MAHABBAH CINTA SANG MANTAN

MAHABBAH CINTA SANG MANTAN
Mahabbah Cinta Sang Mantan ~ 19


__ADS_3

Tiba di kantor, Arion segera bergegas menuju lift tanpa memperdulikan tatapan karyawan yang menatapnya aneh. Baru kali ini bos mereka terlambat walaupun bukan hal yang luar biasa , wajar saja jika seorang bos terlambat namun bagi mereka tetaplah suatu kejadian langka. Pasalnya selama ini Arion selalu datang tepat waktu.


Ting


Lift yang memuat Arion berhenti di lantai lima. Ia bergegas keluar menuju ruangannya, Mata elangnya mencari sosok gadis yang semalam ia lamar. Hatinya gelisah, tidak biasanya sekretarisnya itu datang terlambat. Ia bingung harus menghubungi siapa untuk mencari tahu keberadaan Aruna.


Arion mengusap kasar wajahnya frustasi. Jangankan nomor telepon Aruna, nomor nenek Sarah saja ia tak punya. Arion teringat adiknya yang mengenal calon istrinya.


Drrrrttttt drrrrttttt


"Halo kak, aku baru bangun dan otakku belum bisa bekerja dengan baik karena belum sarapan juga, jadi tolong kalau bertanya jangan yang berat-berat, ya." Cerocos Arista saat melihat ID pemanggilnya adalah Arion.


"Cerewet ! Kakak hanya ingin menanyakan nomor telepon Aruna. "


"Hehehhe ,,, maaf kak, aku gak punya. " Balas Arista terkekeh


"Memangnya kenapa, kak ? "


"Aruna gak masuk dan tak ada pesan juga. Kakak hanya khawatir. "


"Khawatir melarikan diri ? Jangan khawatirkan itu kak. Aku tahu kak Aruna gadis yang baik dan bertanggung jawab. Oh ya, cari karyawan di perusahaan namanya Tasya, dia teman kakak ipar pasti punya nomor teleponnya. "


Arion langsung mematikan panggilan selulernya secara sepihak. Arista mengomel tak jelas diperlakukan tidak sopan seperti itu.


"Dasar kakak gak ada akhlak. " Arista berjalan keluar dari kamarnya sembari mengomeli ponselnya seolah itu adalah Arion.


Melihat tingkah cucunya yang mengomel tak jelas sambil menunjuk-nunjuk ponselnya membuat kakek Ramdhan terkekeh. Sungguh satu hiburan di pagi hari.


"Ada apa ? pagi-pagi gak boleh ngomel rezeki gak mau masuk rumah. " Ucap kakek Ramdhan serius.

__ADS_1


"Gak apa-apa rezeki gak masuk, kek, yang penting Restu masuk rumah. " Balas Arista terkikik geli dengan ucapannya sendiri.


Gimana ceritanya, kan si Restu saban hari masuk rumah. Lagi-lagi Arista terkikik geli.


"Kamu mencintai Restu, nak ?" Tanya Kakek Ramdhan menatap menyelidik pada Arista.


"Gak kok kek, hanya bercanda aja ." Kakek Ramdan tersenyum melihat wajah cucunya yang merona.


Kakek Ramdhan bukanlah anak-anak yang dengan mudahnya percaya begitu saja pada omongan Arista. Apalagi dengan wajah merona seperti itu. Kakek Ramdhan juga pernah muda.


Sementara itu di perusahaan PT. Glo_Tech, Arion panik karena nomor yang diberikan oleh Syasya ternyata tidak aktif. Berkali-kali Arion menelepon namun hanya suara operator yang terdengar. Arion kemudian menelepon nenek Sarah dan melupakan meetingnya.


Drrrrttttt drrrrttttt


Ponsel nenek Sarah berteriak meminta perhatiannya. Sebuah nomor yang taksaat bernama. Walaupun nenek Sarah pada awalnya mengira hanya telepon isenb namun tak urung ia menjawabnya karena ponselnya tak berhenti berdering.


"Assalamualaikum ,,, maaf dengan siapa ?" Tanya nenek Sarah sedikit ragu.


"Waalaikumsalam nek, dengan Arion , nek."


"Oh nak Arion. Ada apa ya, nak ? Apa Aruna bikin masalah di kantor ? Soalnya dia berangkat pagi-pagi sekali nak, katanya banyak pekerjaannya yang belum selesai kemarin. " Ucapan nenek Sarah menjawab semua pertanyaan Arion.


"Aku hanya ingin menanyakan kabar nenek aja, kok. Gak ada masalah. " Balas Arion berbohong.


Ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada nenek Sarah. Arion tak ingin pernikahannya ditunda jika sang nenek tiba-tiba di lapisan kacamata rumah sakit gara-gara kelakuan Aruna.


Wajah Arion memerah menahan amarahnya. Ia bisa memastikan jika Aruna menemui kekasihnya. Seharusnya gadis itu tahu batasannya. Pernikahan mereka sisa menghitung hari yang jika dihitung pun tak qkqn menghabiskan kelima jari tangannya. Apa istimewanya pria itu.


Aruna kini berada di bandara menjemput Kevin. Dua hari lalumia mendapat kabar dari adik Kevin jika sang kekasih akan tiba di tanah air siang ini. Sepulang dari Inggris, Kevin mengunjungi neneknya di Malaysia. Aruna ingin memberikan kejutan pada Kevin dengan menjemputnya.

__ADS_1


Aruna memperhatikan setiap penumpang yang keluar dari pintu kedatangan. Senyumnya semakin melebar kalah melihat seorang pria tinggi dan tampan berjalan keluar. Aruna segera berteriak memanggil pria yang telah mengisi hari-harinya selama ini. Aruna tak memperhatikan sekitarnya, fokusnya hanya pada Kevin.


"Kev ,,, Kevin !!!" Teriak Aruna setengah berlari kearah Kevin.


Merasa namanya di panggil Kevin berusaha mencari sumber suara. Ketika matanya melihat sosok wanita cantik mendekatinya, wajah Kevin tiba-tiba berubah. Tak ada senyum di wajahnya.


"Honey, siapa dia ?" Tanya gadis cantik yang bergelayut manja pada lengan Kevin.


Aruna mundur dua langkah melihat keduanya. Berkali-kali menggeleng-gelengkan kepalanya berharap semua hanya bayangan semu namun ternyata apa yang ia lihat adalah sebuah kenyataan. Kenyataan yang menyakitkan dan melukai hati namun tak berdarah. Aruna tersenyum kecut dan segera menormalkan perasaannya.


" Hai, selamat datang di Indonesia. " Ucap Aruna tersenyum ramah.


Wah, ternyata Aruna seorang pemain sandiwara yang handal. Kevin grosir dan serba salah namun Aruna memperlihatkan kesan yang biasa saja seperti haknya seorang teman.


"Honey, wanita ini hanya teman, kan ?"


"Be ,,, benar, dia temanku namanya Aruna. " Balas Kevin tergagap.


Kreeeekkk, bunyi ranting patah berasal dari hati Aruna. Pembenaran Kevin membuat Aruna berusaha menatap manik mata pujaan hatinya. Apa arti hubungan mereka selama beberapa tahun ini ? Jadi selama ini hanya dirinya yang serius dalam hubungan ini? Aruna menyesal meninggalkan pekerjaannya demi pria ini. Detik ini juga Aruna bertekad tak akan menemui pria di depannya ini.


Setelah berbasa basi sejenak, Aruna memutuskan pergi dari hadapan mereka. Tak ada airmata seperti dalam novel-novel yang selama ini ia baca. Airmata Aruna terlalu berharga untuk menangisi pria yang sama sekali tak menghargai sebuah komitmen.


'Mengapa takdirku selalu dipertemukan dengan pria yang selalu meninggalkanmu demi wanita lain ?' Batin Aruna meringis.


Aruna duduk di belakang setir dan menarik napasnya yang terasa berat kemudian menghembuskannya secara kasar berharap rasa dalam hatinya menghilang bersamaan dengan hentakan napasnya.


Melirik jam yang melingkar manis menghiasi pergelangan tangannya membuat Aruna memutuskan untuk berjalan-jalan sekedar menghibur hati. Mungkin saja kekecewaannya bisa berkurang. Lagipula tidak mungkin jika ia akan masuk kantor jam 11, bisa-bisa ia akan diamuk oleh direkturnya. Perlahan ia menginjak gas keluar dari pelataran parkiran bandara.


Walaupun sedikit menyesali takdir namun Aruna pun bersyukur karena tanpa harus merasa bersalah memutuskan hubungannya dengan Kevin. Dengan atau tanpa pengkhianatan Kevin, Aruna tetap harus mengakhiri kisah cintanya bersama Kevin. Aruna memetik hikmah di balik peristiwa tadi.

__ADS_1


Aruna tak memiliki rasa untuk Arion namun demi balas budinya pada nenek Sarah yang selama ini membesarkannya dengan seluruh kasih sayang yang dimiliki oleh sang nenek membuatnya menurut. Mengesampingkan kebahagiaannya demi kebahagiaan orang lain adalah ibadah juga, kan ? Biarlah Aruna menuai pahala dari ibadahnya itu.


🌺🌺🌺🌺


__ADS_2