
Nenek Sarah yang sedang duduk di teras rumahnya bingung melihat sebuah mobil yang tak dikenal berhenti didepan pintu pagarnya. Tubuh rentanya perlahan bangun dari duduknya untuk memastikan seeorang yang turun dari mobil tersebut.
"Assalamualaikum nek !!!" Teriak Aruna melihat sang nenek menatap kearahnya.
"Runa ???!! Cucu nenek ??!!" Balas nenek Sarah dengan suara serak khas wanita renta.
"Jawab dulu salam Runa, nek." Ucap Aruna seraya menarik kopernya memasuki pintu pagar rumah yang setahun ini ia tinggalkan.
Setengah berlari Aruna menghampiri sang nenek. Rasa rindunya pada wanita tua yang mengurusnya sejak kecil tak dapat ia bendung.
"Selamat datang, sayang ,,, nenek mohon jangan pergi lagi." Nenek Sarah memeluk erat tubuh Aruna.
Kondisi kesehatan nenek Sarah sudah tak memungkinkannya untuk melakukan perjalanan jauh makanya sejak dua bulan terakhir, nenek Sarah tak mengunjungi Aruna walaupun ia sangat merindukan cucu satu-satunya.
"Runa ada pekerjaan di Indonesia, nek. Runa juga berencana menetap disini, nek."
Sungguh Aruna tak tega meninggalkan nenek Sarah dengan kondisi kesehatan seperti saat ini. Aruna memilih kehilangan pekerjaannya jika Radit mengharuskannya kembali ke Inggris. Biarlah ia memulai usaha kecil-kecilan untuk menyambung hidup daripada harus berpisah dengan sang nenek.
"Kamu pasti capek kan ? Istirahat gih ,,," Titah nenek Sarah melihat wajah lelah cucunya.
"Gak capek sama sekali, nek." Aruna justru mendudukkan b***ngnya sambil membuka tas besar yang sejak menaiki pesawat tak pernah ia lepaskan.
Tas yang berisi dokumen kerjasama perusahaan tempat ia bekerja dengan perusahaan kliennya. Nenek Sarah hanya diam melihat apa yang dilakukan oleh Aruna.
"Ini berkas dan surat penunjukanku sebagai wakil perusahaan tempat Runa bekerja, nek." Ucap Aruna menjelaskan tanpa diminta.
Aruna sangat mengenal sang nenek yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap sesuatu hal yang baru. Layaknya anak-anak usia gold yang sedang masa pertumbuhan.
Dengan santai Aruna membuka map berwarna biru dan membaca huruf demi huruf yang ditangkap menjadi sebuah kata. Matanya membulat sempurna tak percaya dengan apa yang ia baca. Aruna kembali membaca kertas tersebut untuk memastikan kebenarannya. Berkali-kali Aruna membacanya namun hasilnya tetap sama perusahaan yang akan menjadi kliennya adalah PT. Glo_Tech.
"Radit benar-benar gak ada akhlak." Gumam Aruna pelan dengan wajah putus asa sehingga nenek Sarah tak mendengarnya.
__ADS_1
"Ada apa, sayang ,,, kok wajahnya mendadak gusar gitu ,,," Tanya nenek Sarah prihatin.
"Ternyata klien perusahaanku adalah PT. Glo_Tech, nek. Perusahaan milik Arion." Terdengar nada kecewa pada suara Aruna.
Nenek Sarah tersenyum. Ia merasa jika kini sudah tiba waktunya untuk memberitahukan Aruna tentang PT. Glo_Tech yang dianggapnya milik Arion seorang.
"Sayang, dengarkan nenek baik-baik. Kamu dan Arion memiliki hak yang sama pada PT. Glo_Tech. Dulu kakekmu dan Ramdhan berkongsi untuk mendirikan perusahaan itu karena suami nenek itu hanya ingin hidup tenang maka Ramdhanlah yang bekerja keras mengembangkan PT. Glo_Tech bahkan modal kakekmu yang paling besar. Jadi wajar saja jika orang-orang mengenal Ramdhan sebagai pemilik perusahaan. Dan dana yang setiap bulan masuk pada,rekeningmu adalah hakmu sebagai salah satu pemilik PT. Glo_Tech." Jelas nenek Sarah panjang lebar.
Sebuah fakta baru yang Aruna ketahui tentang PT.Glo_Tech. Pantas aja kakek Sanjaya menjodohkannya dengan Arion. Rupanya untuk menghindari perebutan kepemilikan perusahaan tersebut.
"Jadi jika aku menuntut sebuah jabatan pada perusahaan tersebut, wajar kan nek ?" Tanya Aruna tersenyum begitu manis.
Melihat senyuman manis sang cucu yang terlihat lebih manis dari gula membuat nenek Sarah khawatir. Senyuman manis itu merupakan kebiasaan Aruna jika akan melakukan sesuatu yang buruk.
"Jangan berpikir untuk merecoki nak Arion, sayang ,,, selama ini anak itu sudah bekerja keras agar perusahaan tetap stabil. Hanya itu tanda mata dari kakekmu."
"Ck, nenek terlalu negative thingking padaku." Balas Aruna kecewa karena nenek Sarah bisa membaca pikirannya.
"Aku mandi dulu nek." Lanjut Aruna masih terlihat kesal.
Aruna lalu berjalan menuju kamarnya dengan menyeret kopernya. Sejak tadi ia tak melihat bi Ina yang selalu mendampingi sang nenek. Rasa penasaran Aruna tentang bi Ina sejenak ia singkirkan. Ia harus mandi dan beristirahat sejenak, hanya itu yang dibutuhkannya saat ini.
Sejenak Aruna mengedarkan pandangannya menilik setiap sudut kamar yang tampak sama saat ia meninggalkannya setahun yang lalu.
'Semua masih sama.' Batin Aruna melanjutkan langkahnya menuju lemari pakaiannya.
Aruna mengambil pakaian lamanya kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Ia segera melakukan ritual mandinya, tak mungkin tidur dalam keadaan belum mandi setelah menempuh perjalanan jauh.
Sepuluh menit kemudian Aruna keluar dari kamar mandi dengan perasaan segar. Tak ingin membuang-buang waktu, ia langsung membaringkan tubuh lelahnya di atas kasur empuk miliknya. Aruna memilih untuk tinggal di rumah yang penuh dengan kenangan daripada harus tinggal diapartemen yang disiapkan oleh klien perusahaannya.
Tak menunggu waktu lama bagi Aruna untuk segera berlayar ke pulau yang tak bertepi. Rasa lelah, kantuk dan nyaman menjadi satu hingga membuatnya seketika terlena dan terbuat oleh mimpi.
__ADS_1
Hari semakin gelap namun Aruna belum juga tersadar dari tidurnya. Hingga ketukan di pintu kamarnya menarik kembali nyawa Aruna agar segera bangun.
Tok
Tok
Tok
"Iya, bentar ,,," Teriak Aruna dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Bergegas Aruna membuka pintu kamarnya sebelum ketukan berikutnya kembali terdengar. Aruna pun tak lupa menyalahkan lampu kamarnya yang gelap gulita. Tanpa kesulitan ia berhasil menemukan tombol lampunya.
"Nyenyak banget tidurnya ,,," Ucap nenek Sarah saat pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok Aruna dengan rambut acak-acakan.
"Maaf nek ,,," Balas Aruna cengengesan.
"Cuci muka dulu, gih ,,, kasihan masakan bi Ina keburu dingin."
Tanpa membalas ucapan sang nenek, Aruna segera berlari kearah kamar mandi. Mendengar nama bi Ina dan masakannya membuatnya tiba-tiba merasa lapar. Sudah sekian lama ia tak mencicipi masakan bibi kesayangannya. Hanya masakan bi Ina yang mampu menggugah selera makannya walau hanya mendengarnya.
"Apa kabar bi Ina sayang ,,," Aruna langsung memeluk wanita tua itu dari belakang.
"Non Runa semakin cantik aja ,,," Balas bi Ina tak bisa bergerak karena pelukan erat nona mudanya.
"Iya dong bi, kan masih gadis ,,," timpal Aruna terkekeh.
Nenek Sarah tersenyum kecut mendengar ucapan cucu kesayangannya. Kesalahan kedua yang ia lakukan kala menerima lamaran Arion. Nenek Sarah berjanji dalam hati tak akan ikut campur dalam urusan asmara cucunya dikemudian hari. Sudah cukup penderitaan yang Aruna alami karena kesalahannya.
🌺🌺🌺🌺
SELAMAT PAGI READERS
__ADS_1
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA