
Pesta berlangsung dengan sangat meriah dan mewah. Tamu undangan yang berdatangan pun sebagian besar dari kalangan atas yang merupakan rekan bisnis kakek Ramdhan dan diteruskan oleh Arion.
Sebagai tuan rumah yang baik, Aruna dan Arion berdiri menyambut para tamu undangan, sedangkan kakek Ramdhan berdiri diatas pelaminan mendampingi pasangan yang berbahagia malam ini.
"Yang, mas ke toilet dulu, ya ,,," Ucap Arion tiba-tiba.
Aruna hanya mengangguk mengiyakan karena sedang bersalaman dengan istri salah seorang pengusaha. Dan Arionpun berlalu dengan tergesa-gesa. Aruna hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sang suami. Namun dahinya mengernyit penasaran melihat seorang wanita berjalan ke arah yang sama dengan Arion pun tergesa-gesa pula.
'Mungkin hanya kebetulan.' Batin Aruna berpikiran positif.
Hingga hampir satu jam Arion belum juga kembali. Pikiran Aruna mulai dikuasai oleh bayangan-bayangan yang mengerikan bagi Aruna. Mengingat masa lalu Arion yang memang belum bisa dilupakan begitu saja oleh Aruna.
Para tamu undangan sudah mulai menikmati makanan yang tertata rapi di atas meja. Aruna memanfaatkannya untuk mencari Arion yang menghilang entah kemana. Aruna terus berjalan ke arah toilet yang ditunjukkan oleh salah seorang pegawai hotel yang bertugas di ballroom tempat berlangsungnya acara.
Semakin mendekati toilet semakin kencang pula detak jantung Aruna. Dengan menarik napas panjang, Aruna memantapkan langkahnya dan bersiap menerima kenyataan jika memang yang ia pikirkan benar adanya.
Aruna terperanjat satu mendengar suara pertengkaran di dalam toilet tersebut. Seketika ia tersenyum kecut mendengar suara yang ia kenal dan inti dari pertengkaran mereka. Aruna menyiapkan ponselnya dan mulai merekam keduanya.
Mencoba menguatkan diri Aruna perlahan membuka pintu toilet dengan sangat perlahan. Matanya membulat sempurna kala melihat kelakuan pasangan anak manusia itu. Pantas saja pertengkaran mereka yang entah sudah berapa lama tiba-tiba terhenti. Rupanya penyelesaiannya sungguh indah sehingga melebar semua amarah yang menguasai mereka.
"Ehem ,,, ehem !" Setelah dirasa cukup, Aruna sengaja berdehem untuk menyadarkan mereka.
"E ,,, Yang ,,,kejadiannya tak seperti yang kamu lihat." Wajah Arion pucat pasi melihat kehadiran Aruna.
"Dilanjutin aja, aku gak lihat apa-apa kok ,,," Balas Aruna santai kemudian mencuci tangannya dan merapikan riasannya.
__ADS_1
Penguasaan diri Aruna patut diacungi sepuluh jempol. Tak terlihat secuilpun kemarahan di wajahnya. Walaupun hatinya sakit hingga terasa sampai ke ujung rambut namun senyuman manis terus menerus ia perlihatkan. Setelah selesai Aruna kembali berjalan dengan santai keluar tanpa memperdulikan kedua pasangan la**at itu.
"Darimana, Run ,,, mbak daritadi nyariin kamu lho ,,," Sambut Rani saat melihat Aruna kembali memasuki ruangan pesta.
"Hehehe ,,, maaf mbak. Aku kebelet pipis." Balas Aruna berdalih sambil nyengir kuda.
Rani hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sisi lain dari Aruna. Sejak ia mengenal Aruna, baru kali ini Rani melihat demikian manisnya.
"Oh ya, mbak ,,, mas Putra kemana ?" Aruna mengedarkan pandangannya mencari sahabat pria yang baru saja melukai hatinya.
"Tuh, di pelaminan ,,, entah membahas apa dengan Restu." Rani menunjuk suaminya dengan menggunakan dagu.
Mulut Aruna hanya membentuk huruf O setelah melihat kearah Putra dan Restu. Aruna kemudian berjalan kearah meja makan untuk ikut berbaur menikmati hidangan pasangan mempelai itu. Rani pun melakukan hal yang sama. sejak datang Rani belum mencicipi hidangan yang tampak mengundang selera makan.
Dari jauh Arion memperhatikan wajah Aruna. Ia hanya bisa merutuki dirinya sendiri. Menyesal ? Jangan ditanyakan, karena penyesalan Arion kini tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Ia tak tahu harus bagaimana menghadapi Aruna yang sepertinya tak terganggu dengan apa yang ia lakukan bersama Thalita, wanita masa lalunya.
Malam semakin larut, para tamu pun berlomba-lomba meninggalkan pesta pernikahan tersebut. Tanpa sepengetahuan Arion, Aruna pun ikut dalam rombongan para tamu undangan memasuki lift. Beruntung Aruna selalu membawa dompet dan semua barang-barang penting yang berukuran kecil dalam tasnya. Dompet yang berisi beberapa kartu ajaib dan ponsel yang sudah mati daya sebelum keluar dari ballroom.
Tuhan masih berbaik hati pada Aruna karena hingga kini wanita tersebut masih belum menyerahkan mahkotanya. Aruna mengambil hikmah dibalik kejadian kali ini. Ia pun bukan wanita yang akan diam dan menerima semua kelakuan miring suaminya.
Sekali lagi Aruna menarik napas panjang sebelum mencari taksi online. Ia tak berani mengaktifkan ponselnya untuk sementara. Aruna tak ingin Arion melacak keberadaannya lewat ponselnya.
"Lho kak ,,, kakak ipar kemana ? Kita mau foto keluarga nih ,,," Ucap Arista menyadari sejak tadi tak melihat keberadaan Aruna.
"Tadi ada bersama Rani ,,," Arion pun mengedarkan pandangannya mencari sosok sang istri.
__ADS_1
"Aku juga lihat tapi masalahnya mbak Rani sama mas Putra sudah pulang ,,, masa iya kakak ipar ikut mereka juga." Geram Arista.
Kakek Ramdhan yang sejak tadi hanya duduk diam menjadi pendengar setia, tiba-tiba bertanya hingga mengejutkan mereka. Beruntung para kerabat pun sudah kembali ke kamar mereka. Kakek Ramdhan memang membooking kamar hotel untuk para kerabatnya.
"Kamu tidak melakukan sesuatu yang membuat Aruna kecewa, kan ?" Tanya kakek Ramdhan tenang namun tatapannya mampu membuat lawan bicarakan kehilangan nyali untuk berbohong.
Arion gelagapan dan Arista mendengus kasar sementara Restu hanya bisa menatap tak percaya sahabat sekaligus kakak iparnya.
"Jika benar kamu melakukannya maka kakek tak bisa ikut campur lagi. Semua kakek serahkan pada Aruna dan ingat jangan sampai kamu menghentikan pengiriman bagian Aruna pada rekening yang kakek berikan pada Divis keuangan." Lanjut kakek Ramdhan dingin.
Ternyata kakek Ramdhan melihat Arion dan Thalita berjalan kearah yang sama dan tak lama kemudian kakek pun melihat Aruna menyusul mereka. Hingga Aruna kembali ke ruangan pesta semua tak luput dari pantauan sang kakek.
Kakek Ramdhan mengenal Thalita dan mengetahui hubungan mereka saat itu Arion masih menjalin kisah dengan Aletta. Thalita dan Aletta adalah wanita yang berbeda namun sifat mereka sama persis.
Walaupun Arion sudah melakukan mahabbah cinta namun tidak dilakukan dengan ikhlas dan mungkin terselip niat yang tak sesuai dengan sifat mahabbah itu sendiri sehingga hasilnya malah semakin runyam.
Arion hanya bisa terdiam seribu bahasa. Bukan karena masalah pembagian hasil perusahaan akan tetapi penyesalan dalam dirinya yang begitu dalam. Penyesalan memang selalu datang terlambat.
Melihat kakaknya terdiam, Arista segera menarik tangan Restu meninggalkan Arion. Susah payah Arista membujuk Aruna agar menerima kakak satu-satunya yang sangat ia sayangi namun semua begitu tak ada artinya malam ini. Beginilah akhirnya jika seorang pria tak kuasa menahan na***nya. Hanya karena na*** sesaat menghancurkan hubungan seumur hidup.
🌺🌺🌺🌺🌺
SELAMAT PAGI READERS ,,,
SELAMAT MEMBACA DAN DILARANG KERAS PROTES 🤣🤣ðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK.