MAHABBAH CINTA SANG MANTAN

MAHABBAH CINTA SANG MANTAN
Mahabbah Cinta Sang Mantan ~ 46


__ADS_3

Selesai makan malam bersama sang nenek, Arion dan Aruna lalu berpamitan ke rumah Putra. Walaupun setengah hati, Aruna mengikuti pria itu, tak mungkin ia menolak terang-terangan di depan nenek kesayangannya. Bisa penuh telinga Aruna dengan nasehat nenek Sarah. Membayangkannya saja membuat Aruna bergidik ngeri.


Tanpa terasa mobil yang dikendarai oleh Arion memasuki halaman rumah sahabatnya. Sepanjang jalan Aruna hanya melamun dan melamun saja hingga tak memperdulikan pria di sampingnya. Walaupun sedikit kesal namun Arion patut bergembira karena kali ini Aruna menerima ajakannya.


"Jangan melamun, kita sudah di rumah Putra ,,, ayo, turun." Ucap Arion memutuskan lamunan Aruna.


Tampak Rani dan Putra telah menunggu mereka di teras. Pasangan itu tampak mesra dengan saling merangkul pinggang pasangannya. Aruna buru-buru keluar mobil sebelum Arion membukakan pintu untuknya.


"Kapan ya, aku bisa mesra-mesraan dengan istriku ,,," Gumam Arion sengaja memperdengarkan pada Aruna.


"Jika kamu sudah berganti istri." Balas Aruna mempercepat langkahnya meninggalkan Arion.


Rani sangat antusias menyambut kedatangan Aruna. Begitupula dengan Putra yang langsung menyambut sahabatnya dengan salam dan pelukan khas pria.


"Selamat datang, Aruna ,,, kenalkan saya Rani. Semoga kedepannya kita bisa bersahabat layaknya suami kita." Ucap Rani memeluk Aruna dengan hangat dan Aruna pun membalasnya.


Arion meringis sambil melirik sahabatnya melihat Aruna hanya membalas pelukan Rani tanpa menimpali ucapan istri sahabatnya itu. Putra hanya tersenyum tipis dan memberi kode agar meninggalkqn mereka dan membiarkan para wanita itu berbicara.


"Aku dan Arion di ruang kerja, kalian silahkan saling mengenal dan semoga cocok." Ucap Putra berjalan mendahului Arion.


"Jangan lama, kopi dan cemilannya aku letakkan di sini aja ya, mas ,,," Balas Rani setengah berteriak karena kedua pria itu sudah berada di tangga teratas yang menghubungkan lantai dua.


Putra hanya mengangkat jempolnya sebagai balasannya. Tidak mungkin bagi Putra membalasnya dengan teriakan pula. Kedua pria itu kemudian menghilang, sedangkan kedua wanita tersebut duduk dan berbicara yang ringan-ringan, mereka belum terlalu akrab.


Kini kedua pria dewasa itu tak terganggu dengan istri mereka. Putra sengaja membuka lebar pintu ruang kerjanya agar tak dicurigai membahas sesuatu yang bersifat rahasia oleh para wanitanya. Putra bukan penganut suami takut istri hanya saja sebelum menikah mereka berdua berkomitmen untuk saling menjaga perasaan pasangannya.


"Semua berjalan lancar, kan ?" Tanya Putra tersenyum jahil.


"Gara-gara rencana gilamu itu, aku harus merelakan pipiku di tampar olehnya. " Kekesalan Arion kembali memuncak melihat senyuman sahabatnya.


Putra tertawa terpingkal-pingkal mendengar penuturan sahabatnya. Baru kali ini ia mendengar seorang Arion ditampar gara-gara menelanjangi wanita. Biasanya para wanita itu dengan sukarela menelanjqngi dirinya sendiri di depan Arion. Mungkin hukum karma berlaku saat itu. Pikir Putra.


"Aku pikir berhasil karena kalian datang bersama."

__ADS_1


"Gimana dia mau nolak kalau aku ngajakin dia di depan nenek Sarah."


"Aruna sangat mirip dengan Rani saat kami baru menikah. Tapi aku langsung cari cara agar istriku itu jatuh cinta padaku." Ucap Putra menatap lurus ke depan


Putra menerawang mengingat pernikahannya setahun yang lalu. Bagaimana sulitnya mendapatkan cinta sang istri. Setiap hari tak pernah terlewatkqn tanpa berdebat hingga akhirnya ia mengunjungi sebuah pesantren atas perintah atasannya.


"Kamu sebaiknya melakukan mahabbah agar Aruna mencintaimu." Lanjut Putra mengingat kisahnya dulu.


" Mahabbah ?!" Arion tersentak mendengar kata itu. Kenapa bisa ia melupakannya padahal pak Kiyai Izham sudah mengajarkannya.


"Ya, mahabbah ,,, kamu pikir Rani mencintaiku seperti sekarang ini karena apa ? Malam ini kalian nginap disini, besok pagi-pagi sekali aku antar kamu menemuipqk Kiyai Izham, hanya beliau yang bisa menyelesaikan masalahmu. " Ucap Putra tak ada jeda. Ia pun sangat prihatin melihat sahabatnya.


"Aku sudah kesana, bahkan beliau sudah mengajariku hanya saja aku lupa melakukannya." Arion cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Haaaa ??!" Putra menganga tak percaya.


Arion kemudian menceritakan kisahnya hingga visa bertemu dengan pak Kiyai yang kharismatik itu. Putra manggut-manggut mengerti. Putra sering mendengar cerita tentang bagaimana seseorang sangat susah menemui sang Kiyai namun dimainkan sisi ada pula bisa menemui beliau dengan mudahnya dan tak disangka-sangka.


"Begitu ceritanya." Arion mengakhiri ceritanya sembari menyandarkan punggungnya.


"Pastinya. Malam ini juga aku akan melakukannya." Ucap Arion bersemangat.


"Good luck ,,, sebaiknya kita turun sebelum istriku berteriak."


"Thanks. Akupun sangat ingin mendengar Aruna berteriak memanggilku dengan lembut." Gumam Qrion sedikit iri dengan kehidupan pernikahan sahabatnya.


"Semangat dong, nanti juga kamu akan merasakannya." Balas Putra terkekeh.


Senyuman kedua pria itu masih menghiasi bibir mereka hingga tiba di depan para wanita yang kini nampak akrab. Arion dan Putra langsung duduk di samping istri masing-masing. Tanpa malu-malu, Putra memberikan ci**an singkat pada bibir mungil sang istri.


"Ck, pamer ,,," Ucapan Arion tak digubris oleh Putra bahkan dengan santainya ia melingkarkan tangannya pada pinggang Rani. Berbeda dengan wajah sang istri yang memerah menahan malu.


Aruna hanya meraih cangkir yang berisi teh manis seolah tak melihat aksi Putra. Pemandangan seperti itu sudah biasa Aruna lihat di negeri Ratu Elizabeth. Bahkan adegan lebih panas pun pernah ia saksikan. Semua itu bukan masalah baginya toh bukan dirinya yang melakukan.

__ADS_1


"Yang, kita pulang yuk ,,, daripada jadi penonton adegan level mereka." Ajak Arion sebelum Putra melakukan hal lebih gila lagi.


"Kenapa harus terganggu ? Mereka pasangan halal, kan ? Lha diluar sana saja banyak yang melakukannya bukan dengan pasangan halalnya." Balas Aruna datar namun tetap mengikuti Arion berdiri.


Ucapan Aruna yang menohok membuat Arion merasa tersinggung. Berbeda halnya dengan Rani dan Aruna yang saling cipika cipiki salam perpisahan khas kaum hawa. Aruna tak sedikitpun merasa bersalah dengan ucapannya yang telah membuat sebuah hati tergores.


"Kapan-kapan kita nongkrong bareng, ya Run ,,," Ucap Rani sebelum Aruna masuk ke dalam mobil.


"Atur aja mbak. Aku siap kok setiap saat." Balas Aruna antusias.


Perlahan Arion melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah sahabatnya. Putra dan Rani melambaikan tangan dan dibalas oleh pasangan Aruna dan Arion. Hingga mereka menghilang dikegelapan malam barulah Putra dan Rani masuk kedalam rumah mereka.


Malam semakin larut, jalanan ibukota pun mulai lengang. Pasangan suami istri yang tak pernah akur itu tetap diam tenggelam dalam pikiran masing-masing. Arion tetap fokus menatap jalan beraspal di depannya walaupun pikirannya sekali-sekali teralihkan pada wanita yang diambagaikqn patung di sampingnya. Beginilah keadaan mereka jika hanya berdua. Mereka hanya akan berbicara panjang lebar saat sedang beradu argumen.


"Sampai kapan kita akan begini terus, Yang ,,," Ucap Arion pelan menoleh ke arah Aruna kemudian pandangannya kembali ke jalan raya.


"Entahlah. Mungkin sampai kita benar-benar berpisah."


Cekiiiit


Arion menginjak rem mendadak mendengar ucapan Aruna. Dengan rahang mengeras ia menatap Aruna tanpa berkedip. Sungguh ia tak sanggup lagi menahan amarahnya. Mata tajam Arion menatap Aruna seakan ingin menelannya hidup-hidup. Melihat hal itu, Aruna bergidik ngeri. Aruna tak pernah menyangka Qrion akan semarah itu hanya dengan kata-kata yang sudah sering ia lontarkan.


"Ka ,,, kamu ke ,,, napa ,,," Tanya Aruna terbata-bata.


"Jangan pernah mengulang kata-kata itu lagi jika kamu tak ingin dihukum." Ucap Arion dengan suara tertahan. Tangannya memegang setir dengan sangat kuat berusaha mengendalikan amarahnya.


Arion tak ingin lepas kendali hingga melakukan sesuatu yang selama ini ia tahan dengan sekuat tenaga. Setelah berhasil menguasai diri, Arion melarikan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Ia ingin segera tiba di rumah nenek Sarah dan melakukan mahabbah yang sempat ia lupakan.


🌺🌺🌺🌺


SELAMAT PAGI ,,,


SELAMAT MENIKMATI HARI LIBUR BERSAMA KELUARGA.

__ADS_1


SELALU BAHAGIA DAN TINGGALKAN JEJAK, YA,,,


__ADS_2