
Arion dan Aruna saling bertukar pandang melihat kelakuan Restu. Untuk pertama kalinya Aruna melihat sisi romantis atau lebih tepatnya sisi liarnya seorang Restu yang jika dikantor tak ada yang berani menegurnya.
"Dasar pria sableng, bilang aja belum puas !!" Teriakan Arion tak digubris oleh Restu.
"Jangan teriak-teriak mas, nanti kedengaran sama kakek."
"Semua kamar di rumah ini kedap. suara, Yang."
Arion membaringkan badannya dikursi dengan p**a Aruna sebagai bantalnya. Arion selalu berusaha untuk menciptakan momen-momen yang romantis. Ia tak ingin gagal lagi. Ditinggalkan adalah hal yang sangat tidak ingin Arion alami kedua kalinya. Ia sudah cinta mati pada istrinya yang tak pernah memperlihatkan amarahnya dan itu yang membuat Arion berhati-hati.
"Restu dan Arista kok belum keluar kamar ? Sudah waktunya makan malam." Tanya kakek yang tiba-tiba sudh duduk di depan mereka.
"Bukan belum keluar, kek ,,, tapi masuk kamar lagi." Jawab Arion kembali duduk dengan santai.
Aruna tersenyum malu-malu karena kedapatan oleh kakek sedang bertatapan mesra dengan sang suami. Sebaliknya Arion terlihat biasa-biasa saja.
"Maksudnya ?!"
"Tadi kami sudah berkumpul disini, kek ,,, tapi kemudian menantu kakek itu masih ingin berusaha mengadon cicit buat kakek." Jelas Arion terkekeh.
__ADS_1
"Ya sudah, biarkan saja mereka. Kalian berdua juga harus berusaha keras seperti Arista dan Restu." Ucap kakek Ramdhan kemudian berdiri dan berjalan ke arah meja makan.
Kakek Ramdhan lalu duduk di kursinya diikuti oleh Aruna dan Arion. Mereka bertiga kemudian menikmati makan malam dengan hikmat. Hingga mereka selesai makan malam namun pasangan Arista dan Restu belum juga menampakkan batang hidungnya.
Ketiganya kemudian kembali ke ruang keluarga sementara ART membereskan meja makan.
Pria sepuh itu menatap Aruna dan Arion secara bergantian lalu tersenyum tipis. Arion yang memiliki mata yang jeli dapat melihat senyuman sang kakek.
"Ada apa, kek ? Jangan terlalu tipis senyumnya, kasihan istriku tak dapat menikmati senyuman kakek, kan mubadzir."
"Kamu gak cemburu jika istrimu terpukau dengan senyumanku. ?"
"Eh, jangan salah mas, justru gadis-gadis sukanya sama prian seumuran kakek." Timpal Aruna tanpa rasa bersalah.
Bukan tanpa alasan Aruna berasumsi seperti itu. Jaman sekarang memang para gadis lebih menyukai berkencan dengan kakek-kakek, katanya pria yang sudah uzur tak banyak tingkah tapi uangnya banyak dan mengalir seperti air.
"Yang, jangan katakan jika kamu salah satu diantara yang kamu katakan tadi." Arion mendelik tajam tak terima dengan anggapan sang istri.
Aruna terkikik geli melihat wajah sang suami. Pria ini ternyata cerdas hanya dalam masalah berkas dan kerjasama perusahaan. Saat ini Aruna bukan lagi seorang gadis maka tentu saja ia bukan salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Kenapa kamu jadi seperti ini ? Baru berapa hari kalian menikah." Ucap kakek tak dapat menahan rasa kesalnya.
"Ck, kakek dan Aruna kalau ngomong suka asal. Yang jelas dong, kan aku semakin bingung." Sekesal-kesalnya kakek Ramdhan ternyata Arion lebih kesal karena semakin bingung dengan kata-kata keduanya.
"Maksud kakek, jangan terlalu lama menyedot tombol kecil di d***a kakak ipar. Menurut buku yang pernah aku baca, katanya pria matang yang suka nyedot d**a akan lambat berpikir. " Timpal Arista yang telah bergabung bersama mereka sambil berangkulan dengan Restu.
Wajah keduanya tampak segar setelah hampir dua jam mereka dikamar. Arista dan Restu benar-benar berusaha keras agar segera memiliki momongan. Bagi pasangan tersebut usaha dan kerja keras akan mendapatkan hasil yang maksimal.
Mendengar ucapan sang adik yang selalu dapat dimengerti olehnya membuat Arion menganga tak percaya. Matanya menatap tajam Arista yang secara tidak langsung mengatainya lemot. Sedangkan Aruna menahan malu mendengar kata-kata vulgar adik iparnya itu.
"Hehehe ,,, maaf Yang, kamu kan bukan lagi gadis." Ucap Arion salah tingkah.
"Gak usah malu kakak ipar, wajar aja kan kalau seorang gadis yang telah menikah berubah menjadi seorang wanita." Timpal Restu membuat wajahnya Aruna semakin memerah.
Malam semakin larut, kakek Ramadhan kemudian berdiri dan berjalan ke arah kamarnya. Beliau tidak bisa tidur terlalu larut. Kedua pasangan itupun akhirnya masuk ke dalam kamar. Sudah menjadi kebiasaan mereka untuk menemani sang kakek cerita sebelum tidur. Mereka tak ingin jika kakek Randhan merasa kesepian.
🍄🍄🍄🍄
SELAMAT SIANG READERS
__ADS_1
TERIMA KASIH ATAS DUKUNGANYA SELAMAN INI