
Semua terdiam melihat kedatangan Arion. Kakek Ramdhan hanya menatap datar cucu yang sebenarnya sangat ia rindukan. Namun kemarahannya pada sang cucu masih menguasai hatinya, Arion pun tahu hal itu. Sedangkan Aruna hanya mendengus pelan agar tak membuat kakek Ramdhan tersinggung bagaimanapun juga Arion adalah cucu kakek Ramdhan yang sangat menyayanginya. Kesalahan Arion tak ada sangat pautnya dengan sang kakek.
"Gimana perasaan nenek ?" Tanya Arion mencium punggung tangan lemah nenek Sarah.
Aruna dan kakek Ramdhan saling bertukar pandang. Padahal sejak tadi mereka berbicara namun mata nenek Sarah tetap terpejam.
"Rasa dan ikatan batin mereka masih tetap sama seperti dulu." Gumam Arista pelan namun terdengar jelas di telinga Aruna dan kakek Ramdhan.
Arista mengedipkan sebelah matanya pada kakek Ramdhan. Aruna pura-pura tak mendengarnya dan langsung menekan bel untuk memanggil dokter. Tak lama kemudian dokter Sandy ditemani oleh seorang suster memasuki ruang perawatan nenek Sarah.
"Maaf pak, bisa memberi ruang untuk kami ?" Ucap dokter Sandy sopan.
Dengan terpaksa akhirnya Arion mundur dan berdiri dekat Arista sementara Aruna berdiri di dekat dokter Sandy dan suster pendampingnya. Posisi Aruna yang berada persis dekat dokter Sandy terlihat sangat serasi.
"Sepertinya dokter itu sangat nyaman berdiri dekat kakak ipar." Bisik Arista tersenyum penuh arti.
"Jangan asal kalau ngomong, dek ,,, gadis itu tetap milikku dan selamanya akan seperti itu."Balas Arion dingin.
Arista bersorak gembira dalam hati, ia telah berhasil memprovokasi sang kakak. Arista sangat memahami saat-saat provokasinya ditanggapi serius oleh Arion. Sedangkan Arion terus menatap tajam Aruna dan dokter muda tersebut. Arion tak menyadari jika Arista sengaja mengaduk-aduk perasaannya.
"Bagaimana kondisi nenek saya, dok ?" Tanya Aruna setelah dokter Sandy memeriksa nenek Sarah.
"Saya akan melakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan dan nona bantu kami dengan doa karena kekuatan doa bisa mengubah segalanya." Jawab dokter Sandy tersenyum lembut pada Aruna.
"Terima kasih, dok ,,," Ucap Aruna dengan mata berkaca-kaca.
Kakek Ramdhan segera mendekati Aruna mencoba menenangkan gadis itu. Semua yang mendengar ucapan dokter Sandy sudah bisa menebak kondisi nenek Sarah saat ini. Bahkan Restu yang baru saja masuk ke ruangan itu ikut trrkejut. Perlahan ia mendekati Arista dan memberinya kec**an singkat.
__ADS_1
"Ck, liat situasi dong ,,," Dengus Arion kesal.
Adik ipar sekaligus sahabatnya itu selalu saja memamerkan kemesraannya di depan matanya. Mentang-mentang dirinya menjomblo dan hanya bisa menahan sabar melihat aksi pasangan suami istri itu.
"Jangan pedulikan kami, kak ,,, bersiaplah gigit jari, noh lihat tatapan mata pak dokter pada mantan kakak ipar." Bisik Arista
"Iya ,,, dalam banget. Siapa yang tak terpikat ,,, pria sempurna." Timpal Restu menahan tawa.
Saat ketiganya asyik berghibah, Aruna mengantar dokter Sandy hingga keluar kamar. Banyak yang Aruna tanyakan pada sang dokter mengenai penyakit sang nenek.
"Tolong dok lakukan yang terbaik buat nenekku. Jika beliau bisa melakukan perjalanan jauh, saya akan membawanya keluar negeri berobat, yang penting nenekku bisa selamat." Ucap Aruna menatap dokter Sandy dengan mata masih menyisakan airmata.
"Kita liat perkembangan kondisinya dulu, ya. Karena kemanapun nona membawanya berobat, hasilnya akan sama jika kondisinya masih seperti saat ini."
"Baiklah dok, terima kasih ,,," Ucap Aruna tersenyum manis sebelum dokter Sandy berlalu.
"Dokternya tampan banget, kak ,,," Sambut Arista saat Aruna sudah berada di kamar perawatan nenek Sarah.
"Jangan terpikat, kasihan pak Restu ,,," Balas Aruna bercanda walaupun rasa sedih dan kesal secara bersamaan.
"Gimana rasanya berdekatan dengan dokter tampan itu, kak, hmmm?" Arista semakin gencar menggoda Aruna sekaligus memprovokasi kakaknya yang sejak tadi hanya diam menatap Aruna dengan tatapan yang tak terbaca.
"Rasanya sesuatu banget ,,, tapi kakak gak boleh krasak krusuk manatau dokter Sandy sudah punya istri, aku gak mau jadi pelakor lagian kita juga kesemuanya baru pqgi tadi." Balas Aruna serius.
Aruna sengaja mengatakan hal itu di depan Arion untuk enegaskan perasaannya pada pria itu. Sedangkan Arion walaupun marah mendengar kata-kata Aruna namun ia tetap meyakinkan dirinya jika suatu saat akan bersama Aruna mengantar hari-hari yang penuh dengan kebahagiaan.
Sementara kakek Ramdhan yang sejak tadi berada di dekat nenek Sarah sedang berbicara pelan tapi serius. Entah apa yang kedua orang tua itu bicarakan. Mereka berempat tak ingin mencampuri urusan keduanya.
__ADS_1
"Ram ,,, sepertinya waktuku di dunia ini akan segera berakhir. Tolong jaga cucuku." Ucap nenek Sarah pelan hampir tak terdengar di telinga kakek Ramdhan.
"Jangan berkata seperti itu, Sarah ,,, aku yakin kamu kuat demi cucumu. Ingat dia masih sendiri dan masih membutuhkanmu di sampingnya." Balas kakek Ramdhan menggenggam tangan keriput lawan bicaranya.
Nenek Sarah hanya tersenyum sendu menatap kakek Ramdhan. Selama ini nenek Sarah sudah bertahan semampunya dan ia merasa kondisinya semakin drop. Entah bagaimana cara menyampaikannya pada sahabat almarhum suaminya.
Hari semakin sore dan kakek Ramdhan pun berpamitan pulang. Bi Ina pun disuruh pulang oleh Arista karena dialah yang akan menemani Aruna malam ini. Arion pun berpamitan pulang bersama dengan Restu.
"Kamu pulang qja, Ris ,,, kasihan pak Restu tidur sendiri malam ini." Ucap Aruna tak enak hati.
"Gak apa-apa kak. Aku masih rindu sama kak Runa." Balas Arista santai.
Otak licik Arista terus saja berpikir untuk mengembalikan permata hatimu sang kakak agar kakek bisa menerimanya kembali. Agar kemarahan sang kakek mereka bahkan menghilang bagaikan asap tertiup angin adalah bersatunya kembali Arion dan Aruna.
"Kita minta lak Arion bawa makanan aja, ya ? Kak Runa gak keberatan kan ?"
"Ya gak apa-apa. Asal gak dikasih racun aja." Balas Aruna santai.
"Gak bakalan kak, asal kakak tahu ya ,,, lal Arion itu sudah sadar bahkan tinggal dipesantrean untuk menempa diri untuk menjadi pribadi lebih baik."
Aruna tak menimpali perkataan Arista. Ia sama sekali tak tertarik dengan kehidupan mantan suaminya itu. Semua sudah berlalu dan hanya kan menjadi masa lalu bagi seorang Aruna.
Aruna kemudian berdiri dan mendekati brangkar sang nenek. Aruna menggenggam tangan keriput nenek Sarah dalam diam. Tak henti-hentinya Aruna mengucap doa disetiap helaan napasnya untuk kesembuhan sang nenek.
"Cepat sembuh ya, nek ,,," Ucap Aruna menahan tangis.
Walaupun nenek Sarah nampak nyaman dengan mata tertutup namun Aruna tahu jika saat ini nenek Sarah terbangun dan mendengar setiap kata-kata yang ia ucapkan. Perlahan Aruna mencium kuning sang nenek sebelum ia kembali duduk di dekat Arista yang terlihat sibuk dengan ponselnya.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺