
Keinginan Aruna untuk segera pulang harus tertunda. Ia lebih memilih pulang pada jam kantor selesai dan menuntaskan semua pekerjaannya, daripada besok harus ke kantor lebih pagi. Aruna tak ingin melewatkan paginya bersama sang nenek.
Sementara Aruna dalam perjalanan pulang, Kakek Ramdhan bersama dengan Arion dan Arista tiba di rumah nenek Sarah. Sang empunya rumah cukup kaget melihat keluarga sahabat almarhum suaminya tiba-tiba datang berkunjung.
"Lho, Ramdhan ? Tumben nih ramai-ramai berkunjung. " Nenek Sarah mencoba menetralkan perasaannya. Walau bagaimanapun kejadian di masa lalu membuat hatinya kembali terluka. Mengingat tatapan iba para tamu pada cucu kesayangannya.
"Maafkan kami jika mengejutkan, Sarah ,,, tapi cucu kurang ajarku ini ingin menjelaskan alasan dibalik gagalnya pertunangan mereka enam tahun lalu. " Ucap kakek Ramdhan berwibawa dan serius.
Arion terlebih dahulu meminta maaf pada nenek Sarah sebelum kemudian ia memperlihatkan pesan ancaman yang di kirim padanya. Arion memang sengaja menyimpan ponselnya enam tahun lalu. Ia berinisiatif menggantinya dengan ponsel yang baru dan nomor yang baru sembari mencari pelaku sebenarnya.
"Nenek percaya nak akan tetapi entah dengan Aruna. "
"Itu tugasku untuk meyakinkan Aruna nek. Yang penting saat ini nenek menerima lamaranku untuk menikahi Aruna. " Ucap Arion dengan wajah memelas.
"Sejak dulu hingga kini nenek berharap nak Arion yang akan menjadi cucu menantu nenek, rasanya tak pantas dan berdosa jika tidak melaksanakan amanah terakhir almarhum suami nenek. " Mendengar kata-kata nenek Sarah membuat wajah Arion berbinar bahagia.
Perlahan mobil Aruna memasuki halaman rumah yang tidak terlalu luas itu. Matanya menyipit menatap mobil mewah yang terparkir dan terdengar suara ramai di dalam rumahnya. Ia merasa tak asing dengan mobil tersebut, lamat-lamat ia mendengar sebuah suara yang tak asing di telinganya. Aruna penasaran ingin memastikan dugaannya.
"Assalamualaikum ,,," Salam Aruna membuat semua orng menatap ke arah pintu dimana Aruna berdiri.
Walaupun Aruna terkejut dengan kedatangan mereka namun ia tetap menampilkan wajah yang biasa-biasa saja. Tak menampakkan jika sebenarnya ia terganggu dengan kedatangan mereka. Aruna menghampiri kakek Ramdhan dan mencium punggung tangannya kemudian melakukan hal yang sama pada sang nenek lalu duduk dengan tenang di samping nenek Sarah.
"Kebetulan nak Aruna sudah datang, bagaimana kalau kita mendengar pendapatnya. " Kakek Ramdan tersenyum lembut pada Aruna.
"Maaf mengenai apa ya, kek ? Kok butuh pendapatku. "
"Ini lho sayang, nak Arion bersama keluarganya sengaja datang ke rumah kita untuk melamarmu. " Ucap nenek Sarah pelan.
"Maaf nek, Runa ke kamar dulu bersih-bersih. " Aruna langsung berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
Aruna menangis karena kesal pada neneknya. Baru kali ini Aruna merasa kesal pada nenek Sarah. Kenapa nenek Sarah semudah itu memaafkan pria sombong itu ? Apa yang dikatakan pria itu hingga nenek bahagia ? Aruna tenggelam dalam lamunannya hingga lupa jika dirinya sedang berada di dalam kamar mandi.
__ADS_1
Tiga puluh menit kemudian Aruna menyudahi ritual mandinya dan segera berpakaian. Rasa lelahnya berganti dengan kekesalan hingga ia tak kunjung keluar dari kamar. Padahal semua menunggu kedatangan Aruna bahkan sejak tadi nenek Sarah mempersilahkan mereka bersantap malam namun tak seorangpun bergerak.
Tok
Tok
Tok
Ceklek
"Sayang, nenek boleh masuk ?" Nenek Sarah membuka sedikit pintu kamar Aruna.
"Masuk aja, nek."
"Keluar yuk, sayang. Semarah apapun kita tapi kita tetap harus menghargai setiap orang yang datang bertamu ke rumah kita. Jangan memperlihatkan ketidak sukaan kita pada mereka. " Nenek Sarah mengelus lembut kepala cucu kesayangannya.
"Aku gak masalah jika mereka bertamu nek, tapi aku gak bisa terima jika pria sombong itu ingin menikahiku. Nek, tolong mengertilah, aku punya kekasih. "
"Maaf nek, Aruna gak bisa." Balas Aruna berkeras.
" Bahasnya nanti setelah Aruna tenang. Sekarang kita keluar makan malam bersama. Kasihan mereka menunggu lama. "
Walaupun Aeuna tak bersemangat namun ia tak ingin membuat neneknya kecewa begitupum terhadap kakek Ramdhan. Beliau tak ada sangat pautnya dengan masalah antara dirinya dan Arion. Bersama sang nenek, Aruna akhirnya keluar dari kamar.
"Ayo anak-anak, kita makan malam, nanti makanannya keburu dingin. " Ajak Nenek Sarah.
Arista langsung berdiri dengan semangat 45 menuju meja makan. Tanpa malu-malu ia duduk dan mulai mengambil berbagai macam lauk. hingga piringnya hanya dipenuhi lauk dan nasi tak memiliki tempat.
"Itu terlalu banyak, dek. Malu-maluin aja. " Tegur Arion dan hanya dibalas dengan cengiraan oleh Arista.
Nenek Sarah tampak sibuk melayani kakek Ramdhan. Persahabatan antqrq kakek Ramdhan dengan almarhum suami nenek Sarah bagaikan saudara kandung. Melihat kedekatan kakek Ramdhan dan neneknya membuat Aruna tersenyum tipis dan memiliki ide gila.
__ADS_1
"Kenapa bukan nenek dan kakek Ramdhan saja yang menikah ? Kami pasti setuju daripada mengulang perjodohan yang tidak akan pernah berhasil. " Ucapan Aruna yang tak pernah di sangka oleh kedua orang tua itu membuat kakek Ramdhan tersedak saking kagetnya.
Uhuk ,,, uhuk ,,, uhuk
Nenek Sarah segera menyodorkan air putih pada sahabt suaminya dengan wajah bersalah. Sementara Arista yang sedang menyuap lauk favoritnya menghentikan kegiatannya sejenak dan tertawa terpingkal-pingkal. Arista membayangkan pernikahan kedua sepuh itu. Sementara Arion menatap tak percaya pada Aruna.
"Maafkan cucuku, Ram ,,," Ucap nenek Sarah setelah kakek Ramdhan tenang.
"Tak mengapa, Sarah. Kita hanya perlu menentukan hari pernikahan mereka sesegera mungkin." Balas kakek Ramdhan tenang namun berwibawa.
Aruna melotot tak terima. Baru saja nenek Sarah mengatakan akan membalasnya setelah ia merasa tenang namun kenapa tiba-tiba kakek Ramdhan memutuskan sendiri ?
"Gak boleh gitu dong, kek. Kami adalah dua orang asing yang tidak saling mengenal dengan baik, bagaimana bisa menikah ? Lagpula aku memi ,,," Aruna tak menyelesaikan ucapannya karena langsung di potong oleh Arion.
"Ijinkan kami berbicara empat mata malam ini, kek. Aku akan menyelesaikan kesalahpahaman ini. " Arion tak ingin jika Aruna mengatakan yang sebenarnya di depan kakek Ramdhan. Ia tak ingin membuat kakeknya kecewa.
Arion segera menyudahi makannya dan menarik tangan Aruna agar mengikutinya. Kini mereka berada di gazebo samping rumah nenek Sarah. Tempat nenek Sarah menikmati matahari pagi.
"Aku belum selesai makan." Aruna menyentakkan tangannya hingga terlepas dari orangnya Arion.
"Sebenci-bensinya kamu padaku, jangan membuat kakekku kecewa. " Balas Arin menatap tajam Aruna.
"Itu hak aku untuk mengatakan yang sebenarnya agar beliau bisa membatalkan keputusan gila ini. " Sarkas Aruna juga menatap tajam Aeion. Takmada rasa takut sama sekali, lagian mereka bukan di kantor jadi Aruna berpikir bebas saja ia akan mengatakan apa saja pada pria di depannya.
"Dengarkan dulu penjelasanku. Apa yang aku lakukan dimasa lalu , itu semua demi kebaikanmu dan nenek Sarah. Aku menerima pesan yang isinya mengancam keselamatanmu dan nenek Sarah jika aku melanjutkan pertunangan kita. " Jelas Arion secara singkat seraya memperlihatkan pesan yang ia terima kala itu.
"Apapun alasannya semua sudah terlambat bagiku. Mengapa setelah enam tahun berlalu baru kepikiran untuk menjelaskan semuanya ? Maaf, apapun penjelasannya keputusanku tak bisa berubah. Aku memiliki kekasih dan sangat mencintainya. " Tegas Aruna.
"Gak masalah, yang penting kalian belum menikah dan yang paling penting nenek Sarah sudah menerima lamaranku. Ingat penyakit jantung nenek Sarah, dengan umurnya yang tak semuda enam tahun lalu, bisa saja jantung beliau memburuk jika terlalu dibebani pikiran yang berat. " Balas Arion meninggalkan Aruna yang terdiam memikirkan kata-kata pria itu.
Aruna terduduk dengan lemas. Apa yang dikatakan oleh Arion membuatnya serba salah. Aruna akan mencoba berbicara dengan nenek Sarah dari hati ke hati sebagai sesama wanita.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺