
Melihat Aletta masuk ke dalam ruangannya membuat Arion kesal. Ia segera meraih remote agar ruangannya terlihat jelas dari luar. Arion semakin kesal manakala Aruna terlihat tak peduli dan malah menyibukkan diri dengan pekerjaan di depannya.
Sebenarnya Aruna bukannya tak peduli, istri mana yang rela jika suaminya bertemu dengan kekasihnya namun Aruna memilih diam karena memaklumi jika dirinya adalah orang ketiga diantara pasangan itu.
Tak terdengar apa yang Arion katakan pada Aletta, hanya terlihat mencak-mencak sambil menunjuk-nunjuk Aletta. Sepertinya terjadi pertengkaran hebat diantara keduanya. Aruna diam-diam melirik dengan ekor matanya. Ia tak bisa mengesampingkan sifat wanitanya yang sering kepo dengan urusan orang lain.
Restu berlari memasuki ruangan Arion. Kemudian Restu menarik paksa Aletta keluar ruangan direktur. Tak lama kemudian kepala keamanan beserta pak Slamet dan beberapa security berdatangan membuat suasana lantai lima sedikit lebih ramai.
"Kalian dengarkan baik-baik ! Jika wanita ini masih menampakkan wajahnya di area kantor ini, maka kalian semua aku pecat tanpa pesangon !!" Ucap Arion dengan wajah memerah sambil berkacak pinggang.
Para security bahkan Restu yang biasanya selalu bercanda dengan sang bos, kini bergidik ngeri melihat kemarahan pria berusia 33 tahun itu. Jangankan Aruna, Restu saja yang sudah bersahabat dengan Arion sejak putih abu-abu belum pernah melihatnya semarah seperti sekarang.
"Arion, aku mencintaimu ,,, sampai kapanpun kamu hanya akan menjadi milikku." Ucap Aletta dengan berderai airmata.
"Mbak, jangan merendahkan diri seperti ini. Mungkin pak Arion bukan pria yang terbaik buat mbak." Aruna tak dapat menahan diri lagi. Sebagai sesama wanita, ia merasa sangat kasihan melihat kondisi Aletta saat ini.
"Tapi aku sangat mencintainya, dia pun tahu akan hal itu."
"Mungkin suatu saat nanti beliau akan kembali pada mbak Aletta. Sabar ya ,,," Ucap Aruna mengusap pelan punggung Aletta yang bergetar karena tangisannya.
"Tapi dia sudah menikah, harapanku sudah tak ada lagi. Semua gara-gara kakek tua itu !" Teriak Aletta penuh dengan amarah.
Arion menatap tajam Aruna yang berusaha membujuk Aletta. Sungguh kata-kata Aruna membuatnya semakin murka. Mata Arion memerah memberi kode pada security agar membawa Aletta keluar dari perusahaannya.
Dalam waktu singkat, Aletta menghilang dari hadapan Arion. Restu pun kembali ke ruangannya. Arion segera menarik tangan Aruna masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Apaan sih tarik-tarik ,,," Aruna meringis melirik tangannya yang masih berada dalam cengkeraman Arion.
"Apa maksud ucapanmu pada Aletta ?!" Tanya Arion dengan nada datar dan tatapan dingin.
__ADS_1
"Bapak harus memikirkan kembali pernikahan kita, sebelum semua jadi kacau. Kasihan mbak Aletta dibuang begitu saja seperti barang bekas setelah bapak puas memakainya." Balas Aruna prihatin dengan Aletta.
Arion menatap Aruna dengan tajam, sementara Aruna bersikap santai dan biasa-biasa saja. Arion berusaha menyelami pikiran Aruna dengan menatap lekat-lekat manik mata coklat terang milik istrinya yang hingga hari ini masih perawan. Namun usahanya sia-sia, manik mata Aruna tak memperlihatkan apapun.
'Mengapa ada wanita seperti ini ? Teramat sangat misterius." Batin Arion frustasi.
Semakin lama menatap Aruna semakin besar tantangan yang Arion rasakan. Hingga ia melupakan doa mahabbah yang pernah Kiyai Izham Khaliq ajarkan. Otaknya hanya dipenuhi oleh keinginan untuk segera memiliki hati sang istri.
"Jadi kamu berpikir jika selama ini aku melakukan hubungan suami istri dengan Aletta ?" Arion menatap Aruna dengan tajam.
Aruna hanya mengangkat kedua bahunya dengan ekspresi yang menyiratkan jika ia manatau. Arion mencebikkan bibirnya dan tersenyum sinis.
"Aku akui jika aku bukanlah pria baik-baik tapi untuk melakukannya dengan Aletta, itu sangat tidak mungkin karena aku tahu kakek tak akan pernah merestui hubungan kami. Dan lagipula aku sangat mengenal Aletta dengan semua kelakuannya. Jujur, sebagai pria dewasa yang membutuhkan penyaluran hasrat, aku memang sering melakukannya tapi aku bermain aman dan tanpa perasaan." Arion mengatakan yang sejujurnya karena tak ingin Aruna semakin salah paham. Ucapan Aruna pagi tadi menghantui pikirannya.
Aruna tertawa sumbang mendengar penuturan Arion. Keinginannya untuk melepaskan pernikahannya semakin besar. Aruna tak bisa melanjutkan pernikahan ini apapun alasannya.
"Tapi setidaknya aku mencintainya. Balas Aruna semakin membuat Arion kesal.
Braaakkk
Arion melampiaskan kemarahannya dengan memukul meja tamu sehingga kaca meja tersebut hancur. Aruna bukannya kaget ataupun takut, ia malah tersenyum sinis kemudian keluar ruangan tanpa memperdulikan tangan Arion yang terluka akibat terkena pecahan kaca.
Aruna menemui Restu di ruangannya dan meminta bantuan pria tampan itu. Ia tak tega melihat tangan Arion berdarah namun ia tak bisa berbuat apa-apa karena memiliki fobia pada darah.
Kedua orang tuanya meninggal dengan bersumpah darah di depan matanya, hal itulah yang membuatnya tak sanggup melihat darah. Walaupun sekarang fobianya sedikit berkurang dan bisa menguasai diri namun tak sepenuhnya sembuh.
"Bos, ada apa ? berapa kali aku bilang, kuasai diri dan jangan gampang emosi." Omel Restu seraya mengambil kotak P3K yang terletak digemari kaca sudut ruangan.
"Semua ini karena gadis itu. Aku harus menyiapkan diri sebaik mungkin agar tak mati mendadak." Balas Arion membuat Restu terkekeh.
__ADS_1
"Sejak kedatangan Aruna, emosi bagaikan rollercoster, naik turun dan menukik. " Gurau Restu sambil membersihkan darah segar ditangan Arion.
"Awwww ,,, pelan-pelan monyong ,,," Arion berteriak sambil memukul lengan Restu.
"Ck, cengeng ,,,"
Arion tak membalas ucapan asisten sekaligus sahabatnya. Rasa perih akibat obat yang di berikan oleh Restu membuatnya hanya bisa meringis pasrah. Asistennya ini benar-benar mengerjainya.
"Pulang kantor kita kumpul-kumpul, yuk. Ajak istri Putra agar Aruna ada teman." Ajak Restu agar Aruna bisa berbaur dengan mereka.
"Nantilah setelah Aruna bisa menerima pernikahan kami, lagipula nanti sore kakek akan ke rumah nenek Sarah untuk menjemput kami menginap di rumahnya. Kamu tahu kan kakek memiliki adat istiadat yang panjang."
"Bukan salah kakek, sih ,,, memang kita harus melestarikan adat istiadat sebagai salah satu budaya bangsa." Ucap Restu serius.
Arion tertawa terpingkal-pingkal mendengar kata-kata Restu yang mirip seorang budayawan. Untuk pertama kalinya Restu terdengar membahas adat istiadat dan budaya bangsa. Selama ini mereka hanya terlibat pembicaraan serius mengenai peluang bisnis dan untung ruginya kerja sama mereka dengan perusahaan lain. Sesaat Arion melupakan rasa nyeri pada tangannya yang terluka.
"Oh ya, kamu sudah mempraktekkan kemahiranmu pada Aruna, kan ?" Restu menampilkan wajah seriusnya.
"Kamu yang cerita pada Aruna jika aku sering bermain dengan wanita ?" Tuduhan Arion membuat Restu melotot tajam.
"Jangan asal nuduh, dong ,,, mungkin kamu pernah mengigau yang aneh-aneh." Balas Restu sewot.
Sejahil-jahilnya Restu pada kedua sahabatnya namun untk membicarakan rahasia mereka sangat tidak mungkin. Restu sangat memegang kepercayaan sahabatnya.
🌺🌺🌺🌺
Terima kasih atas dukungannya
Salam manis dari dunia halu
__ADS_1