MAHABBAH CINTA SANG MANTAN

MAHABBAH CINTA SANG MANTAN
Mahabbah Cinta Sang Mantan ~ 49


__ADS_3

Dengan setengah hati, Aruna melangkah ke pantry untuk melakukan perintah sang bos. Meskipun setiap pagi memang sudah menjadi tugas utamanya menyiapkan kopi untuk sang bos, namun kali ini ia melakukannya dengan sangat terpaksa karena ia juga harus membuatkannya untuk Kevin, pria yang sangat ia benci. Sebuah ide melintas di benaknya.


Aruna kemudian memasukkan bubuk kopi dan menuangkan air pada Coffee maker yang sudah tersedia dipantry sejak pertama kali ia bekerja. Menunggu beberapa saat sambil menyiapkan cangkir khusus untuk bos sekaligus suaminya dan cangkir yang disediakan untuk tamu. Masih dengan senyum yang sulit diartikan, Aruna menyendok gula lalu menuang kopi dan mengaduknya dengan cepat. Ia ingin segera menyelesaikan tugasnya.


Tok


Tok


Tok


"Masuk ,,," Terdengar suara Arion yang menggetarkan kalbunya. Penyakit barunya mulai bereaksi.


"Permisi pak ,,," Dengan sopan layaknya sekretaris, Aruna meletakkan kopi mereka masing-masing.


"Gak nyangka ya, ternyata semesta mempertemukan kita lagi. Tadinya aku pikir gak bisa bertemu denganmu lagi, honey." Ucap Kevin tanpa malu-malu.


Walaupun Arion sudah mendulang dan hanya ingin memastikan kebenaran dugaannya namun tak urung rahangnya mengeras menahan amarahnya Mendengar panggilan mesra Kevin pada istrinya. Arion masih diam dan tak bereaksi, kali ini ia hanya ingin menjadi penonton.


"Maaf pak, anda benar-benar tak tahu malu memanggil wanita yang sudah menikah dengan sebutan seperti itu," Balas Aruna mencoba bersabar.


Aruna tak ingin memperlihatkan kemarahannya pada Arion. Ia berusaha menahan diri agar Arion tak mengetahui permasalahan hingga mereka berakhir.

__ADS_1


"Aku akan tetap mencintaimu dan berharap bisa kembali bersama walaupun kamu sudah menikah."


"Tapi aku tidak mengharapkan itu pak. Silahkan dinikmati kopinya ,,, permisi." Aruna tak ingin melanjutkan pembicaraan yang tak berguna itu.


Ingin rasanya Aruna menerjang Kevin dan mencakar-cakar wajah tampannya agar tak berbentuk dan tak ada yang mengenalinya namun semua itu ia tahan. Bagi Aruna kemarahan yang berlebihan akan memberikan kesan buruk bagi yang melihatnya.


"Siapa suamimu, Run ,,, aku akan datang padanya dan memintamu dengan baik-baik karena dialah yang menjadi orang ketiga diantara kita."


Tangan Arion mengepal hinggq terlihat buku-buu jarinya yang memutih mendengar kata-kata Kevin yang ditujukan untuk dirinya. Suami siapa yang rela jika ada pria lain mencintai istrinya meskipun pada kenyataannya memang dirinya lah yang menjadi orang ketiga. Dalam hal ini bukan masalah orang ketiga atau orang pertama akan tetapi siapa yang lebih berani mengucap ijab qabul atas nama wanitanya.


Aruna menghentikan langkahnya dan memutar badannya seraya berjalan kembali ke tempatnya. Dengan tersenyum Aruna melihat Kevin kemudian menatap Arion.


"Dia suamiku ,,,"


"Apanya yang gak mungkin ?" Aruna mulai merasa kesal dengan Kevin yang tak mau mengerti padahal Kevin sendiri yang tak menganggap serius hubungan mereka,


"Tapi kak Arion seorang player dan itu sudah bukan rahasia lagi bagi teman-teman dekatnya." Kevin benar-benar tak peduli dengan kehadiran Arion diantara mereka.


"Jika dia ditakdirkan untuk menjadi pendampingku, aku bisa apa ? Adapun dia seorang player tapi setidaknya dia mengakuiku sebagai istrinya di depan para wanita yang pernah menikmati tubuhnya. Walaupun terus terang aku tak bisa menerima masa lalunya." Ucap Aruna separuh berbohong dan separuhnya lagi kebenaran.


Arion terhenyak mendengar akhir dari kata-kata Aruna. Istrinya itu sangat pandai menjatuhkannya. Diawali dengan kata-kata pasrah seolah menerima keadaan namun diakhir kata berhasil memukul jatuh mental seorang Arion. Jika saja waktu bisa diulang maka Arion akan memperbaiki semuanya.

__ADS_1


'Apakah aku harus mengulang lagi mahabbah cintaku ? Sepertinya belum berhasil. ' Batin Arion menatap Aruna.


"Kak ,,, Aruna bohong kan ?" Tanya Arion menatap Arion berharap apa yang dikatakan oleh Aruna adalah bohong.


"Benar, Vin ,,, kami sudah menikah dan usia pernikahan kami sudah memasuki bulan keempat."


Kevin terduduk dengan lemas mendengar ucapan Arion. Harapannya untuk kembali menjalin kasih dengan Aruna hilang tak berbekas. Hanya Aruna yang tak bisa ia sentuh seenaknya dan pantas menjadi istrinya. Penyesalan kini memenuhi rongga da**inya, saat itu ia hanya ingin menikmati tubuh wanita yang ia temui dipesawat sehingga mengakui Aruna sebagai teman. Namun ternyata Kevin harus menelan pil pahit. Aruna telah menjadi milik orang lain dan tak mungkin bisa ia rebut kembali mengingat Arion sangat jauh diatasnya. Kevin tak mungkin secara terang-terangan berkompetisi dengan Arion. Lagipula mereka sudah menikah dan pasti sudah sering berbagi kenikmatan. Kevin menerawang jauh ke depan.


Arion berusaha memaklumi perasaan Kevin, bagaimanapun ia dan Hadi Wijaya adalah rekan bisnis. Arion menghormati seorang Hadi Wijaya sebagai teman dan partner bisnis. Selama ini mereka selalu akur dan sejalan. Arion kembali ke meja kerjanya begitupula dengan Aruna. Mereka membiarkan Kevin menata hati dan menerima kenyataan.


Kini perasaan Arion sedikit lega karena ternyata hubungan istrinya dengan Kevin telah berakhir. Walaupun sikap Aruna padanya sedikit berubah dan menerima keadaannya sebagai seorang istri akan tetapi Arion masih belum melihat cahaya cinta dibalik sorot mata bening sang istri.


'Aku harus bersabar, mungkin doa-doaku masih berproses.' Batin Arion menenangkan diri.


Sementara di meja kerjanya Aruna sibuk menenangkan jantungnya yang selalu kacau saat berdekatan dengan Arion. Aruna sangat bingung dengan perubahan detak jantungnya yang tiba-tiba seperti itu. Sepertinya ia harus menceritakan hal ini pada sahabatnya, Syasya. Mungkin gadis itu bisa menjelaskan kondisi jantungnya.


"Huffftt ,,, aku harus mengirim pesan pada penyedap rasa." Gumam Aruna dengan jari-jarinya menekan lembut layar ponselnya.


🌺🌺🌺🌺


SELAMAT PAGI READERS

__ADS_1


TERIMA KASIH ATAS DUKUNGANNYA


__ADS_2