
Beberapa saat setelah mereka selesai makan malam, kakek Ramdhan dan Arista pamit pulang.
"Kami pulang dulu dan besok sore kakek kesini lagi menjemput kalian." Ucap kakek Ramdhan.
"Gak perlu, kek ,,, kami berdua langsung ke rumah setelah pulang kantor." Balas Arion merangkul pundak Aruna.
"Itu tradisi kita nak, setiap pengantin baru akan dijemput oleh pihak mempelai pria untuk menginap dirumah orang tua mempelai pria. Seharusnya sih hari ini tapi kakek melihat kamu terlalu lelah." Kakek Ramdan menatap Arion yang memang terlihat sangat lelah.
Arion dan Aruna bergantian bersalaman dengan kakek Ramdhan sembari mencium punggung tangannya sebagai rasa hormatnya pada pria tua itu. Keduanya pun mengantar kakek Ramdhan dan Arista menuju mobil.
"Aku pesan ponakan yang lucu, ya kak ,,," Ucap Arista memgedipkan sebelah matanya pada kedua pasangan yang tampak berbahagia itu sebelum kemudian menginjak gas mobilnya.
Aruna menghempaskan tangan Arion setelah mobil yang disupiri oleh Arista menghilang dari pandangan.
"Kasar pada suami itu dosa lho, Yang ,,,"
"Menikahi wanita tanpa cinta memang neraka dunia, pak." Balas Aruna tidak nyambung membuat Arion terkekeh.
Aruna berjalan dengan cepat meninggalkan Arion yang masih terdengar kekehannya yang menjengkelkan. Aruna langsung masuk ke dalam kamar mengambil posisi duduk di sofa dengan ponsel ditangannya. Malam pun semakin larut. Semua penghuni rumah kini telah berada di dalam kamar masing-masing.
Suasana canggung dalam kamar sangat terasa. Pasangan pengantin yang belum cukup satu minggu tak saling bertegur sapa layaknya suami istri pada umumnya. Mereka lebih mirip dua orang asing yang baru bertemu. Arion tak tahan dengan sikap Aruna yang terlalu cuek padanya.
__ADS_1
"Besok kita ke kantor sama-sama dalam satu mobil." Ucap Arion memecah kesunyian.
Aruna mengangkat wajahnya dan menatap Arion sekilas kemudian kembali menatap ponselnya. Aruna berusaha memilih kata yang tepat agar tak terdengar ketus. Sungguh ia tidak bisa berbicara manis pada pria di depannya.
"Aku sudah terbiasa berangkat sendiri. Lagipula aku tidak ingin jadi bahan pembicaraan karyawan di kantor."
Akhirnya Aruna menimpali Arion setelah beberapa saat terdiam, walaupun terdengar sangat datar dan tanpa ekspresi.
"Mulai besok semua kebiasaanmu saat masih gadis harus berubah. Termasuk ke kantor."
Mendengar kata-kata Arion yang terkesan tak ingin di bantah membuat Aruna menatap tajam pria yang kini berstatus sebagai suaminya itu dan menghentikan kegiatannya. Aruna menjeda gamenya.
"Aku hanya akan mematuhi perjanjian yang aku buat lagipula perjanjian itu hanya paraf bukan tanda tangan. Jadi bisa aja perjanjian itu dianggap palsu." Arion tersenyum miring lalu berbaring dengan nyaman di kasur empuk milik Aruna.
Wajah Aruna merah padam mendengar ucapan Arion. Ia segera membuka laci meja riasnya dimana surat perjanjian tersebut ia simpan. Matanya melotot sempurna melihat tanda tangan Arion benar-benar hanya berupa paraf. Pria ini benar-benar licik dan ia harus ekstra hati-hati menghadapinya.
"Sudah malam, Yang ,,, jangan sampai besok telat bangun, bisa-bisa nenek salah paham." Ucap Arion dengan mata tertutup.
Aruna semakin kesal mendengar kata-kata Arion. Ia bukanlah anak balita yang tak mengerti maksud kata-kata Arion. Dengan kasar Aruna mengambil bantal kepala dan guling kemudian kembali ke sofa. Ia lalu membuka lemari untuk mengambil selimut. Aruna memilih tidur di sofa daripada harus berbagi tempat tidur dengan Arion. Ia lebih baik menghindari Arion karena pria itu ternyata sangat licik. Aruna tak ingin tertipu.
Arion membuka matanya dan bangun. Tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya, ia mengambil bantal dan menuju sofa dimana Aruna kini berbaring. Karena tubuh Aruna yang langsing dan berbaring dengan posisi miring maka Arion pun berbaring dengan posisi miring pula. Posisi mereka yang berdekatan seperti itu membuat Aruna menegang. Aruna tak mungkin membalikkan badannya karena posisi mereka yang saling berdempetan tak ada jarak sedikitpun.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan ? Aku gak bisa tidur !!" Seru Aruna kesal sekaligus merinding. Aruna tak pernah dalam posisi sedekat ini dengan seorang pria.
"Pindah ke tempat tidur atau kita diposisi seperti ini sampai pagi. Aku sih gak ada masalah lagipula kita suami istri." Balas Arion semakin merapatkan tubuhnya.
"Ok, aku pindah." Aruna memilih untuk mengalah daripada posisi yang sangat tak menguntungkan dirinya. Aruna tak tahu isi kepala seorang Arseno Arion.
Dengan senyum penuh kemenangan Arion bangun dan berjalan lebih dulu menuju tempat tidur. Sementara Aruna menatapnya dengan kesal. Sepertinya Aruna harus menyiapkan mentalnya agar kuat menghadapi Arion yang selalu membuatnya kesal.
Perlahan Arion menutup matanya, rasa lelah dan kantuk menyerangnya tanpa ampun. Aruna pun berusaha memejamkan matanya, ia tak ingin terlambat bangun agar bisa berangkat ke kantor lebih pagi. Aruna belum siap jika harus ke kantor bersama Arion. Bisa-bisa bibir para karyawan dower membicarakannya.
Saat Aruna tertidur, Arion membuka matanya walaupun ia sangat lelah dan mengantuk namun Arion menahannya menunggu Aruna tertidur pulas. Perlahan Arion meletakkan tangannya pada perut Aruna sambil tersenyum licik.
Arion tertawa tanpa mengeluarkan suara dengan kelakuannya sendiri yang seperti maling sendal. Hanya untuk memeluk istri sendiri harus dengan cara yang tak terpikirkan oleh orang lain. Restu pasti akan menertawakannya jika mengetahui hal ini.
Rasa nyaman kembali Arion rasakan sama seperti pertama kali ia memeluk Aruna. Perlahan matanya tertutup rapat mengarungi mimpi dengan sejuta harapan di masa akan datang. Arion akan berusaha menumbuhkan rasa cinta Aruna padanya dan melupakan kekasihnya.
🌺🌺🌺🌺
TERIMA KASIH ATAS DUKUNGANNYA SELAMA INI
SALAM HANGAT DARI OTHOR
__ADS_1