasa kesal padanya.
Sejak ijab Qabul hingga saat ini, Aruna sama sekali belum berbicara padanya. Gadis itu mendadak bisu. Arion yang dasarnya juga irit bicara kecuali jika bersama adik dan kedua sahabatnya pun kehabisan ide agar Aruna bisa berbicara.
"Berbicaralah atau setidaknya tersenyum pada keluarga kita agar mereka tahu jika kita bahagia dengan pernikahan ini." Bujuk Arion seraya menatap lembut sang istri.
Aruna hanya mendelik kasar dan tersenyum kikuk manakala matanya bersirobok dengan sang nenek. Pernikahan ini terjadi karena nenek Sarah, walaupun hatinya menolak tapi keinginan dan kebahagiaan nenek Sarah adalah kewajiban bagi seorang Aruna Melisha.
Melihatnya hal itu membuat Arion memiliki ide cemerlang. Hanya kakek Ramdhan dan nenek Sarah yang bisa merubah Aruna. Selain itu besok pagi-pagi Arion berencana mengunjungi pesantren pak Kyai Izham Khaliq. Ia tak ingin menunda lebih lama lagi. Rasa penasaran Arion tentang mahabbah semakin menguasainya.
Kedua wanita paruh baya kerabat kakek Ramdhan berjalan kearah kedua mempelai. Mereka ingin mengucapkan selamat menempuh hidup baru dan melihat Aruna secara dekat. Arion mempersiapkan diri manakala saudara jauhnya itu akan menyerang Aruna dengan kata-kata yang bisa menjatuhkan Aruna.
"Selamat menempuh hidup baru, nak."
"Terima kasih tante." Balas Aruna sopan.
"Ternyata kamu benar-benar cantik, sayang ,,, pantas ponakan kami jatuh cinta padamu. Semoga saja sifatmu secantik wajahmu begitupula dengan pendidikan yang dibanggakan oleh suamimu." Sarkas wanita yang bernama tante Mirna.
"Jangan khawatir tante, aku akan menjaga dengan baik suamiku dan mengenai pendidikan pun tante gak usah khawatir semua yang ada padaku adalah kualitas nomor satu." Balas Aruna sombong. Sungguh ia serasa ingin muntah dengan kata-katanya sendiri namun Aruna harus melakukannya karena tak bisa terima jika seseorang merendahkannya.
Arion tersenyum puas mendengar jawaban Aruna. Walaupun ia tahu jika Aruna menyebutnya suami dalam keadaan terpaksa namun hal itu sudah cukup membuatnya bahagia.
"Terima kasih, kamu memang pantas menjadi pendampingku." Bisik Arion setelah kedua wanita menyebalkan itu berlalu dengan wajah memerah.
🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1