
Selesai pernikahannya diumumkan, Aruna dan Arion kembali berbaur dengan para tamu undangan. Aruna yang merasa risih dengan kelakuan Arion duduk di samping Rani sedangkan Arion duduk di samping Putra.
"Yang, kok duduknya jauh-jauhan, sih ,,,"
Aruna hanya memutar bola matanya jengah. Ya kali, duduk dekat Arion yang tangannya suka nangkring dipinggangnya. Aruna tak ingin menjadi korban pembicaraan para karyawan yang haus akan gossip.
"Ada yang ingin aku omongin sama mbak Rani."
Pria itu hanya menganggukkan kepalanya samar seraya menatap mesra sang istri. Apa kabar jantung Aruna yang sejak tadi berdisko ria berada dekat dengan Arion.
Kedua pasangan itu kini terlibat dengan pembicaraan serius hingga beberapa karyawan menghampiri Arion untuk berpamitan.
"Kami permisi mau pamit, pak ,,," Ucap karyawan yang berdiri paling depan.
Arion hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya samar membalas ucapan karyawannya itu.
"Sekali lagi selamat ya pak, atas pernikahan anda dan bu Aruna,"
"Terima kasih." Balas Arion singkat.
Rombongan karyawan itupun pergi disusul para tamu yang menghadiri ijab qabul Restu dan Arista berpamitan satu per satu. Kini tersisa keluarga inti yang khusus datang dari kampung halaman sang kakek dan memang menginap di rumah mewah tersebut karena mereka jarang-jarang bisa berkumpul seperti ini.
Restu dan Arista pun sudah tak terlihat. Sudah bisa dipastikan jika pasangan yang memendam rasa sekian lama telah berada di dalam kamar. Arion begitu iri pada mereka, padahal dirinya yang lebih dulu menikah namun hingga kini masih berpuasa tanpa sahur.
"Kami pamitan juga, nanti malam kan masih ada resepsi." Ucap Putra menyadarkan Arion dari lamunannya.
"Kami pulang ya, Run ,,, ntar malam kita lanjut lagi. " Rani ikut berpamitan pada Aruna dan cipika cipiki khas wanita.
__ADS_1
"Hati-hati mbak ,,, mas ,,," Balas Aruna tersenyum manis seperti biasa.
Suasana terasa canggung setelah Rani dan Putra meninggalkan mereka berdua. Para keluarga pun masuk ke dalam kamar masing-masing beristirahat sejenak sebelum acara puncak kedua mempelai.
"Yang, kamu gak gerah pakai kebaya gitu ?" Tanya Arion menatap tubuh langsing sang istri.
"Gerahlah, tapi kamu aja dulu yang ganti baju."
"Hubungan kita suami istri, Yang ,,, bukan teman bermain yang wajar kalau manggilnya kamu dan aku." Arion benar-benar protes pada Aruna.
"Tapi aku belum terbiasa ,,," Bantah Aruna membenarkan ucapannya.
"Makanya dibiasakan, Yang. Atau gini aja, dimanapun kamu memanggilku dengan pak, kamu atau yang lainnya maka mas akan menciummu. Ingat DIMANAPUN." Ucap Arion tak main-main dan menegaskan kata DIMANAPUN.
Aruna bergidik ngeri dan menatap datar pria itu. Ancaman Arion sepertinya serius. Sebuah alarm berbahaya bagi Aruna.
Setelah memperingatkan Aruna, pria itu segera berjalan menuju kamarnya. Melihat sekelilingnya tersisa hanya karyawan WO yang membereskan barang-barangnya, maka Aruna pun mengikuti Arion masuk ke dalam kamar.
"Aku yang mandi terlebih dahulu, Yang ,,, gerah dan gatal banget nih." Arion memperlihatkan lehernya yang merah-merah akibat tangannya sendiri.
Fakta baru yang baru saja Aruna ketahui tentang sang suami yang alergi dengan bahan baju adat. Pada saat ijab qabul pagi tadi memang semua pria memakai jas tutup khas adat bugis sedangkan wanita ada yang memakai baju bodo dan adapun yang memakai kebaya. Aruna sendiri tidak memakai baju bodo karena Arion sudah mewanti-wantinya karena bahannya yang sedikit tembus pandang padahal Aruna sudah menyiapkan baju bodo yang berbahan tebal.
Setelah Qrion menghilang dibalik pintu kamar mandi. Aruna segera mengganti bajunya dengan baju yang sedikit longgar sambil menunggu Arion selesai mandi.
Lima belas menit kemudian, Arion pun selesai mandi dan mengernyitkan dahi melihat Aruna yang justru tertidur dan sudah berganti baju tanpa mandi. Make up nya masih melekat sempurna pada wajah cantiknya.
"Yang, bangun mandi ,,," Arion membangunkan Aruna sembari menepuk-nepuk pipinya.
__ADS_1
Sentuhan Arion membuat Aruna langsung bangun terduduk. Bagaimanapun nyenyaknya tidur jika seseorang menyentuhnya pasti Aruna akan terbangun dengan kaget.
"Astaga ,,, jangan membuatku kaget."
"Mas hanya menyentuh pipimu, Yang ,,, bukan yang lain." Balas arion apa adanya.
Ia juga sering menepuk-nepuk pipinya Arista tapi reaksinya tak seheboh wanita di depannya.
"Aku gak bisa disentuh saat tidur ,,," Ucap Aruna pelan namun terdengar dengan jelas di telinga Arion.
"Mulai saat ini harus dibiasakan, Yang. Kita satu kamar dan tidur dikamar yang sama otomatis sentuhan pasti akan terjadi belum lagi jika nanti aku minta jatah." Balas Arion ambigu.
"Jangan mulai deh, ingat perjanjian kita dan bereskan semua urusanmu dengan para wanita bay**anmu." Tegas Aruna turun dari tempat tidur.
Aruna segera masuk kedalam kamar mandi setelah ia mengambil baju ganti dan segala macam yang ia butuhkan. Aruna takut tubuhnya akan bereaksi yang berlebihan jika Arion menyentuhnya. Kata-kata Syasa selalu terngiang-ngiang di telinganya membuatnya selalu ketakutan. Padahal kalaupun benar ia jatuh cinta pada Arion bukanlah sesuatu yang salah toh Arion adalah suaminya.
Dua puluh menit waktu yang dihabiskan oleh Aruna di kamar mandi sebelum akhirnya keluar. Arion mengangkat wajahnya melihat wanitanya yang terlalu lama menghabiskan waktu hanya untuk mandi.
"Pantes aja lama mandinya ,,, wanginya menggoda iman." Arion tersenyum miring sambil menatap Aruna lekat-lekat.
Tak ingin salah berucap, Aruna memilih segera membaringkan tubuh lelahnya. Sejak dua hari yang lalu ia sibuk kesana kemari mencari kebaya yang cocok dengannya dan tak mendapat protes dari Arion.
Senyuman Arion melebar kalah melihat Aruna berbaring membelakanginya. Tanpa membuang-buang waktu, Arion langsung memposisikan dirinya meringankan dibelakang Aruna. Tangannya langsung menarik lembut tubuh Aruna hingga benar-benar merapat padanya. Perlahan Arion menghirup aroma tubuh Aruna yang sejak tadi membangkitkan sesuatu dalam dirinya. Arion tak dapat lagi menahan diri.
🌺🌺🌺🌺🌺
KIRA-KIRA ARUNA NOLAK GAK YA ,,,
__ADS_1
SELAMAT SIANG READERS ,,,,
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA