MAHABBAH CINTA SANG MANTAN

MAHABBAH CINTA SANG MANTAN
Mahabbah Cinta Sang Mantan ~ 22


__ADS_3

Hati Arion tak lagi bergejolak setelah bercerita pada Randy. Walaupun ia belum sepenuhnya mengerti tentang mahabbah namun wajah Randy yang meyakinkan membuatnya tenang, setidaknya ada penyelesaian atas persoalan hatinya dan hati Aruna. Tidurnya pun kini sangat nyenyak.


Arion merasa segar setelah bangun tidur. Sejak pertemuannya dengan Aruna yang terakhir pada malam itu Arion tak dapat memejamkan matanya. Kata-kata calon istrinya itu sangat membekas dalam benaknya. Namun kini ia sudah bisa lari-lari pagi menikmati udara sejuk perkebunan teh hingga matahari mulai menyengat kulit barulah ia kembali ke villa. Randy sudah berpakaian rapi sambil tersenyum pada Arion.


"Selamat pagi pak ,,," Sapa Randy sopan.


"Selamat pqgi, mau kemana pagi-pagi udah rapi ?" Arion membalas sapaan Randy sekaligus bertanya.


"Sudah seminggu meninggalkan pesantren, pak. Keadaan ibu pun sudah lebih baik. Saatnya kembali ke pesantren. "


"Lalu bagaimana caranya aku menemuimu ? Bukankah kamu berjanji akan mengajarkan mahabbah setelah menikah ? Besok aku menikah."


"Kesini aja lagi pak, nanti bapak yang akan mengantar anda ke pesantren pak Kyai Izham."

__ADS_1


"Ok. Sampai bertemu di pesantren. Aku pun akan bersiap pulang." Balas Arion menjabat tangan Randy.


Arion kemudian segera masuk ke dalam villa dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Selanjutnya akan segera meninggalkan villa tersebut.


Sementara kakek Ramdhan dan Arista ketakutan jika Arion mengulang peristiwa enam tahun lalu. Sejak kemarin keduanya bergantian menghubungi ponsel Arion namun hanya suara operator seluler yang mewakili sang empunya ponsel.


"Kek, gimana ini ,,, sudah jam segini kakak belum juga ada kabarnya padahal besok akad nikahnya." Ucap Arista tak dapat menyembunyikan kekhawatirannya.


"Kakek pun bingung, nak. Kita berdoa saja semoga otak kakakmu bekerja dengan baik." Balas kakek Ramdhan menenangkan Arista yang terlihat jelas kekhawatirannya.


Kakek Ramdhan tak busa memejamkan matanya menunggu Arion yang belum juga ada tanda-tanda akan pulang. Restu sudah mencarinya kesetiap tempat yang biasa mereka kunjungi namun hasilnya nihil, bahkan Putra pun turut serta mencarinya dan hasilnya sama. Arion mematikan ponselnya sehingga kedua sahabatnya kesulitan mencarinya.


Arista berusaha membujuk sang kakek agar beristirahat sejenak pun tak berhasil. Arista merutuki kakaknya yang suka seenak jidatnya menghilang tanpa memikirkan kesehatan sang kakek. Pria tua itu sudah seharusnya beristirahat dan hidup dengan tenang tanpa harus dibebani dengan pikiran berat seperti saat ini.

__ADS_1


"Kek, berbaring aja dikamar jika memang tak bisa tidur. Besok kakek harus terlihat segar. " Bujuk Arista lembut.


"Gak bisa sayang, kakek gak bisa tenang jika kakakmu belum pulang." Balas kakek Ramdhan ngotot.


"Kak Arion pasti pulang, kek. Bukankah dia sendiri yang menginginkan pernikahan ini ?" Ucap Arista apa adanya.


"Baiklah, tapi jika anak itu pulang, segera panggil kakek. "


"Pasti Kek." Balas Arsita tersenyum.


Jika di rumah kakek Ramdhan sedang khawatir menunggu Arion maka di rumah nenek Sarah terlihat Aruna duduk merenungi nasibnya. Jam sudah menunjukkan pukul 00.30, yang berarti kurang lebih delapan jam ia akan berubah status menjadi istri dari kekasih orang. Aruna menarik napas panjang mencoba menutup matanya. Berharap rasa kantuk menghampirinya.


🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


TERIMA KASIH ATAS DUKUNGANNYA


LOVE YOU ALL


__ADS_2