MAHABBAH CINTA SANG MANTAN

MAHABBAH CINTA SANG MANTAN
Mahabbah Cinta Sang Mantan ~ 70


__ADS_3

Burung-burung berkicau menyambut datangnya pagi, pun demikian halnya dengan Aruna yang tersenyum manis kala merasakan hangatnya mentari pagi menyentuh kulitnya.


"Hooaaaammm ,,, selamat pagi Aruna." Gumamnya pada diri sendiri.


Aruna lalu beranjak ke kamar mandi menyelesaikan segala sesuatunya di dalam sana sebelum kemudian keluar kamar dan beraktivitas seperti biasa. Aruna bukanlah wanita pesolek yang membutuhkan waktu berjam-jam di depan kaca rias. Tidak cukup sepuluh menit baginya untuk berdandan.


Baru saja Aruna qkan menyisir rapi rambutnya tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dengan keras disertai suara bi Ina yang berteriak panik. Aruna melempar sisir yang berada di tangannya kemudian berlari membuka pintu kamar. Bukan kebiasaan bi Ina untuk menggelar pintu kamarnya.


Duggg


Duggg


Duggg


"Non ,,, Non ,,, buka pintunya !!!!" Suara bi Ina terdengar panik.


"Ada apa, bi ?" Tanya Aruna lembut walaupun khawatir melihat wajah bi Ina.


"Non ,,, ne ,,,nek ,,, bawa ke rumah sakit," Ucap bi Ina panik.


Mendengar bi Ina menyebut nenek, Aruna langsung berlari ke arah kamar sang nenek. Air mata Aruna seketika membanjiri wajah cantiknya melihat kondisi nenek Sarah. Tanpa banyak bicara Aruna segera memotong tubuh renta nenek Sarah dan mendudukkannyq di kursi dorong yang ada di kamar tersebut lalu mendorongnya keluar kamar.


"Bi, tolong ambilkan ponsel dan takut di kamar." Titah Aruna sambil membawa nenek Sarah keluar rumah.


Perlahan Aruna memindahkan tubuh lemah nenek Sarah ke dalam mobil dan membaringkannya. Bersamaan dengan bi Ina berlari tergopoh-gopoh. Dua hari yang lalu sopir nenek Sarah ijin pulqng kampung karena anaknya dari istri terdahulu qkan menikah sehingga di rumah bergaya minimalis itu hanya tinggal mereka bertiga. Bi Ina memilih untuk tinggal dan menemani nenek Sarah karena sang majikan meminta agar bi Ina tak jauh darinya.


Aruna langsung melarikan mobilnya setelah bi Ina menutup pintu. Tak ada yang berbicara dalam mobil tersebut. Beruntung masih pagi-pagi sehingga jalanan masih sepi. Aruna tak mengurangi laju mobilnya kecuali saat lampu lalu lintas berwarna merah, itupum disertai dengan umapatan yang keluar dari bibir ranum gadis itu.


Setelah beberapa menit menjadi pembalap liar akhirnya Aruna memasuki pelataran rumah sakit dan langsung di sambut oleh beberapa orang suster yang kebetulan berada dilobby rumah sakit. Aruna tak salah memilih rumah sakit Healthy Care, para susternya sigap dan tanggap dalam keadaan darurat.


"Tunggu disini saja ya, mbak ,,, biarkan dokter yang menangani pasien." Ucap suster itu lembut.


Bi Ina membimbing Aruna agar duduk di kursi yang berjejer di depan ruangan dimana nenek Sarah berada. Bersamaan dengan seorang dokter berlari memasuki ruangan tersebut. Aruna hanya bisa diam dan berdoa agar sang nenek baik-baik saja di dalam sana walaupun untuk saat ini kondisi beliau jauh dari kata baik.


"Bi ,,, apakah selama ini nenek sering seperti ini ?"

__ADS_1


"Beberapa bulan terakhir ini sih sering, non ,,, tapi tidak separah ini." Jujur bi Ina dengan wajah khawatir.


'Ya Tuhan ,,, tolong selamatkan nenekku. Hanya dia yang aku miliki di dunia ini.' Batin Aruna menatap dinding berwarna putih itu.


Sesaat kemudian seorang pria keluar dari ruangan dimana nenek Sarah dirawat. Pria itu menatap bi Ina dan Aruna bergantian seolah ingin memastikan dengan benar keluarga pasiennya. Aruna lalu berdiri diikuti oleh bi Ina.


"Maaf dok, nona ini adalah cucu nenek Sarah." Bi Ina memperkenalkan Aruna agar dokter Sandy tak berlarut-larut dalam kebingungannya.


"O ! Mari nona, ikut ke ruangan saya." Dokter Sandy segera berlalu dari hadapan Aruna.


Aruna kemudian mengikuti langkah kaki dokter tersebut. Aruna tak menyadari rambutnya yang masih diikat asal walaupun pakaiannya sudah rapi dan wajahnya terlihat segar namun bagi beberapa orang yang berpapasan dengannya terlihat aneh di mata mereka. Para manusia itu tak tahu bagaimana paniknya Aruna melihat kondisi kesehatan nenek Sarah padahal semalam masih terlihat sehat.


"Silahkan duduk, nona ,,," Dokter Sandy mempersilahkan Aruna duduk di depannya setelah mereka masuk kedalam ruangan prakteknya.


"Terima kasih, dok ,,," Ucap Aruna tersenyum kaku. rasa khawatirnya masih setia menguasai dirinya hingga tersenyum pun sangat susah.


"Perkenalkan nama saya Sandy, dokter yqng menangani nyonya Sarah."


"Saya Aruna, dok. Cucu nenek Sarah dan terima kasih sudah menolong nenek saya," Balas Aruna menyambut ukuran tangan dokter Sandy.


"Jadi apa yang harus saya lakukan, dok ?" Tanya Aruna lemas.


"Berdoa nona. Hanya itu yang bisa kita lakukan untuk saat ini. Kondisi tubuh nenek anda tidak memungkinkan untuk kami lakukan operasi. Kami tidak ingin mengambil resiko jika memaksakan diri untuk melakukan tindakan operasi." Balas dokter Sandy tak berdaya.


Usia nenek Sarah yang sudah tak lagi muda ditambah kondisi fisiknya yang termakan usia membuat dokter Sandy takut untuk melakukan operasi. Apalagi operasi jantung bukanlah operasi kecil yang hanya memerlukan waktu beberapa menit. Orang yang usianya masih muda saja dengan kondisi fisik dan stamina yang prima tetap harus dipertimbangkan segala resiko yang kemungkinan akan terjadi Apalagi seusai nenek Sarah dengan kondisi fisik yang tak memungkinkan.


Dokter Sandy beberapa kali menghela napas panjang. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menolong wanita tua yang menjadi pasien rutinnya.


"Semalam nenek saya baik-baik aja kok ,,, apa mungkin beliau lupa meminum obatnya ?"


"Seharusnya tiga hari yang lalu jadwal rutin beliau untuk konsultasi nona, karena obatnya pasti sudah habis dan ada obat yang harus diperbaharui sesuai kondisi jantungnya."


Aruna semakin dalam menundukkan kepalanya saat mendengar kata-kata dokter Sandy. Bagaimana bisa ia tak mengetahui kondisi kesehatan nenek kesayangannya. Aruna merasa bersalah, hanya airmata yang terus mengalir membasahi wajah cantiknya.


Tiga hari yang lalu nenek Sarah memang tak keluar kamar makan malam. Beliau mengeluh kelelahan namun Aruna tak pernah menduga jika sang nenek menderita penyakit jantung. Ia hanya mengetahui jika kesehatan nenek Sarah tak seperti saat masih muda.

__ADS_1


"Baiklah dok, saya permisi." Pamit Aruna tak bergairah setelah beberapa saat terdiam dan dokter Sandy pun sudah selesai dengan penjelasannya.


"Silahkan nona. Setelah kondisi nyonya Sarah memungkinkan untuk pindah ke ruang perawatan maka beliau akan dipindahkan dan saya yang akan memantaunya secara langsung." Ucap dokter Sandy sedikit menenangkan perasaan Aruna.


'Cantik.' Batin dokter Sandy tersenyum lebar.


Kini Aruna telah berada di depan ruangan IGD dimana nenek Sarah berada saat ini. Aruna duduk dan menyandarkan kepalanya pada tiang yang berada persis dibelakang kursi yang ia duduki. Matanya terpejam sambil merapalkan doa terbaik untuk kesembuhan sang nenek. Hingga bunyi ponselnya memaksanya untuk mengakhiri doanya.


"Assalamualaikum pak ,,," Sapa Aruna pelan.


"Waalaikumsalam, kamu gak lupa, kan rapat kita pagi ini ?"


"Maaf pak Restu tapi saat ini aku sedang di rumah sakit." Ucap aruna dengan suara bergetar.


Aruna memang melupakan rapatnya bersama direktur perusahaan PT. Glo_Tech dan beberapa petinggi perusahaan. Saat melihat kondisi sang nenek tak sadarkan diri, semua Aruna lupakan. Hanya nenek Sarah yang menjadi prioritas utamanya. Ia rela dianggap tidak profesional bahkan dipecat sekalipun dari perusahaan. Aruna akan menerima semua itu asalkan keluarga satu-satunya yang ia miliki kembali sehat seperti sediakala.


"Rumah sakit mana ?" Tanya Restu panik.


Arion yang berada di dekatnya membeku sembari menatap Restu dengan cemas. Menyadari hal itu Restu menyalakan loudspeaker ponselnya agar Arion dan yang lainnya bisa mendengar alasan ketidak hadiran Aruna.


"Healthy Care, pak." Jawab Aruna bergetar.


Aruna menahan isak tangisnya agar tak membuat Restu khawatir. Tapi pada kenyataannya bukan hanya Restu yang khawatir, Arion adalah orang yang paling khawatir dan cemas diantara mereka.


"Telepon kakek dan Arista !" Perintah Arion kemudian berlari keluar dari ruangannya.


Lisa yang tengah menyampaikan keperluan rapat hanya bisa melongo melihat reaksi direkturnya. Bosnya itu tiba-tiba berubah sejak kedatangan Aruna di kantor mereka.


'Ada hubungan apa diantara mereka sebenarnya ? Aku harus mencari tahu dari karyawan senior.' Batin Lisa menatap punggung Arion yang semakin menjauh.


🌺🌺🌺🌺


SELAMAT PAGI READERS


SELAMAT BERAKTIVITAS SEMOGA SELALU SEHAT DAN BAHAGIA

__ADS_1


__ADS_2