
Setelah makan dan berputar-putar di mall sendirian membuat Aruna bosan. Ingin pulang namun jam masih menunjukkan pukul 14.15. Tak mungkin jika Aruna pulang jam segitu bagaimana jika neneknya bertanya, masa harus bohong lagi. Sudah cukup kebohongan Aruna pada sang nenek. Ia tak ingin melihat tatapan kecewa dari nenek Sarah.
Aruna keluar dari mall dan menuju parkiran. Perlahan ia meninggalkan mall dengan tujuan yang belum ia pikirkan sama sekali. Jika biasanya pengemudi yang memegang kendali atas mobilnya namun berbeda dengan Aruna,,ia mengikuti kemana mobil akan membawanya. Walau bagaimanapun Aruna berusaha menenangkan perasaannya namun sebagai wanita ia tetaplah merasakan sakit hati.
Sedih, marah, dan kecewa sudah pasti akan tetapi airmata Aruna tetap tak menetes walau hanya setetes. Apakah Aruna memiliki kelainan ? Lagi-lagi Aruna menarik napas panjang, bingung dengan dirinya.
Sudah cukup jauh Aruna menyetir hingga kemudian ia berhenti di tepi jalan menyandarkan kepalanya sejenak. Kemudian matanya menatap keluar dan mengernyitkan melihat posisinya saat ini. Aruna meringis, sekacau inikah perasaannya ?
Beruntung jalannya dua arah sehingga Aruna bisa putar balik kembali ke kota sebelum matahari menyelesaikan tugasnya dan digantikan oleh sang rembulan. Dengan kecepatan diatas rata-rata, Aruna membelah jalan raya. Ia tak ingin terlambat tiba di rumah dan menjawab pertanyaan sang nenek. Aruna tak ingin berbohong lagi.
Satu jam lebih Aruna berjibaku di jalan raya dengan ratusan pengendara hingga akhirnya ia memasuki halamana rumah minimalis tempatnya bergabung selama ini. Sebuah mobil mewah terparkir di sana. Aruna mendengus kasar, ia tahu jika Arion kini berada didalam rumahnya .
'Janban sampai pria itu melapor jika aku tidak kerja hari ini. ' Batin Aruna geram.
"Darimana ?!" Arion berdiri di depan pintu masuk dan menatap Aruna dengan datar sambil melihat kedua tangannya di da**.
Aruna tak langsung menjawab, melainkan matanya menyisir mencari keberadaan sang nenek, tercintanya. Setelah merasa aman Aruna menatap tajam Arion.
"Ada urusan penting. " Balas Aruna datar.
"Bahkan lebih penting dari pekerjaanmu ?!" Sarkas Arion tajam.
"Tentu saja dan itu bukan urusan anda, pak." Tegas Aruna tak mau kalah.
"Tapi sayangnya, semua menjadi urusanku saat nenek Sarah menerima lamaranku. " Arion melangkah mendekati Aruna yang masih berdiri di tempatnya semula.
__ADS_1
Risih dengan Arion yang berdiri di depannya hampir tak berjarak membuat Aruna mendorong tubuh tegap Arion. Tak ingin melewatkan kesempatan, Arion justru memegang tangan Aruna dengan lembut.
"Lho sayang, baru pulang ? Kasihan nak Arion sejak tadi menunggu ." Kehadiran nenek Sarah membuat Aruna tersenyum lega. Arion perlahan melepaskan tangannya.
"Tadi aku kesatuan tempat, nek. Makanya pulangnya telat. " Balas Aruna tersenyum manis pada nenek Sarah. Lagipula ia tidak berbohong karena memang dirinya ke bandara.
"Ya sudah, cepat bersih-bersih setelah itu kita makan malam bersama. " Titah nenek Sarah dan langsung di laksanakan oleh Aruna.
Aruna melewati Arion begitu saja diiringi dengan tatapan tajam mata elang milik pria itu. Arion masih penasaran kemana permintaan Aruna seharian sehingga meninggalkan pekerjaannya yang menumpuk. Untung Restu berbaik hati menghandle pekerjaan Aruna.
'Urusan kita belum selesai gadis nakal. ' Batin Arion kesal.
Arion yang kesal berusaha terus tersenyum kala berbicara dengan nenek Sarah. Wanita yang membesarkan calon istrinya itu enak diajak bicara dan sangat ramah. Berbeda dengan Aruna yang selalu bersikap judul dan tak peduli dengan sekitarnya. Setidaknya itulah kesan Arion selama Aruna menjadi sekretarisnya.
Aruna kini keluar dari kamarnya dengan wajah terlihat lebih fresh. Wangi tubuhnya menguat memenuhi indera penciuman Arion. Tanpa memperdulikan pria itu, Aruna segera berjalan menuju meja makan.
"Runa sangat lapar, nek. Nanti ajalah bahas yang itu. " Balas Aruna jengah.
Nenek Sarah dan Arion kemudian ikut bergabung dengan Aruna di meja makan. Nenek Sarah duduk di ujung meja seperti biasanya sedangkan Arion memilih duduk di sebelah Aruna.
"Silahkan nak Arion, jangan malu-malu. " Ucap nenek Sarah mempersilahkan Arion mengambil makanan.
Dengan alasan sangat lapar, Aruna tak melayani Arion sebagaimana calon pasangan halal pada umumnya. Aruna sengaja makan seperti orang kelaparan dan tak memperhatikan etika agar Arion merasa tak pantas menjadikannya sebagai pendamping hidup.
"Makannya biasa aja, aku tahu kamu sengaja makan seperti itu." Bisik Arion tersenyum mengejek.
__ADS_1
Aruna tak menanggapi dan terus menikmati makan malamnya. Ia sangat lelah dan ingin secepatnya meninggalkan meja makan tersebut. Kelelahan lahir dan batin memikirkan kisah cintanya yang selalu kandas.
"Nek, aku minta ijin bicara berdua dengan Aruna. "Ijin Arion setelah menyelesaikan makan malamnya.
"Tentu nak. Kalian memang harus banyak berinteraksi agar bisa saling mengenal sebelum ijab qabul. " Balas nenek Sarah maklum.
Sambil tersenyum Arion berjalan mendahului Aruna menuju teras. Tak ingin mendapatkan teguran dari wanita yang selalu menatapnya dengan lembut, akhirnya Aruna mengikuti Arion.
"Mau ngomong apa, aku capek. " Ucap Aruna ketus.
"Darimana kamu seharian ? Ditelepon gak bisa, bahkan sampai rumah sudah malam. Untung nenek Sarah tak bertanya yang aneh-aneh. " Balas Arion menatap Aruna penuh selidik.
"Ck, gak usah dibahas. Bukan urusan bapak juga, kan ?"
"Kamu menghabiskan waktu dengan kekasihmu ?" Tuduh Arion dengan tatapan kecewa.
Bukannya Aruna terkejut, justru emosinya tersulut mendengar tuduhan Arion. Memang benar ia menemui Kevin tapi merekw tidak menghabiskan waktu bersama. Justru pertemuannya dengan Kevin menorehkan luka dalam hatinya.
"Aku kecewa padamu, disaat hari pernikahan kita sudah ditentukan, kamu malah menemui kekasihmu. " Arion benar-benar kecewa.
"Makanya itu batalkan pernikahan ini. Jangan memaksakan keadaan. " Balas Aruna emosi.
Tak ada tanggapan dari Arion. Hanya tatapan yang tak terbaca dari sorot mata elang milik pria itu. Arion memilih pulang tanpa pamit pada Aruna sebelum emosinya semakin memuncak. Membatalkan pernikahan adalah sesuatu yang tak mungkin dan tak akan pernah terjadi. Bagaimana kisah rumah tangga mereka biarlah semesta yang turut ambil bagian didalamnya.
Aruna menatap sinis pada Arion yang meninggalkannya begitu saja. Dalam hati ia berharap agar Arion membatalkan pernikahan mereka. Seandainya saja bukan karena nenek Sarah maka sejak awal Aruna menolak keras pernikahan ini. Besar harapan Aruna pada Arion agar melakukan apa yang ia inginkan.
__ADS_1
Sebelum Arion masuk kedlama mobilnya, Aruna terlebih dahulu masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamarnya. Nenek Sarah juga sudah tak terlihat jadi semua aman terkendali. Perlahan Aruna membaringkan tubuhnya yang sangat membutuhkan kasur empuknya. Tak ada drama sulit tidur karena peristiwa di bandara pagi tadi, justru Aruna secepat kilat terlena dengan mimpi indahnya. Ia butuh tenaga untuk esok hari.
🌺🌺🌺🌺