MAHABBAH CINTA SANG MANTAN

MAHABBAH CINTA SANG MANTAN
Mahabbah Cinta Sang Mantan ~ 47


__ADS_3

Setelah memarkir mobilnya, Seperti biasa Aruna langsung keluar diikuti oleh Arion. Tak ada aksi membuka pintu untuk si wanita layaknya pasangan lain karena hal itu sangat tak diinginkan oleh Aruna sendiri. Dengan langkah ringan, Arion masuk kedalam kamar kemudian mengambil baju ganti dan mengganti bajunya di dalam kamar kamar mandi. Aruna sedikit heran dengan sikap Arion yang tak seperti biasanya langsung membuka baju di depannya.


Aruna hanya mengangkat kedua bahunya pun mengambil baju tidurnya, namun Aruna memilih berganti baju di kamar sebelah. Tak lama kemudian Aruna kembali ke kamarnya dan mencuci wajahnya di kamar mandi kebetulan Arion kini sudah berbaring ditempat tidur.


Selesai mencuci wajahnya, Aruna melanjutkan dengan mengoles krem ke wajah dan badannya. Semua kegiatan Aruna tak luput dari pandangan Arion. Sebuah senyuman menghiasi bibirnya.


'Rawat dirimu dengan baik, Yang, tak lama lagi semua akan jadi milikku. ' Batin Arion terpesona dengan aksi Aruna yang terlihat seksi di mata Arion.


"Sanaan dikit ,,," Aruna mendorong tubuh kekar Arion yang menempati setengah tempat tidurnya.


"Latihan Yang, masa sudah memasuki bukan keempat pernikahan kita, tidurnya masih jauh-jauhan."


Bukannya menggeser tubuhnya, Arion malah membalikkan badannya menghadap pada Aruna. Senyuman manis Arion sejenak membuat Aruna terpesona hingga ia kembali meraih kesadarannya.


"Itu untuk pasangan kekasih halal, pak. Kalau kita memang halal namun sangat disayangkan karena kita bukanlah sepasang kekasih." Sarkas Aruna sengaja melanjutkan suaranya padahal siapapun tahu jika ada kemarahan yang tersirat dibalik suara lembutnya.


"Semoga Allah membalikkan hatimu, Yang." Balas Arion mengusap lembut ubun-ubun Aruna kemudian menggeser tubuhnya sesuai keinginan wanita itu.


Aruna tak memperdulikan ucapan Arion. Bukan hanya kali ini Arion berkata seperti itu. Walaupun ia tak ingin disentuh oleh pria tersebut namun Aruna tak selalu bisa menghindarinya karena status mereka sebagai pasangan suami istri. Perlahan Aruna menutup matanya agar keesokan hari ia bisa bangun dengan segar dan menyambut hari dengan bahagia. Arion pun melakukan hal yang sama namun alarm ponselnya sudah diaktifkan agar tengah malam yang sisa beberapa jam lagi tak terlewatkan.


Arion merasa baru saja menutup matanya ketika alarmnya berbunyi. Ia segera meraih ponsel dan mematikan k3mbali alamnya agar tak membangunkan wanita cantik yang sedang tertidur pulas. Sekilas Arion mencuri ci**an pada bibir Aruna sebelum bangun berwudhu.


Walaupun rasa kantuk tak jua meninggalkannya setelah berwudhu namun dengan tekad yang kuat, Arion segera mengganti bajunya dengan baju sholat dan menggelar sejadah. Arion tak menemukan cara yang lain untuk memiliki hatimsang istri. Melakukan dua rakaat dengan khusyu lalu merapalkan doa dengan penuh keyakinan sembari menyematkan nama Aruna Melisha disela-sela doa seperti yang diajarkan pak Kiyai. Setelah itu Arion menutup doanya dan kembali tidur setelah mengganti bajunya. Mahabbah, siapa yang tidak tahu, membuat nama yang disebut akan jatuh cinta setengah mati.


Dalam tidur Aruna terlihat gelisah hingga dahinya dipenuhi butir-butir keringat. Arion berusaha membangunkan sang istri namun Aruna tak jua bangun dan berubah kembali tenang. Arion menyeka keringat sang istri kemudian ikut tertidur. Lumayan untuk, menyegarkan mata saat pagi menyapa.

__ADS_1


Terdengar panggilan bagi umat muslim untuk memenuhi kewajiban dua rakaat sebelum matahari pagi mengambil kendali melaksanakan tugas dari Sang Pemilik Waktu. Seperti biasa Aruna langsung terbangun dan melaksanakan kewajibannya.


Ada rasa yang tak biasa dalam diri Aruna setelah menunaikan shalat subuhnya. Jantungnya tiba-tiba berdetak tak beraturan kala matanya tak sengaja menatap Arion yang masih terlelap.


'Ada apa ini ? Kenapa detak jantungku aneh seperti ini ? Apa mungkin aku terkena serangan jantung ? Ah, aku tak ingin mati muda, aku harus ke dokter sebelum ke kantor. ' Batin Aruna bermonolog seraya mendudukkan b***ngnya di sofa dekat tempat tidurnya.


"Yang, kok gak bangunin aku sih ,,," Ucap Arion dengan suara seraknya khas bangun tidur.


Aruna tak menjawab, ia sibuk memikirkan jantungnya yang semakin tak beraturan mendengar suara pria itu. Arion pun segera masuk ke dalam kamar mandi berwudhu dan menunaikan kewajibannya. Ia tak ingin ketinggalan waktu shalat yang teramat sempit ini.


"Yang, ada apa sih, kok aku lihat sejak tadi melamun terus ,,, masih ingat kekasih hatinya yang tak ada kabar sejak semalam ?" Tanya Arion kesal melihat Aruna tak bereaksi seperti biasanya.


"Hari ini aku gak ke kantor, aku harus ke dokter." Balas Aruna tak peduli dengan pertanyaan Arion yang tak penting menurutnya.


Hubungan mereka sudah berakhir dan Aruna pun tak memikirkannya lagi. Aruna terdiam karena detak jantungnya yang semakin menjadi-jadi. Apalagi Arion yang selalu mengajaknya berbicara.


Mendengar ucapan Arion membuat Aruna mendengus kasar. Bisa-bisanya pria itu mengambil kesimpulan sendiri. Aruna tak ingin berdebat karena kondisi jantungnya yang tak sehat. Dengan langkah lebar, Aruna segera keluar kamar dan menuju dapur guna membantu sang bibi menyiapkan sarapan pagi mereka.


'Ada apa dengannya ?!' Batin Arion bingung.


Sambil melangkah ke arah dapur, Aruna menarik napas panjang untuk melonggarkan pernapasannya. Dan anehnya jantungnya kembali normal. Gembira sekaligus tanda tanya besar memenuhi kepalanya. Baru saja jantungnya bermasalah namun kini semuanya kembali normal.


"Selamat pagi bi ,,," Sapa Aruna ceria walaupun masih memikirkan keadaan dirinya yang sedikit aneh.


"Pagi non ,,, pagi-pagi gini harusnya nona masih menemani suami, jangan langsung keluar kamar."

__ADS_1


"Lho, kok gitu, bi ,,, kalau terus-terusan dikamar gimana mau bikin sarapan ,,,"


"Biasanya suami minta jatah pada pagi hari, non ,,, sebagai penyemangat kerja sekaligus menjaga kesehatan." Ucap sang bibi sok tahu.


"Ck, gak usah bahas gitu-gituan, bi." Balas Aruna risih.


Tidak tahu saja si bibi jika hingga detik ini Arion belum mendapatkan keni**atan dari Aruna. Walaupun setahu Aruna pria itu sudah mengambil kehormatannya.


"Apa yang bisa aku bantu bi, keburu siang ini." Lanjut Aruna mengalihkan pembicaraan.


Aruna masih risih jika membahas masalah privasi pasangan suami istri. Kondisi pernikahannya tak sama dengan pasangan pada umumnya apalagi harus hidup seumur hidup dengan pria dengan masa lalu seperti Arion. Sesaat ia melupakan Kondisi jantungnya yang tak biasa dan larut dalam pekerjaan dapur bersama bibi kesayangannya.


"Yang, tolong dong pilihan baju kerja." Ucap Arion yang entah sejak kapan berada di dapur.


Deggggg


Aruna terkesiap kaget mendengar suara Arion, hingga jantungnya kembali berdetak kencang.


"Lho, Runa ? selesaikan dulu tugasmu, nak ,,," Timpal nenek Sarah yang juga sudah bergabung di dapur.


"Bicara pelan, bisa gak sih ! Mengagetkan orang aja !" Kesal Aruna membuat semuanya melongo tak percaya. Pasalnya pendengaran mereka suara Arion sangat lembut tapi kenapa Aruna bisa kaget ?


Arion hanya mengangkat bahunya sembari mengekori Aruna. Bukan masalah baginya Aruna selalu menyalahkannya karena pada kenyataannya memang Arion tak pernah benar dimata Aruna. Entah kapan doa mahabbahnya bekerja.


🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


SELAMAT SORE READERS.


TERIMA KASIH ATAS DUKUNGANNYA


__ADS_2