MAHABBAH CINTA SANG MANTAN

MAHABBAH CINTA SANG MANTAN
Mahabbah Cinta Sang Mantan ~ 77


__ADS_3

"Turut berduka cita atas wafatnya nyonya Zahra. Maaf baru bisa datang karena ada pasien yang gawat."


"Terima kasih sudah datang, dok ,,, silahkan duduk." Ucap Aruna


"Gabung sama kami aja, dok ,,," Ajak Arion yang entah sejak kapan berdiri di samping Aruna.


Aruna kaget dan menatap Arion dengan tatapan yang tak terbaca. Jarak mereka sangat dekat dan itu membuat Aruna kikuk namun ia tak bisa berbuat apa-apa karena para keluarga melihat mereka. Aruna tak mungkin berteriak pada pria itu karena tak ada yang tahu perpisahan mereka.


"Silahkan dilanjut, Yang ,,, mas ajak dokter Sandy ke tempat kakek." Ucap Arion memanfaatkan kesempatan.


Sejak dulu Arion selalu saja mendapatkan kesempatan yang tak terduga di saat dirinya berusaha mendapatkan hati Aruna. Entah ini dukungan dari semesta atau kemauannya othor 🤭


Dokter Sandy digiring oleh Arion bergabung dengan keluarganya dan pak Kiyai. Dengan sopan Dokter Sandy menyapa mereka satu per satu.


"Oh ya pak Kiyai ,,, dokter Sandy adalah dokter yang menangani nenek Sarah selama ini." Arion memperkenalkan dokter Sandy.


"Dokter Sandy sudah menikah atau pernah menikah atau masih bujang ? Kayaknya cocok tuh dengan kak Aruna." Pertanyaan Arista membuat dokter Sandy salah tingkah.


Arion menatap tajam sang adik yang ceplas ceplos kalau ngomong, sedangkan kakek Ramdhan dan Kiyai Izham tertawa tanpa mengeluarkan suara.


"Kamu terlalu bersemangat, sayang ,,, pelan-pelan aja, toh Aruna juga masih berduka." Ucap Restu seolah-olah mendukung sang istri.


"Kalian mau Aruna berpoliandri ? bentar lagi kami akan menikah dan kalian malah berniat menjodohkannya dengan dokter Sandy." Sewot Arion menatap adik dan asisten sekaligus adik iparnya itu.


Degggg


Jantung dokter Sandy bagaikan lepas dari tempatnya mendengar ucapan Arion. Memang dirinya belum mengenal keluarga Aruna dan nenek Sarah dengan baik. Sejak pertama melihat Aruna, ia sudah tertarik pada gadis itu. Dokter Sandy tak mengetahui jika ternyata Aruna sudah memiliki calon suami. Sakit, nyeri itulah yang dirasakan oleh dokter Sandy.

__ADS_1


Dokter Sandy tersenyum paksa, walaupun harapan tak sesuai dengan keinginan hatinya namun ia tetap berpikiran positif, semua ada hikmahnya. Beruntung perasaannya belum mendalam dan ia belum mengungkapkannya.


"Selamat ya, semoga kalian bahagia dan selalu bersama hingga maut yang memisahkan." Ucap dokter Sandy tulus.


"Aamiin Yaa Rabbal Alamiin." Pak Kiyai Izham mengangkat kedua tangannya mengaminkan doa tulus dokter Sandy.


"Pak Kiyai ?!"


"Ucapan adalah doa pak Ramdhan dan kewajibanku mengaminkan setiap kata-kata yang baik." Balas pak Kiyai Izam santai.


Hari semakin sore, keluarga mendiang nenek Sarah pun satu orang satu masuk ke dalam rumah. Aruna kemudian berjalan kearah pak Kiyai dan kakek Ramdhan. Rasanya kurang sopan jika tak menghampiri kedua perang tua itu apalagi dokter Sandy berada diantara mereka. Walaupun pada akhirnya Sang Khalik mengakhiri kontrak kehidupan nenek Sarah di dunia ini namun dokter Sandy sudah melakukan berbagai hal untuk sang nenek.


"Terima kasih dokter, selama ini telah merawat nenek." Ucap Aruna tersenyum manis dibalik mata sembabnya.


"Sudah menjadi tugas saya, nona." Balas dokter Sandy sopan.


Dokter Sandy kemudian menyalami mereka secara bergantian. Hingga satu menyalami Aruna, genggaman tangan pria tampan itu sangat erat seolah tak ingin melepaskannya. Wajah arion memerah dan rahangnya mengeras menahan amarahnya.


"Santai bro ,,, jangan sampai gagal lagi." Bisik Restu memperingatkan.


"Iya nih, jangan hanya mengandalkan emosi sesaat." Timpal Arista ikut berbisik.


Setelah itu dokter Sandy pun melangkah semakin menjauh hingga akhirnya hilang dari pandangan.


"Setelah masa berkabung selesai apa rencana nak Aruna selanjutnya ?" Tanya Kiyai Izam saat Aruna kembali duduk,


"Kembali ke Inggris setelah pekerjaanku disini selesai, mengenai rumah ini, bi Ina dan pak Danang aja yang menempati, pak Kiyai." Balas Aruna apa adanya.

__ADS_1


Rencana awal Aruna sebelum sang nenek berpulang ke rahmatullah adalah kembali menetap di tanah air untuk mengurus sang nenek. Namun saat ini tak ada lagi yang mengharuskan Aruna untuk tinggal lebih lama lagi di Indonesia.


"Gak ingin kembali ke pesantren belajar ? Atau menikah lagi mungkin ?"


"Hehehe ,,, belum kepikiran pak Kiyai. Lagipula hidup sendiri sepertinya lebih nyaman." Aruna cengengesan sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kasihan nenek Sarah jika keturunan satu-satunya tak menikah." Sergah pak Kiyai serius.


"Maksud pak Kiyai ?"


"Kalau nak Aruna tidak menikah dan tak memiliki keturunan berarti jejak nenek Sarah didunia ini hanya sampai para nak Aruna saja dan keturunan nenek Sarah akan habis."


Aruna terdiam dan memikirkan perkataan pak Kiyai Izham Khaliq. Memang benar adanya apa yang beliau katakan. Tapi untuk menikah lagi bukanlah perkara gampang bagi Aruna. Bayangan ketidaksetiaan makhluk yang bernama laki-laki masih jelas dalam ingatannya. Aruna menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Bagaimana jika kalian menikah lagi. Nak Arion juga sudah sadar dan menyesali semua perbuatannya dimasa lalu." Lanjut pak Kiyai tersenyum.


"Maksud pak Kiyai ?!" Aruna belum bisa mencerna ucapan pria kharismatik itu.


"Maksudnya gini lho kak, bentar lagi kan malam nih, keluarga kak Runa juga belum ada yang tahu kalau kalian sudah bercerai. Gimana kalau kalian menikah lagi sekarang, emang sih bukan waktu yang tepat mengingat jenazah nenek Sarah baru aja dimakamkan tapi bagaimana tanggapan para keluarga jika kak Arion pulang malam ini padahal nenek mertuanya baru saja meninggal. Keluarga kakak pasti akan mengurangi cerita bebas tentang kalian dan untuk tinggal pun gak mungkin karena kalian bukan muhrim." Ucap Aeista panjang lebar.


Kakek Ramdhan dan pak Kiyai Izham manggut-manggut mendengar perkataan Arista yang sangat masuk akal. Sedangkan Aruna sedang kesulitan berpikir. Ia tak ingin terikat janji suci dengan pria yang pernah menyia-nyiakan perasaannya namun disisi lain ia pun tak ingin menjadi obyek pembicaraan keluarga sang nenek yang tak menyukainya.


🌺🌺🌺🌺


NAH LHO ,,,, KASIHAN KAN SI ARUNA ?


SELAMAT SIANG READERS

__ADS_1


JANGAN LUPAKAN JEJAKNYA


__ADS_2