
Melihat Aruna bimbang dengan perkataannya membuat Arion tersenyum tipis bahkan sangat tipis sehingga Aruna tak menyadarinya. Arion tak ingin terkesan memaksa dan apa yang diucapkannya memang benar adanya.
"Keputusanku tetap, aku memilih kekasihku. " Ucap Aruna setelah berdiam diri beberapa saat. Ia kemudian berdiri meninggalkan Arion.
"Tapi ingat, nenek Sarah sudah menerima lamaranku. " Setengah berteriak Arion menyamakan langkahnya dengan Aruna.
Di saat posisi mereka sejajar, bersamaan dengan tibanya di pintu dimana orang-orang di dalam rumah langsung melihat pada keduanya. Arion tak ingin melewatkan kesempatan agar memberi kesan baik pada kakek dan nenek mereka. Arion serta merta menyediakan tangannya pada pinggang ramping Aruna hingga nenek Sarah tersenyum bahagia.
"Jangan memberantas, lihat senyum bahagia nenek Sarah." Bisik Arion tepat di dekat telinga Aruna. Seketika Aruna merinding merasakan hangatnya napas Arion.
"Lepaskan !! Aku tidak ingin terjadi kesalahpahaman. " Geram Aruna pelan takut jika terdengar oleh nenek yang sangat ia sayangi.
"Terlambat. " Balas Arion tersenyum melihat nenek Sarah mendekat.
Nenek Sarah langsung menghampiri pasangan yang tak akur itu. Nenek Sarah langsung mengambil tangan kanan keduanya dan menautkannya. Rasa bahagia karena wasiat sang suami akan segera terlaksana. Beban yang selama ini ia tanggung kini terasa ringan. Ia sudah bisa tenang.
"Tiga hari ke depan, kalian akan menikah. Semoga kalian selalu bahagia. " Nenek Sarah meneteskan air mata bahagianya.
"Terima kasih nek. Kami sudah sepakat akan hal itu dan kami hanya mengikut apa kata orang tua saja., ya kan sayang ?" Ucap Arion sedikit mengeraskan genggamannya agar Aruna membenarkan ucapannya namun tak ada tanggapan sesuai harapan Arion. Beruntung nenek Sarah tak memperhatikan karena larut dalam kebahagiaan.
Kemudian nenek Sarah membimbing keduanya bergabung dengan kakek Ramdhan dan Arista. Kakek Ramdhan ikut berbahagia menyaksikan keduanya tampak mesra. Berbeda dengan Arista yang menatap curiga pada Arion.
'Apa yang kakak lakukan ? Aruna gak mungkin semudah itu menyetujui pernikahan mereka. Aku yakin ada sesuatu yang tidak beres. ' Batin Arista menatap keduanya penasaran.
"Maaf semuanya aku harus istirahat, takut besok terlambat ke kantornya. " Pamit Aruna sopan. Ia merasa tak ada gunanya berada diantara mereka. Toh keinginannya tak di dengarkan oleh mereka.
__ADS_1
Aruna bergegas ke kamarnya setelah berpamitan dan mencium punggung tangan kakek Ramdhan dan memeluk Arista.
Nenek Sarah merasa tak enak hati pada kakek Ramdhan dan cucu-cucunya. Arion yang melihat nenek Sarah serba salah seperti itu langsung menenangkan wanita tua itu.
"Jangan terlalu dipikirkan, nek. Setelah ijab qabul nanti semua akan baik-baik saja. Arion janji nek." Arion mengusap lembut tangan keriput nenek Sarah.
Dalam hati Arion berjanji akan membuat Aruna takluk dan hanya akan menjadi miliknya seorang.
Malam semakin larut, kakek Ramdhan dan keluarga akhirnya pamit. Senyuman Arion tak pernah luntur menghiasi wajah tampannya. Wajahnya semakin bersinar kala sinar bulan menerpanya. Arista ikut bahagia namun mengingat hubungan Kevin dan Aruna membuatnya bimbang.
Perjalanan mereka lancar tanpa harus terjebak macet, biasalah jalanan ibukota tak sepadat siang hari. Akhirnya mobil yang di supiri oleh Arion perlahan memasuki halaman rumah mewah tersebut. Kakek Ramdhan langsung masuk ke dalam kamarnya, sementara Arista menarik tangan Arion yang akan masuk ke dalam kamarnya.
"Kak, kita perlu bicara. " Ucap Arista serius.
"Ada apa ? Besok aja deh, besok kakak ada meeting penting. " Balas Arion namun tetap mengikuti Arsita yang telah duduk terlebih dahulu.
"Kakak tahu kok, kamu tenang aja. Yang penting jangan sampai kakek mengetahuinya. " Balas Arion tenang. Walaupun dalam hatinya pun tak tenang.
"Semoga semuanya aman hingga hari H."
Arion hanya menganggukkan kepalanya kemudian berdiri dan masuk kedalam kamarnya. Arsita pulang melakukan hak yang sama. Arion kemudian membersihkan wajahnya lalu membuka bajunya dan hanya menyisakan boxer. Ia pun lalu berbaring diatas kasur empuknya.
Setelah cukup lama memejamkan matanya namun tak kunjung berlayar ke pulau mimpi, Arion akhirnya duduk dan menyandarkan kepalanya pada headboard tempat tidur. Rasa kantuknya tiba-tiba hilang setelah percakapan singkatnya dengan Arista.
Tak ingin terpengaruh dengan kata-kata sang adik tapi itu tak mungkin. Arista lebih banyak mengetahui kehidupan Aruna daripada dirinya. Ditambah foto Aruna bersama seorang pria tampan di sosmed yang dilihat oleh Arion beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
Bagaimana hubungan mereka dan seberapa dekat mereka membuat Arion semakin gelisah. Seorang gadis yang hidup di negara orang selama enam tahun dan tanpa pengawasan membuat Arion ketar ketir. Bukan tanpa sebab, di tanah air saja terkadang anak muda jaman sekarang malah sudah melakukan sesuatu yang belum pantas mereka lakukan. Apalagi di negara sana. Arion melupakan satu hal bahwa semua itu tergantung pribadi masing-masing.
Arion takut jika kondisi Aruna tak sesuai dengan ekspektasinya. Namun ingin mundur pun itu tak mungkin karena dirinya sendiri yang ngotot ingin menikahi Aruna. Bukan hanya nenek Sarah yang akan murka namun kakek Ramdhan pun kemungkinan besar akan membuat hidupnya jadi gembel.
Entah sampai kapan Arion memikirkan hal yang belum pasti hingga kemudian matanya terpejam dan berlabuh di pulau impian.
Suara adzan yang terdengar nyaring membuat Arion terbangun. Walaupun matanya masih terasa berat namun panggilan untuk menunaikan kewajiban tak ia sepelekan. Meskipun Arion bukanlah pria alim namun ia tak pernah mengabaikan kewajibannya sebagai muslim. Baginya hobby dan kewajiban adalah hal yang berbeda dan menempati posisi masing-masing sesuai porsinya.
Selesai dua rakaat, Arion kembali memejamkan matanya yang masih terasa sangat berat. Mungkin efek begadang. Hingga matahari mulai menyengat kulit barukahnia terbangun.
"Astaga, aku kesiangan." Arion segera berlari ke kamar mandi dan membersihkan diri secepat kilat. Meetingnya kali ini sangat penting.
Kakek Ramdan dan Arista hanya melongo melihat Arion yang terburu-buru bahkan tak sempat sarapan.
"Maaf kek, aku berangkat. " Pamitnya seraya mencium punggung tangan pria tua itu.
"Gak sarapan dulu kak ?" Teriak Arista
"Di kantor aja. " Balas Arion pun berteriak karena posisinya sudah berada cukup jauh dari sang adik.
Arion kemudian masuk ke dalam mobil dan sopir kantor pun langsung tangan gas. Baru kali ini bosnya terlambat.
"รari jalan yang tercepst ya, pak. Ada meeting jam 9." Titsh Arion sambil membuka ponselnya memeriksa pesan yang masuk.
Arion hanya tersenyum sinis melihat pesan dari Aletta. Ia tak membacanya dan langsung menghapus pesan tersebut kemudian memblokir nomornya.
__ADS_1
"Gak penting." Gumamnya tersenyum kecut mengingat kebodohannya selama ini.
๐บ๐บ๐บ๐บ