
Selesai shalat magrib berjamaah dilanjutkan dengan ijab qabul Arion dan Aruna. Kakek Ramdhan dan Arista tampak sangat antusias melihat pasangan itu demikian pula halnya dengan Restu, Putra dan istrinya. Sedangkan keluarga Aruna biasa-biasa saja karena tak mengetahui yang sebenarnya.
"Terima kasih, Yang ,,," Ucap Arion seraya mencium dahi sang istri.
"Tak ada lagi kesempatan berikutnya, kak ,,," Balas Aruna datar.
Sambil menunggu waktu untuk Shalat Isya, semua duduk berkumpul layaknya sebuah keluarga. Pak Kiyai Izham duduk berdampingan dengan kakek Ramdhan sementara Aruna bersama Arista dan Rani duduk tak jauh dari kumpulan para suami mereka.
Tante Rianti sejak tadi hanya duduk di depan kamar mendiang nenek Sarah. Sejak pukang dari pemakaman wanita itu terus-terusan menanyai bi Ina soal kunci kamar almarhumah.
"Kak, tante itu kok sejak tadi aku perhatikan selalu berusaha membuka kamar nenek Sarah, padahal jelas-jelas terkunci, lho." Bisik Arista kepo.
"Dia kira ada harta karun dikamar nenek." Balas Aruna terkikik geli untuk pertama kalinya sejak sang nenek dirawat.
"Sssttt, jangan bergosip gak baik dilihat orang apalagi suami kita." Timpal Rani berbisik.
Diantara mereka bertiga, Ranilah yang paling senior dan berpikiran lebih dewasa. Namun jika mengenai kepandaian dalam hal penguasaan diri maka Arunalah orangnya sedangkan ceplas ceplos dan tak berpikir dalam berbicara adalah sifat Arista.
Hingga adzan Isya kembali berkumandang, semua bersiap untuk menunaikan kewajiban mereka sebagai umat muslim. Aruna bergegas mengambil air wudhu dan setelah itu ikut melaksanakan shalat Isya berjamaah.
Para tetangga mulai berdatangan dan bergabung dengan para keluarga mendiang nenek Sarah. Pak Kiyai Izham Khaliq pun mulai memberikan tauziah pada acara takziah malam pertama kepergian almarhumah.
Setelah tauziah pak Kiyai berakhir, Aruna dan Arista dengan sigap membagikan dos berisi kue sebelum para tamu pulang ke rumah masing-masing.
__ADS_1
Akhirnya para tetangga pulang karena jam sudah menunjukkan pukul 21.15. Tinggallah para keluarga yang berasal dari luar kota. Karena pekerjaan mereka yang tak dapat ditinggalkan maka mereka pun berpamitan untuk kembali ke tempat dimana mereka berdomisili selama ini.
"Kami berencana akan berangkat dengan pesawat pertama besok. Takutnya gak sempat pamit." Ucap om Baskoro mewakili yang lain.
"Nanti saya yang urusan tiketnya om." Ucap Arion secepat kilat.
"Terima kasih nak, tapi kami memang sudah membooking tiketnya PP. " Balas om Baskoro pelan.
"Oh ya sudah, gak apa-apa. Tunggu sebentar ya, om jangan masuk kamar dulu."
Arion bergegas berdiri dan mendekati Restu. Lalu mereka sama-sama keluar entah kemana. Tak lama kemudian Arion dan Restu kembali dengan sebuah kresekan hitam yang entah apa isinya.
"Maaf om, kami kebetulan ada rejeki dan bukan bermaksud merendahkan semua keluarga akan tetapi ini adalah bentuk ucapan terima kasih saya dan istri karena telah datang mengantar nenek ke peristirahatannya yang terakhir." Ucap Arion lalu membagi-bagikan amplop coklat pada semua keluarga. Tebal dan isinya sama.
Mendengar ucapan Arion, tante Rianti langsung berdiri dan mendekati Restu kemudian mendaftar semua keluarga nenek Sarah yang akan pulang besok siang. Rianti memaksa keluarga yang lain untuk pulang karena kesal tak bisa menekan Aruna.
Wanita pesolek itu salah persepsi. Selama ini ia melihat Aruna selalu menurut dan tak pernah memperlihatkan kemarahannya namun siapa sangka setelah neneknya meninggal ternyata tak ada yang bisa mengintimidasinya.
Tak ingin terlibat dengan masalah keluarga nenek Sarah, pak Kiyai mengambil inisiatif untuk segera beristirahat sementara kakek Ramdhan masih berbincang-bincang dengan Putra sembari menunggu Restu.
"Ingatkan selalu Arion, nak ,,, jangan sampai mengulang kesalahannya lagi." Pinta kakek Ramdhan pada Putra.
"Tentu, kek ,,, jangan khawatir. Lagipula Arion sudah banyak belajar dengan peristiwa kemarin." Balas Putra meyakinkan kakek Ramdhan.
__ADS_1
"Iya kek, Aruna kan juga saat ini berkantor di tempat Arion jadi gak akan ada masalah ke depannya. Dan kali ini Aruna pasti akan memproteksi suaminya dari wanita-wanita yang berusaha menarik perhatian suaminya." Timpal Rani menatap Aruna yang saat ini duduk bersama Arion.
Sebagai sesama perempuan, Rani bisa membaca perubahan sikap tubuh Aruna yang sangat berbeda dari setahun yang lalu. Kali ini Aruna lebih banyak menatap Arion dengan lembut sangat bertolak belakang dari terakhir mereka bertemu.
"Aamiin ,,," Ucap kakek Ramdhan khusyu'
Malam semakin larut, tugas Restu pun selesai. Akhirnya kakek Ramdhan beserta rombongan pulang diikuti oleh pasangan Putra dan Rani.
"Selamat bermalam pertama walaupun itu hanya buat Aruna." Bisik Restu sebelum berlalu.
"Gak takut bonusnya hilang ?" Balas Arion kesal.
"Kali ini enggak, yang susah kan kamu juga BOS." Balas Restu terkekeh menatap Arista yang sudah duduk cantik di dalam mobil.
Arion hanya mendengus kasar mendengar ucapan adik iparnya itu. Sejak menikahi adik kesayangannya, Restu tak mempan lagi jika diancam karena ia tahu jika Arion sangat menyayangi adiknya dan tak mungkin melihatnya menderita. Hmmm keputusan Restu untuk memberikan hatinya pada Arista sangatlah tepat.
🌺🌺🌺🌺
SELAMAT PAGI READERS DAN SELAMAT MENIKMATI HARI LIBURNYA
JANGAN LUPA UNTUK BAHAGIA BERSAMA KELUARGA
DAN TERIMA KASIH ATAS DUKUNGANNYA
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺