MAHABBAH CINTA SANG MANTAN

MAHABBAH CINTA SANG MANTAN
Mahabbah Cinta Sang Mantan ~ 8


__ADS_3

“Halo ,,, tunggu aku di kantormu. “ Seperti biasa Arion selalu irit bicara dan tanpa basa basi. Membuat seseorang diujung telepon mendengus kasar.


“Kebiasaan.”


“ Aku belum mematikan telepon kalau kamu lupa “


“Cepetan, aku mau pulang. “ Putra tak dapat lagi menahan kekesalannya karena harus pulang terlambat. Padahal ia sangat merindukan istrinya.


Arion mematikan sambungan selulernya sebelum Putra mengomel. Ia melarikan mobilnya menuju kantor sang sahabat. Hanya Putra harapannya untuk menjawab rasa penasarannya. Kakek Ramdhan bukanlah pilihan untuk dimintai penjelasan. Pria tua itu memilih bungkam setiap kali ia bertanya mengenai sesuatu yang menyangkut mantan tunangannya itu.


Memasuki area kantor yang masih dipenuhi oleh dominan pria berseragam coklat, Arion segera mencari parkiran. Saat Arion membayangkan dirinya turun dari mobil dan berjalan melewati beberapa bagian area perkantoran ini seolah membuatnya merasa seperti seorang pesakitan. Kalau bukan karena keperluan yang mendesak, Arion tak akan pernah mengunjungi kantor tersebut. Kantor yang paling ia hindari.


Arion kemudian menyuruh Putra untuk menjemputnya. Ia sangat malas untuk menghampiri polisi yang bertugas sebagai piket dimana para tamu melapor. Begitu melihat Putra berjalan kearahnya, Arion segera turun dari mobil.


“Ayo masuk, kaya orang penting aja minta di jemput. “


“Hei, jangan salah ya, aku memang orang penting. “ Arion menyejajarkan langkahnya dengan Putra yang berjalan dengan langkah panjang.


“Tapi disini kamu bukan siapa-siapa. “ Rasa kesal karena harus menunda jam pulangnya membuat Putra mengomeli Arion dan hanya di tanggapi dengan kekehan oleh pelaku utama.


Kedua sahabat berbeda pekerjaan itu memasuki salah satu ruangan di kantor tersebut. Sebuah ruangan dengan tulisan, KASAT RESKRIM yang merupakan ruangan Putra Pringgodigdo. Kedatangan Arion menarik perhatian mereka yang masih duduk di kursi masing-masing termasuk seorang polwan cantik yang tersenyum manis ke arah Arion. Dan dibalas dengan tatapan datar oleh pria tampan itu.


“Tumben kamu mencariku hingga kesini ? Biasanya kan paling anti ke kantorku “ Sinis Putra sekaligus penasaran.


Tak ada rasa tersinggung ataupun tak enak hati mendengar kata-kata sinis sahabatnya. Sejak dulu Putra memang bermulut pedas sedangkan Arion berwajah datar berbeda lagi dengan Restu, asisten Arion yang selalu ramah dan friendly pada semua orang. Mereka tiga sahabat berbeda karakter namun tetap kompak.


“Keadaan yang memaksaku. Jadi tolong jangan besar kepala. “ Ucap Arion sambil mengeluarkan selembar foto dari sakunya dan memperlihatkan pada Putra. Sejenak Putra mengamati ketiga gambar tersebut dengan dahi mengkerut.


“Ada apa dengan foto ini ?” Jujur Putra bingung karena Arion hanya memberikan foto itu tanpa penjelasan.


“Aku minta bantuanmu untuk menganalisa ketiga wajah itu. Sebagai polisi kamu pasti punya cara kan ?”

__ADS_1


“Tanpa Face recognition pun aku bisa tahu kalau ketiga gambar ini adalah orang yang sama. “ Putra terkekeh melihat sekali lagi ketiga gambar tersebut. Sebagai seorang polisi yang telah banyak pengalaman, mata tajam Putra tak bisa terkecoh.


Face recognition adalah teknologi yang biasa dipakai untuk mengidentifikasi wajah seseorang untuk berbagai kepentingan.


“Lalu yang mana wajah aslinya ?


“Tentu saja yang ini. “ Putra menunjuk kedua foto yang menampilkan wajah cantik seorang gadis.


“Bukannya yang ini hasil operasi plastik ?” Arion menatap tak percaya.


“Foto yang ini sudah mulai buram mungkin dicetak beberapa tahun yang lalu dan sangat terlihat dengan jelas jika kulitnya sengaja di buat dekil dan jelek, sedangkan yang ini masih terlihat baru. “ Putra tak mengalihkan pandangannya pada coto terbaru gadis cantik itu.


“Bukan muhrim, dosa .” Arion segera merebut kembali foto tersebut.


“Kenalin dong, manatau jodoh. “ Ucap Putra bergurau.


“Jodoh gundulmu ,,, istrimu mau di kemakan. Aku pulang. “ Kesal Arion mendengar gurauan sahabatnya.


Beruntung ruangan Putra sudah sunyi sehingga tak ada yang mendengar teriakan sang Kasat Reskrim. Sehingga wibawanya sebagai atasan tetap terjaga. Arion hanya membalikkan badannya pada Putra yang kebetulan mobilnya terparkir berdampingan dengan mobil yang di kendaraan oleh Arion.


“Jika ada waktu luangmu, kita kumpul-kumpul lagi.” Ucap Arion sebelum masuk ke dalam mobilnya.


Secara beriringan mobil Arion dan mobil Putra keluar dari area parkiran. Setelah melewati pintu gerbang mereka kemudian mengambil jalan masing-masing menuju tujuan terakhir mereka yaitu rumah. Jalanan yang lumayan macet membuat perjalanan Arion lebih lama dari biasanya. Hingga satu setengah jam kemudian barulah pria itu tiba di rumah mewah yang hanya dihuni oleh kakek dan dirinya.


Memasuki rumah mewah nan sunyi, Arion segera mencari keberadaan sang kakek. Sudah menjadi kebiasaan bagi Arion selalu ingin melihat kakek Ramdhan saat pulang dari kantor. Walaupun terkadang pria tua itu mengaduk-aduk emosinya. Seperti saat ini, Arion yakin jika ini adalah salah satu rencana kakek Ramdhan.


“Ada apa ? Kenapa wajahmu kusut bak cucian yang belum disertakan ?” Kakek Ramdhan menatap cucunya yang baru saja menginjakkan kaki di taman samping rumah.


“Kakek sudah tahu kan kalau gadis itu adalah wanita dekil yang bertunangan denganku ?” Arion tak sabar ingin menumpahkan uneg-unegnya.


Pantas saja perasaan Arion tak asing saat melihat sorot mata gadis itu. Saat ini perasaan Arion benar-benar tak menentu, berbagai dugaan memenuhi kepalanya. Gadis itu pasti mengenalnya tapi kenapa dia berpura-pura tak mengenalnya. Apakah gadis itu sengaja bersekongkol dengan kakeknya ?

__ADS_1


“Maksudmu apa sih, Kakek benar-benar tak mengerti.”


“Gadis yang Kakek rekomendasikan jadi sekretarisku. Apa Kakek sengaja ?”


“Memang seharusnya dia menempati posisi itu atau kamu ingin gadis itu menggantikan posisimu ?”


“Maksud Kakek ?”


“Aku dan almarhum Kakek Aruna bekerjasama mendirikan perusahaan PT Glo_Tech. Modal awal kami bagi dua akan tetapi kakek Aruna menyerahkan semua pengelolaan perusahaan pada kakek karena beliau memiliki perkebunan teh yang butuh perhatiannya. Jadi wajar saja jika Aruna bekerja di perusahaan yang sekarang kamu pimpin. Tadinya Kakek ingin menempatkan dia pada bagian keuangan agar bisa memantau aliran dana perusahaan akan tetapi sekretarismu mengundurkan diri makanya Kakek berinisiatif menempatkannya sementara di sana. Dan setelah kamu memiliki sekretaris yang baru maka Aruna akan Kakek tempatkan di tempat yang seharusnya. “ Kakek Ramdhan akhirnya menceritakan sejarah berdirinya perusahaan PT. Glo_Tech. Sudah seharusnya Arion mengetahui segalanya agar tidak menekan Aruna. Kakek Ramdhan sangat mengenal cucunya itu.


Arion terdiam memikirkan kata-kata sang kakek. Aruna tidak bersalah dalam hal ini. Mengapa takdir seolah tak memihak padanya ?


🌟🌟🌟


Di tempat lain tepatnya di sebuah rumah minimalis yang terlihat asri dipenuhi berbagai jenis bunga, Aruna memarkir mobilnya dan bergegas masuk ke dalam rumah. Capek adalah kata yang mewakili perasaannya saat ini.


“Tumben pulangnya telat, sayang ? Lembur ya ?” sapa nenek Sarah lembut.


“Enggak kok, nek. Hanya tadi Aruna mampir dibagikan HRD dan pulangnya kejebak macet. “ Aruna terbiasa menceritakan segalanya pada sang nenek hingga hal-hal yang terkecil dan tidak begitu penting.


“Lho, ngapain di bagian HRD ?” Nenek mengerutkan dahinya memikirkan kemungkinan pengunduran diri Aruna.


“Hehehe ,,, tadinya Runa ingin mengundurkan diri, nek tapi gak jadi. Karena ternyata Aruna sudah menandatangani sebuah perjanjian. “ Aruna menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali.


Nenek Sarah menatap lembut sang cucu. Aruna belum mengetahui posisinya pada perusahaan besar itu. Biarlah untuk sementara ia tak memberitahukan cucunya itu agar mereka bisa bertemu setiap hari. Baik nenek Sarah maupun kakek Ramdhan memiliki keinginan yang sama agar keduanya terikat dalam sebuah pernikahan. Akan tetapi nenek Sarah tak ingin memaksa Aruna. Biarlah takdir yang menuntun mereka.


“Kenapa ingin mengundurkan diri ? Bukankah Runa senang karena gajinya besar ?”


“Direktur sombong itu menemukan foto dekilku dan aku berbohong jika gadis dekil itu adalah saudara jauhku. Semoga saja dia tak menyadari jika itu adalah aku.” Keluh Aruna jujur.


“Jangan khawatir semuanya akan baik-baik saja. Sekarang bersihkan diri dan istirahatlah, makan malam belum disiapkan bi Ina.” Titah nenek Sarah lembut.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺


__ADS_2