MAHABBAH CINTA SANG MANTAN

MAHABBAH CINTA SANG MANTAN
Mahabbah Cinta Sang Mantan ~ 45


__ADS_3

Tinggg


Untuk kesekian kalinya ponsel Aruna berbunyi tanda pesan masuk. Dahi Aruna berkerut karena ponselnya dan ponsel Arion berbunyi secara bersamaan. Untuk pertama kalinya pula Aruna mendengar ponsel mereka berbunyi secara bersamaan. Namun Aruna tak ambil pusing mungkin hanya kebetulan saja, pikirnya.


Aruna hanya menarik napas panjang kala melihat pada layar, tertera nama Kevin. Aruna kembali meletakkan ponselnya tak berniat untuk membaca pesan tersebut. Sedangkan Arion terlihat sibuk dengan ponselnya.


"Mulai malam ini aku tidur disini." Ucap Aruna datar.


"Akupun sama." Balas Arion santai.


"Gak ada tempat buatmu disini."


"Yang, kamu gak lelah ,,, sejak awal pernikahan ketus dan marah-marah terus ? Aku lelah, Yang ,,, amat sangat lelah." Arion membaringkan tubuhnya tanpa permisi.


Tak ada tanggapan dari Aruna. Ia meraih ponselnya dan berselancar di dunia maya tak lupa pula membuka pesan Kevin daripada tak punya kesibukan. Seketika matanya membulat sempurna melihat pesannya sudah terbaca.


Bug


Bug


Bug


"Kamu ngehack WA aku, kan !!" Aruna memukul d*d* pria yang sedang tidur-tiduran itu dengan sekuat tenaga.


"Aauuwww ,,, ada apa sih, Yang ,,, kalau aku mati, gimana ,,," Arion berteriak karena kaget dengan pukulan Aruna yang tak main-main kerasnya.


"Ada hak apa kamu mengkloning Whatsapp aku ?!" Geram Aruna tak terima.


"Aku mencintaimu dan tak akan pernah aku biarkan pria itu selalu mengirim pesan mesra padamu."


"Sejak kapan ? Pantesan selama beberapa hari ini semua pesanku terbaca bahkan ada beberapa yang dibalas padahal aku tak melakukannya." Aruna mengomeli Arion untuk pertama kalinya.


Bukannya terbawa emosi, Arion malah tersenyum lebar mendengar untuk pertama kalinya wanita itu berbicara panjang lebar padanya. Rupanya istrinya itu bisa juga cerewet layaknya ibu-ibu pada umumnya.


"Jangan senyum senyum gak jelas." Aruna semakin kesal melihat wajah tak bersalah Arion.

__ADS_1


Dengan kasar Aruna memutar kunci pintu kamar kemudian keluar. Tak lupa ia membawa dompet dan kunci mobilnya sedangkan ponselnya ia tinggalkan begitu saja.


"Lho, sayang ,,, mau kemana ?" Tanya nenek Sarah melihat Aruna keluar kamar dengan wajah tertekuk.


"Keluar sebentar, nek ,,," Jawab Aruna seraya mencium pipi nenek Sarah kemudian dengan cepat meninggalkan sang nenek untuk menghindari lebih banyak pertanyaan.


Nenek Sarah adalah tipe orang tua yang memiliki seribu pertanyaan untuk satu perbuatan. Terkadang Aruna kewalahan menjawabnya. Nenek kesayangannya itu melebihi anak usia tiga tahun yang rasa ingin tahunya terlalu besar.


Tak lama kemudian, Arion pun keluar dari kamar dengan celana pendek dan kaos press body sehingga menampakkan d**a bidang dan otot-otot perutnya. Arion memang sengaja menyimpan baju-bajunya di rumah nenek Sarah untuk mengantisipasi ketika ia harus menginap di rumah nenek mertuanya itu.


"Ada apa dengan Aruna, nak Arion ? Kok dia pergi dengan terburu-buru ?"


"Katanya dia mau membeli sesuatu, nek." Jawab Arion asal.


'Maafkan aku nek, gak mungkin aku ngomong yang sebenarnya.' Batin Arion merasa bersalah pada wanita tua itu.


"Kapan kalian berencana memiliki anak ?"


Pertanyaan nenek Sarah membuat Arion mematung. Ia memikirkan kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan sang nenek. Alih-Alih berencana memiliki buah hati, meminta haknya saja sebagai suami belum pernah. Pertanyaan ini yang sangat Arion hindari makanya selama ini ia jarang berkunjung ke rumah sang kakek tapi kini malah sang nenek mertua yang melakukannya.


"Nanti setelah Aruna pulang, kalian harus membahasnya. Kalian berdua harus memiliki target, kami sudah sepuh dan ingin menimbang cicit sebelum Yang Maha Kuasa memutuskan kontrak hidup kami."


'Katakan itu pada cucumu, nek.' Batin Arion.


"Iya nek." Arion tak ingin memperpanjang karena semua itu tak ada gunanya jika Aruna tak ada bersama mereka.


Arion akhirnya berhasil mengalihkan pembicaraan. Keduanya kini berpindah ke taman yang terletak disamping rumah. Suasana akrab antara cucu dan nenek terlihat seperti layaknya cucu kandung. Nenek Sarah yang sangat mendambakan pendamping untuk Aruna kini telah terjadi sesuai dengan keinginannya. Rasa bahagia memenuhi ruang hati wanita tua itu.


Ditengah perbincangan mereka yang penuh dengan keakraban, terdengar suara mesin mobil memasuki halaman rumah minimalis itu. Tak lama kemudian terlihat Aruna memasuki rumah namun langsung duduk di ruang keluarga menghadap ke pintu yang menghubungkan dengan taman dimana Arion dan nenek Sarah sedang berbincang-bincang.


Aruna tak memperdulikan keduanya. Ia lebih memilih mengurus isi kantongan yang ia bawa. Dari jarak yang tak terlalu jauh, Arion melihat Aruna mengeluarkan ponsel baru.


"Nek, aku lihat Aruna dulu ,,," Pamit Arion sebelum meninggalkan sang nenek.


Arion berjalan menghampiri Aruna yang masih sibuk dengan ponsel barunya. Sebuah senyuman menghiasi bibir Arion.

__ADS_1


"Wah, rupanya keluar membeli ponsel baru ?" Ucao arion sembari mendudukkan dirinya di samping Aruna.


Sedikit kemajuan bagi Arion karena sang istri tak lagi menolak jika mereka duduk dalam jarak yang cukup dekat.


"Terserah akulah, belinya pake uang sendiri juga, kan ,,, jadi bebas-bebas ajalah." Balas Aruna masih sinis.


"Hanya karena ponselmu aku sadar ?"


"Tentu saja. Semua milikku yang sudah tersentuh dengan orang asing harus aku ganti."


"Termasuk aku ?"


"Tentu saja jika kamu milikku, tapi aku rasa sampai kapanpun kamu bukanlah milikku." Balas Aruna terkekeh menyadari jika dirinya hampir saja dijebak oleh Arion.


Arion hanya mendengus kasar. Ia tak boleh menganggap remeh wanita satu ini. Dia adalah wanita yang sangat berbeda dengan wanita yang sering ia temui. Wanita istimewanya ini patut untuk diperjuangkan.


"Nanti malam temani aku menemui Putra di rumahnya. Rani sangat ingin berkenalan denganmu." Ucap Arion apa adanya.


Istri Putra memang sangat ingin mengenal lebih dekat Aruna akan tetapi tentu saja itu hanya alasan Arion semata. Ia ingin bertemu dengan sahabatnya itu dan memberinya pelajaran. Seumur hidupnya, Arion belum pernah diberikan salam lima jari oleh siapapun apalagi oleh seorang wanita. Akan tetapi karena mengikuti rencananya kini dalam sejarah hidup Arion telah tercatat dengan tinta emas ditempeleng oleh istrinya sendiri gara-gara dituduh merenggut mahkotanya.


"Aku ada janji dengan teman."


"Jangan katakan jika janji yang kamu maksud adalah dengan pria selingkuhanmu itu." Emosi Arion tersulut.


"Selingkuhan ? Hello ,,, yang datang dihidupkan kami, siapa ya ?!!" Aruna ikut-ikutan emosi padahal sebenarnya antara dirinya dan Kevin semua telah usai. Walaupun pada kenyataannya Kevin masih saja terus-terusan ingin bertemu dengan Aruna.


"Aku bukan orang ketiga pada hubungan kalian, aku hanya melakukan yang aku anggap benar, karena sejatinya pria itu hanya menjaga jodohku saja." Balas Arion enteng.


Aruna memutar bola matanya jengah. Tak ada gunanya beradu argumen dengan pria ini. Aruna tak ingin emosinya kembali terpancing. Ia kemudian melanjutkan mengutak atik ponsel yang baru saja ia beli. Dari kursi taman, nenek Sarah tersenyum bahagia melihat interaksi kedua pasangan itu yang tampak mesra. Tidak tau saja si nenek jika sebenarnya pasangan itu sedang bertengkar.


🌺🌺🌺🌺


SELAMAT SIANG ,,,,


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA

__ADS_1


__ADS_2