MAHABBAH CINTA SANG MANTAN

MAHABBAH CINTA SANG MANTAN
Mahabbah Cinta Sang Mantan ~ 33


__ADS_3

Arion memikirkan ucapan Restu dan mulai menerka-nerka kemungkinan ia mengigau saat tertidur. Tapi mereka baru dua kali tidur di ranjang yang sama, karena keesokan harinya setelah ijab qabul, ia ke pesantren dan nginap disana. Apa mungkin semalam ia mengigau ? Kembali Arion menolak pikirannya sendiri, dirinya bukanlah tipe pria yang suka mengigau saat tertidur.


"Gak usah dipikirin, toh aku juga sudah berkata jujur padanya. Terserah dia mau terima atau tidak tapi yang pasti aku tak akan melepaskannya bagaimanapun kerjanya usahanya untuk melepaskan diri dari pernikahan ini." Ucap Arion bertekad.


Sangat sulit mendapatkan restu sang kakek dan hanya pada Aruna kakek Ramdhan memberikan restunya. Arion sangat menyayangi kakek Ramdhan melebihi apapun di dunia ini. Baginya kebahagiaan kakek Ramdhan adalah segalanya.


"Aruna belum menerima pernikahan kalian ?" Tanya Arion tak percaya. Diluar sana banyak wanita yang mengantri walaupun hanya dijadikan pelampiasan hasrat akan tetapi Aruna justru sebaliknya. Benar-benar wanita ajaib.


"Begitulah ,,," Jawab Arion frustasi.


"Kamu harus berusaha lebih keras untuk meyakinkannya."


"Bagaimana meyakinkan jika selalu saja Aletta datang dengan segala drama dan kelicikannya." Tandas Arion mengusap wajahnya kasar.


"Soal Aletta, serahkan padaku. Teruslah berusaha, batu kali saja bisa berlubang jika terus-terusan ditemenin oleh air, apalagi manusia yang memiliki hati dan perasaan." Ucap Restu memberikan semangat pada sahabatnya.


"Aku butuh saranmu dan Putra. Aku benar-benar kehabisan akal." Arion menatap sang istri yang dibatasi hanya dinding kaca.


"Bukankah kamu sedang mencari pengirim pesan enam tahun lalu ?" Tanya Restu yang tiba-tiba mengingat ucapan Arion beberapa bulan lalu sebelum Aruna menjadi sekretarisnya.


"Aku sedikit kesulitan karena peristiwa itu sudah bertahun-tahun, mungkin saja nomernya sudah berpindah tangan." Arion menarik napas panjang.


Pikirannya benar-benar terkuras hanya seputar masalah ini. Sepertinya ia butuh liburan. Tapi apakah Aruna mau diajak liburan ? Gak lucu kan jika ia hanya liburan sendiri padahal sudah memiliki istri,


Restu sangat prihatin melihat Arion yang sepertinya kehabisan akal menghadapi Aruna. Gadis itu sangatlah unik menurutnya. Tiba-tiba muncul dengan semua sifat acuhnya bahkan berlagak tak mengenal Arion yang notabene adalah mantan tunangannya walaupun belum diresmikan.

__ADS_1


"Aku akan tanyakan waktu luang Putra agar kita bisa kumpul bareng sekalian dengan istri kalian. Tapi ajak Arista juga supaya aku ada pasangan." Ucap Restu modus. Lumayan kan sekalian PDKT, masa dirinya doang yng jomblo.


Arion menatap tajam sahabatnya, bukan karena marah atau tak setuju akan tetapi Arion mencari keseriusan dibalik kata-kata Restu. Sebenarnya ia pun ingin jika adiknya menikah dengan Restu yang sudah ia kenal sejak dulu. Arion yakin jika sahabatnya itu bisa membahagiakan sang adik yang sangat ia sayangi.


"Sekalian aja kita liburan." Balas Arion bersemangat.


"Dan kantor kosong ? Lagipula Putra mana bisa liburan seenaknya. Putra seorang abdi negara jika kamu lupa." Sinis Restu.


"Kalau gitu, kita berempat liburan dan Putra yang jaga kantor."


"Dan setelah kita pulang, pekerjaan akan menumpuk dan lebih parahnya jika perusahaan PT. Glo_Tech tinggal sebuah nama. Mana bisa Putra mengurusi perusahaan." Balas Restu kesal.


'Ya, sudah sana, kembali ke ruanganmu dan selesaikan pekerjaan. Oh ya, panggilkan Aruna masuk dan suruh bawa jadwalku dan berkas yang harus aku periksa. " Titah Arion pada akhirnya.


Tanpa banyak bicara, Restu berlalu dari ruangan direktur dan mampir sejenak di depan meja Aruna untuk menyampaikan pesan pria yang terlihat sedang frustasi karena pernikahannya yang masih belum jelas arahnya.


Tok


Tok


Tok


Tak ada jawaban, Arion hanya menatap Aruna dari balik mejanya. Arion tak menyukai jika Aruna bersikap layaknya atasan dan bos. Keduanya sangat sulit membangun komunikasi yang baik. Aruna terlalu sulit diajak berbicara.


"Maaf pak, ini berkas-berkas yang bapak perlukan." Perlahan aruna meletakkan tumpukan berkas di meja Arion. Kemudian melanjutkan membacakan satu per satu jadwal Arion.

__ADS_1


Dengan setengah hati Arion mendengarkan Aruna. Rasa ingin memeluk dan bermesraan dengan sang istri sekaligus kesal karena gadis itu tetap memberi jarak dan senantiasa bersikap formal padanya, semua terasa begitu menyesakkan.


"Kita suami istri, kan ? Hilangkan sikap formalmu padaku." Kesal Arion tak dapat ia sembunyikan.


"Status kita mungkin suami istri tapi kita tidak sekarang itu sehingga harus meninggalkan sikap formal." Balas Aruna tenang disertai senyuman manis namun bagi Arion seperti sedang mengejek dirinya.


Arion meraih remote dan dengan sekali tekan kaca ruangannya menggelap. Kemudian ia berdiri dan berjalan kearah Aruna hingga jarak mereka terkikis dan hampir tak berjarak sehingga hembusan napas keduanya terasa.


"Betul, kita memang tak sekarang itu akan tetapi tidak ada salahnya kan jika kita memulainya dari sekarang." Hembusan hangat napas Arion menerpa kulit wajah dan aroma mint yang menyegarkan memenuhi indera penciuman Aruna. Tak dapat ia sembunyikan semburat merah menghiasi wajahnya.


"Jangan coba-coba melanggar perjanjian kita, pak !" Aruna tak berani mengangkat wajahnya karena jarak mereka yang terlalu dekat.


Tinggi badan Aruna yang diatas rata-rata untuk ukuran tinggi wanita membuatnya lebih memilih menundukkan kepalanya. Sementara Arion semakin mendekatkan badannya.


"Tak pernah ada perjanjian antara suami dan istri, Yang. Ketika ijab qabul terucap maka mulai saat itupula jarak diantara kita terkikis habis. Jadi jangan selalu mengingatkan tentang perjanjian tak masuk akal itu." Arion mengungkung Aruna dengan kedua tangannya.


Posisi Aruna yang berdiri dekat dinding membuat Arion dengan mudah mengungkung tubuh indah Aruna yang terbungkus dengan kemeja press body sehingga menampakkan tonjolan masa depannya yang menggoda.


Aruna mendorong tubuh kekar Arion agar mereka berjarak namun tenaga Aruna tak berarti bagi Arion dan malah semakin mendekat hingga menekan tubuh Aruna. Arion memejamkan mata mengontrol rasa yang tiba-tiba menguasai dirinya. Ia bermaksud untuk menggoda Aruna namun siapa sangka jika ternyata sesuatu dibawah sana yang lebih dahulu bereaksi. Senjata makan tuan.


Arion mencium pipi Aruna disertai er***ang frustasi, kemudian secepat kilat kembali ke mejanya dan duduk menetralkan adik kecilnya. Melihat hal itu membuat Aruna segera mengambil kangkung seribu keluar dari ruangan Arion.


Sesungguhnya jantung Aruna pun berdetak kencang namun penguasaan diri Aruna memang patut diacungi jempol. Tak sekalipun terlihat jika dirinya pun kacau karena perlakuan Arion. Tiba di luar Aruna menarik napas lega bisa terbebas dari Arion.


'Aku harus lebih berhati-hati menghadapi pria itu. Aku tak boleh terjebak dengan permainannya.' Batin Aruna.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺


__ADS_2