
Hari-hari mereka lalui dengan bahagia. Kehidupan rumah tangga mereka pun jauh dari pelakor apalagi pebinor. Para suami dan para istri membentengi diri dari hal-hal yang bisa memberi celah bagi orang-orang yang berniat mengganggu rumah tangga mereka. Tinggal satu atap dengan saudara bukan karena tak mampu memiliki rumah sendiri akan tetapi para wanita itu yang tak ingin berpisah.
Berita kehamilan kedua pasangan itu membuat kakek Ramdhan sangat bahagia. Ternyata Tuhan mengabulkan doa-doa yang selalu ia panjatkan tanpa mengenal lelah.
Arion dan Restu dengan antusias berbelanja menyiapkan perlengkapan dan kebutuhan anak mereka. Aruna dan Arista sangat marah pada suami masing-masing yang berbelanja bagaikan orang kesurupan jin. Bagaimana tidak, usia kandungan Aruna baru memasuki minggu ke empat sedangkan kandungan Arista memasuki mingguke enam. Masih beberapa segumpal darah namun belanjaan para pria itu sudah memenuhi kamar yang sudah mereka sulap menjadi kamar bayi.
Kedua pria itu membeli segalanya sesuai keinginan mereka. Arion membeli pernah pernik bayi warna biru karena ia berharap anaknya laki-laki sedangkan Restu tak ingin kalah dan membeli segalanya dengan warna pink. Katanya kalau anak mereka berjenis kelamin sama maka setiap hari pasti terjadi pertengkaran.
"Kenapa kalian belanja seenaknya sih ,,, jangankan jenis kelamin, bentuknya saja masih berupa sejumlah darah." Arista mengomeli kakak dan suaminya.
"Gak apa-apa, honey ,,, justru lebih bagus supaya anak kita lahir sesuai dengan harapan kedua orang tuanya." Balas Restu lembut.
__ADS_1
"Dimana-mana ibu hamil berbelanja kebutuhan bayi saat usia kandungannya tujuh bulan, kak." Timpal Aruna
"Sekarang atau tujuh bulan sama aja, Yang ,,, intinya kita belanja keperluan bayi kita." Ucap Arion membenarkan kelakuannya.
"Memangnya kalian yakin jika anak kalian itu laki-laki dan perempuan ? Bagaimana jika sebaliknya atau jenis kelamin mereka sama ?" Arista tak dapat lagi menyembunyikan kekesalannya.
"Semoga tidak, dek ,,, tapi kalaupun mereka laki-laki atau perempuan gak masalah juga. Asalkan anakmu gak semenyebalkan papanya." Balas Arion enteng.
"Sepertinya bukan anak-anak kami memang akan mewarisi kalian yang selalu saja adu mulut setiap kali bertemu." Aruna pun ikut-ikutan kesal melihat kedua pria itu yang selalu saja ribut.
"Kami memang sering berdebat, tapi kami saling menyayangi." Balas Restu apa adanya.
__ADS_1
Mereka memang saling mensuport satu dengan yang lainnya. Terbukti saat Aruna menceraikan Arion. Sebagai seorang sahabat dan adik ipar yang baik, Restu selalu berusaha menghibur Arion bahkan selalu mencari keberadaan Aruna dan memantaunya dari jauh tanpa sepengetahuan Arion. Kembalinya Aruna ke tanah air pun adalah salah satu usaha Restu. Ia mencari tahu pekerjaan Aruna dan berusaha agar perusahaan tempat wanita itu agar mau memasarkan produk baru perusahaan PT. Glo_Tech dan bagai gabung bersambut, bos perusahaan tersebut mengutus Aruna sebagai wakil mereka.
"Dalam perdebatan itu ada kekompakan yang tak dimiliki oleh orang lain." Timpal Arion membenarkan sahabatnya.
"Apa sajalah menurut kalian tapi satu hal yang kami minta, hentikan belanja perlengkapan bayi. Jangan sampai kamar bayi hanya dipenuhi perlengkapan bayi sehingga ketika mereka dilahirkan justru tak ada tempat untuk tidurnya.
Walaupun kedua wanita hamil itu kesal dengan kelakuan suami masing-masing namun tak urung rasa bahagia membantah dalam d**a mereka karena melihat bagaimana suami mereka tak sabar menunggu kelahiran bayi mereka.
...TAMAT...
Sampai jumpa di cerita terbarunya othor
__ADS_1
Mampir ya ,,,
...MENGGAPAI RASA YANG TERSISA...