MAHABBAH CINTA SANG MANTAN

MAHABBAH CINTA SANG MANTAN
Mahabbah Cinta Sang Mantan ~ 37


__ADS_3

Aruna dan Syasya berjalan beriringan memasuki restoran yang telah diramaikan oleh pengunjung yang membutuhkan asupan setelah bekerja setengah hari. Kedua gadir itu kemudian mencari meja yang kosong. Beruntung masih terdapat meja kosong dekat jendela. Aruna memilih meja yang berada dekat jendela dan mengambil posisi yang menghadap ke jalan raya tanpa memperhatikan sekelilingnya.


Karena perutnya sudah menjerit, Syasya langsung memesan makanan ketika seorang pelayan menghampirinya dengan buku menu ditangannya. Syasya tak tanggung-tanggung memesan makanan yang memang benar-benar mengenyangkan seolah esok hari ia tak makan lagi. Aruna hanya terkekeh melihat tingkah sahabatnya yang memang hobby makan.


"Dasar penyedap rasa, pesan makannya banyak banget."


"Mumpung gratisan dan aku masih sehat." Balas Syasya tersenyum bahagia.


Sesederhana itu membuat gadis manis nan baik hati itu bahagia. Kala teman-teman sekolahnya menjauhi Aruna karena wajahnya yang jelek dan dekil, hanya Syasya yang dengan senang hati berteman dengannya. Dan hanya pada Syasya pula Aruna memperlihatkan wajah aslinya kala itu.


"Silahkan dinikmati, mbak ,,," Ucap pelayan yang ternyata telah menata semua pesanan Syasya.


Aruna terkejut dan memutuskan lamunannya. Mengenang masa putih abu-abu yang mengasyikkan walaupun pada kenyataannya Aruna sering di bully karena wajahnya. Namun tak merasa terganggu bahkan ia sangat menikmatinya toh wajah dekil itu bukanlah wajah aslinya


"Makasih, mbak ,,," Balas Syasya langsung menikmati hidangan yang memenuhi meja. Aruna hanya bisa menarik napas panjang melihat tingkah Syasya yang seperti orang kelaparan.


Aruna ikut menikmati makanan tersebut. Masakan restoran tersebut memang sangat memanjakan lidah, pantas saja jika restoran ini penuh dengan penikmat kuliner.


"Arion percayalah, anak yang aku kandung adalah darah dagingmu. Aku terakhir melakukannya denganmu." Ucapan seorang wanita yang duduk di belakang Aruna menggelitik ruang dengarnya.


'Arion ? apakah Arion yang dimaksud oleh wanita itu adalah pria yang menikahiku ?' Batin Aruna tertegun.


Beruntung Syasya serius dengan urusan perutnya sehingga membuat Aruna bisa memutar otak agar bisa memastikan dugaannya. Tak mungkin ia membalikkan badannya karena jika memang benar pria itu adalah Arion yang ia kenal maka Aruna pasti akan ketahuan. Karena posisi wanita itu tepat berada dibelakang Aruna maka bisa dipastikan jika sang pria berada di depan wanita tersebut.


Perlahan Aruna membuka tasnya dan mengambil ponselnya kemudian mengaktifkan video dan sedikit menyandarkan tubuhnya. Aruna menggeser sedikit posisinya dan menurunkan sedikit ponselnya sehingga bisa merekam Arion dan wanita itu.


"Jangan main ponsel, Runrun ,,, gimana mau besar jika makan sambil pegang ponsel."


"Emangnya aku anak-anak yang masih dalam proses pertumbuhan ? Lagian gak ada salahnya dong, kan aku lagi bikin konten manatau banyak yang nonton, kan lumayan bisa jadi youtuber dan punya penghasilan. Aku bisa ongkang-ongkang kaki di rumah." Balas Aruna panjang lebar.

__ADS_1


Syasya tak menimpali kata-kata Aruna, makanan di depannya lebih menarik daripada harus berdebat dengan sahabatnya itu. Sejak jaman kuda gigit besi, Syasya tak pernah menang jika berdebat dengan Aruna.


Mata Aruna melotot manakala melihat pria yang sedang berbicara serius dengan wanita dibelakang Aruna. Rasa kecewa menguasai hatinya namun secepat kilat Aruna mengucap syukur karena ia belum menyerahkan harta yang paling berharga yang ia jaga selama hidupnya.


"Run, makan yang banyak. Kamu butuh tenaga lho." Ucap Syasya melihat sahabatnya menghentikan makan siangnya.


"Kamu aja deh, Sya ,,, aku udah kenyang." Bakas Aruna apa adanya.


"Sya ?! Kamu sehat, kan ?" Syasya menghentikan makannya sejenak menatap Aruna heran.


"Kamu gak suka ? Baiklah aku gak akan memanggilmu dengan nama itu." Aruna pura-pura merajuk.


"Hehehe ,,, terserah deh." Syasya terkikik geli melihat ekspresi merajuk Aruna.


Merasa sudah cukup merekam Arion dan wanitanya, Aruna kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. Syasya pun telah memindahkan semua makanan ke dalam perutnya. Mereka lalu bersiap untuk pulang, jam istirahat hampir habis.


"Runrun, bukankah pria dibelakangmu itu pak direktur kita ?" Mata Syasya membulat sempurna melihat suami sahabatnya.


Bukannya menuruti kata-kata Aruna, gadis manis berlesung pipi itu malah sengaja melewati meja Arion padahal Syasya bisa saja mengambil jalan lurus dekat jendela.


"Lho, Syasya dengan siapa ?" Tanya Arion kelabakan.


"Dengan ondel-ondel pak." Jawab Syasya santai sembari melirik wanita yang ternyata sedang hamil besar.


Syasya melanjutkan langkah sementara Arion mengedarkan pandangannya mencari sosok sang istri. Ia yakin jika Syasya pasti bersama Aruna.


"Aku tetap yakin jika anak dalam kandungan itu bukankah anakku. Jangan pernah berusaha menemuiku ataupun berpikir untuk memerasku. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari !" Ucap Arion sarat dengan ancaman.


Setelah mengatakan hal itu, Arion bergegas keluar dari restoran tersebut. Setengah hari ia tak masuk kantor karena pesan Maretha. Bahkan ia sampai berbohong pada Aruna.

__ADS_1


Arion melihat bayangan mobil Aruna saat tiba di luar restoran. Pikirannya semakin kacau, belum selesai dengan urusan Maretha kini ia harus menghadapi Aruna. Wanita yang hingga saat ini belum bisa ia miliki hatinya. Dengan kecepatan diatas rata-rata, Arion melarikan mobilnya menuju perusahaan.


Selang beberapa menit Aruna tiba di perusahaan, mobil Arion pun tampak berhenti di depan lobby perusahaan. Dengan langkah cepat ia memasuki lift menuju lantai lima.


Sementara Aruna yang menggunakan lift khusus karyawan masih berada di kantai empat. Sesaat ia menyapa bu Dewi yang qkqn masuk ke ruang HRD.


"Selamat siang bu Dewi ,,," Sapa Aruna tersenyum manis.


"Selamat siang, Aruna ,,, apq kabar ,,," Balas bu Dewi ramah seperti biasa.


"Alhamdulillah baik, bu. Aku keatas dulu bu ,,," Ucap Aruna menuju eskalator yang hampir setiap hari menjadi transportasinya menuju lantai lima.


Restu yang kebetulan keluar dari ruangannya untuk memastikan bos sekali sahabatnya telah kembali atau belum, malah bertemu dengan Aruna.


"Pak Restu gak istirahat ?" Tanya Aruna heran. Biasanya Restu selalu terlambat tiba di kantor saat jam istirahat.


"Istirahat tapi dalam ruangan. Kerjaan jadi double karena suamimu belum masuk kantor jam segini." Restu merutuki Arion yang seenaknya saja tak masuk kantor.


"Terima nasib aja pak, mungkin beliau sedang sibuk dengan gundiknya." Ucap Aruna meninggalkan Restu yang berdiri mematung.


Mendengar ucapan Aruna dan melihat ekspresi gadis itu membuat Restu khawatir. Apa yang sebenarnya terjadi ? Mengapa Aruna berkata seperti itu ? Dengan berbagai pikiran menerka-nerka, Restu mengikuti Aruna sekalian mengecek keberadaan pria arogan itu. Restu tak ingin mengorek informasi dari gadis itu. Ia tak ingin semakin memperburuk keadaan.


Pintu ruangan Arion terbuka lebar dan kaca ruangannya pun tidak digelapkan sehingga dari luar orang bisa melihat keberadaan sang direktur. Mata elang Arion menatap Aruna yang baru saja duduk di kursi kerjanya. Arion merasa ragu mendekati Aruna. Jika melihat ekspresi Aruna kemungkinan besar ia tak bersama dengan Syasya di restoran tadi akan tetapi bagaimana jika yang terjadi sebaliknya. Arion mengacak-ngacak rambutnya frustasi. Aruna tersenyum sinis saat ekor matanya menangkap pergerakan Arion.


Tanpa mengetuk pintu, Restu masuk kedalam ruangan kerja Arion dan berbicara dengan serius. Aruna tak ingin menjadi gadis kepo dengan urusan orang lain. Baginya sudah cukup fakta yang ia dapatkan hari ini.


🌺🌺🌺


SELAMAT PAGI JELANG SIANG

__ADS_1


JANGAN LUPA UNTUK SELALU BERSYUKUR


__ADS_2