MAHABBAH CINTA SANG MANTAN

MAHABBAH CINTA SANG MANTAN
Mahabbah Cinta Sang Mantan ~ 76


__ADS_3

Seluruh keluarga dari luar kota akhirnya tiba. Semua tampak bersedih dan merasa kehilangan sosok wanita yang baik. Walaupun Aruna tahu jika sebagian dari mereka bersedih bukan karena kepergian sang nenek, akan tetapi mereka bersedih karena tak ada lagi yang menjamin kehidupannya selama ini.


Jenazah nenek Sarah telah disalahkan dan akan di berangkatkan pada tempat peristirahatannya yqng terakhir. Aruna bagaikan mayat hidup mengikuti kemana Arion membawanya. Tak ada seorangpun keluarganya yang mengetahui perpisahan mereka apalagi Arion tak pernah merubah panggilannya pada Aruna.


"Sabar ya, Yang ,,, mas gak akan pernah meninggalkanmu. Percayalah !" Ucap Arion menggenggam tangan Aruna.


Aruna mendelik tajam mendengar perkataan mantan suaminya itu. Ia tak lagi berpikir untuk mencari oendamping hidup. Hingga saat ini belum ada seorang pria yang berhasil membuat jantungnya berdebar-debar seperti saat bersama mantan suaminya itu. Aruna sangat menikmati masa kesendiriannya.


Selesai pemakaman, yang di pimpin langsung oleh pak Kiyai Izham Khaliq para tetangga dan keluarga pun meninggalkan makam nenek Sarah. Aruna pun ikut meninggalkan makam tersebut setelah dibujuk dengan berbagai nasehat oleh sang Kiyai.


"Pak Kiyai bisa kan nginap di rumah duka malam ini ?" Tanya Arion ketika mereka dalam perjalanan pulang ke rumah nenek Sarah dan Aruna.


"Tentu saja, nak ,,, bapak akan menginap hingga masa berkabung selesai." Balas pak Kiyai Izam.


Arion sengaja meminta pak Kiyai untuk tinggal lebih lama karena melihat keluarga nenek Sarah yang serakah apalagi Aruna masih bersedih. Ia tak ingin Aruna menderita karena perbuatan ponakan nenek Sarah. Cerita tentang kehidupan ponakan-ponakqn sang nenek ia ketahui sejak awal pernikahan mereka dulu. Arion secara tak sengaja mendengar pembicaraan mereka.


"Terima kasih pak Kiyai." Ucap Aruna pelan.


"Sama-sama nak, bapak dan nenekmu berteman baik. Nak Aruna pun bapak sudah anggap anak sendiri, jadi jangan bersedih nak Aruna masih punya bapak dan nak Arion serta orang-orang yang menyayangimu." Balas pak Kiyai lemah lembut.


"Maaf pak Kiyai, kak Arion bukan lagi bagian dari hidupku saat ini." Ucap Aruna pelan namun tegas.


Pak Kiyai Izham hanya tersenyum melirik Arion yang sedang menyetir kemudian membalikkan badannya menghadap Aruna yang duduk di kursi belakang.


"Jangan dibahas sekarang ya, nak ? Karena apapun yang bapak katakan pasti tak bisa dicerna dengan baik. " Balas Pak Kiyai bijak.

__ADS_1


Benar yang dikatakan pak Kiyai Izham Khaliq .Saat seseorang sedang bersedih atau marah maka kebaikan apapun yang orang lain katakan pasti akan dianggapnya salah. Seperti itulah sebagian manusia jika suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja.


Perjalanan mereka berakhir saat Arion perlahan membelokkan mobilnya memasuki halaman rumah Aruna. Tampak kakek Ramdhan, Arista, Restu dan para keluarga dan sebagian tetangga sedang duduk di bawah tenda yang sengaja dipasang oleh orang-orang suruh Arion karena rumah tidak muat saking banyaknya pelayat.


"Nak Runa, kami pamit dulu ,,, yang sabar ya ? Jika butuh sesuatu jangan segan-segan meminta pada kami." Ucap salah satu tetangga.


"Iya nak, para tetangga adalah keluarga terdekatmu." Timpal yang lainnya.


"Terima kasih atas kebaikan tante. Jangan lupa nanti malam takbiran pertama nenek." Ucap Aruna tersenyum manis dibalik tatapan sedihnya.


"Insya Allah nak." Balas mereka sebelum meninggalkan rumah duka.


Aruna kemudian bergabung dengan para keluarga dan duduk di samping kiri tantenya. Ia masih ingin diluar rumah, di dalam sana penuh dengan kenangannya bersama sang nenek. Pak Kiyai dan Arion pun duduk bersama kakek Ramdhan yang tak jauh dari Aruna dan keluarganya.


Belum juga Aruna duduk dengan baik salah seorang kerabatnya mulai mempertanyakan harta mendiang nenek Sarah. Dari kejauhan Arion dan keluarganya serta pak Kiyai Izham memperhatikan mereka.


"Bener tuh, Run ,,, suamimu kan sudah banyak duit, jangan serakahlah sebelum kami pulang pembagian hartanya harus jelas." Timpal yang lain.


"Maksud kalian semua apa, ya ?" Tanya Aruna mencoba untuk bersabar.


Sejak dulu wanita-wanita dari rumput nenek Sarah selalu saja merecokinya. Bahkan Aruna sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan mereka berkelakuan seperti itu.


"Harta tante ada hak kami juga." Sarkas ponakan nenek Sarah yang selama ini menjadi tanggungan mendiang nenek Sarah.


Aruna sebenarnya tak mempermasalahkan harta sang nenek namun mendengar nada bicara tantenya itu membuat darah Aruna mendidih. Selama ini ia selalu bersabar kala tantenya itu berbicara sinis padanya bahkan terkadang terang-terangan tak menyukainya.

__ADS_1


"Kalian paham agama, kan ? Makam nenekku masih basah dan kalian sudah membahas harta yang sama sekali bukan hak kalian. Asal kalian tahu, semua harta yang dimiliki oleh nenek adalah peninggalan kakekku, yang berarti tak ada hak kalian didalamnya. Seandainya pun harta itu milik nenek seorang pun kalian gak ada hak atas harta tersebut karena aku adalah pewaris tunggalnya, cucu satu-satunya yang mereka miliki !!" Aruna berdiri berkacak pinggang menatap keluarga nenek Sarah satu per satu. Wajahnya memerah karena emosi yang tak terkendali.


Keluarga dari pihak kakeknya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat perbuatan tak tahu malunya keluarga almarhum nenek Sarah.


"Mulai saat ini kalian yang menjadi tanggungan nenek selama hidupnya harus berusaha sendiri. Jangan hanya tahu hidup mewah tanpa tahu bagaimana susahnya mencari uang. Dan mulai detik ini tak ada lagi transferan ke rekening kalian. Jadi carilah usaha atau pekerjaan untuk menyambung hidup kalian." Tegas Aruna tak ingin dibantah.


Kakek Ramdhan tersenyum melihat kemarahan Aruna. Selama ini gadis itu terlihat lemah dan tak pernah marah apalagi berkata kasar namun hari ini ia bisa melihat kemarahan sahabatnya dalam diri Aruna.


"Rupanya nak Aruna tidak melupakan semua pengajaranku tentang hak dan kewajiban seseorang setelah orang tua meninggal." Gumam pak Kiyai Izham Khaliq.


"Tapi selama dia menjadi istriku kewajibannya tak pernah sekalipun dia penuhi." Timpal Arion meringis karena sebuah tangan renta memukul lengannya.


"Itu semua karena kamu yang tak bisa meyakinkan cucu menantuku." Ucap kakek Ramdhan tajam.


Semua terkikik geli melihat interaksi kakek dan cucunya. Yang dikatakan kakek Ramdhan memang benar adanya. Sedangkan pak Kiyai menatap serius Arion sebelum berbicara.


"Nak Arion masih mencintai nak Aruna ?"


"Bukan masih mencintai pak Kiyai tapi selalu mencintainya." Ralat Arion tegas.


Arista dan Restu mendengus kasar mendengar ucapan pria itu kemudian tersenyum mengejek.


"Cinta tapi nyebut sana sini." Tukas Arista disambut tawa kecil oleh Restu.


"Mulai sekarang lakukan amalan yang pernah bapak ajarkan, sebelum terlambat dan semoga doaku diijabah oleh Allah." Ucap pak Kiyai Izham melihat seorang pria yqng mendekati Aruna.

__ADS_1


Arion mengikuti tatapan mata pak Kiyai Izham dan langsung melotot. Ia tak mengharapkan kehadiran dokter Sandy saat ini. Pria tampan itu malah datang walaupun terlambat.


🌺🌺🌺🌺


__ADS_2