MAHABBAH CINTA SANG MANTAN

MAHABBAH CINTA SANG MANTAN
Mahabbah Cinta Sang Mantan ~ 69


__ADS_3

Pertemuan dengan kakek Ramdhan membuat Aruna merasa lega. Ternyata sahabat kakeknya itu tetap menyayanginya seperti dulu. Tak ada yang berubah pada keluarga itu meskipun kimia mereka tak lagi terikat pada sebuah hubungan kekeluargaan.


Aruna memilih untuk kembali ke rumah setelah bertemu dengan kakek Ramdhan dan Arista. Tak ada lagi yang harus ia kerjakan di kantor, semua pekerjaan sudah ia selesaikan. Inilah enaknya jika berkantor jauh dari kantor pusat, bisa sedikit bersantai.


"Lho sayang ,,, kok cepat pulang ?" Nenek Sarah kaget melihat Aruna pulang lebih awal dari biasanya.


"Kakek Ramdan mengundang Runa makan siang, nek dan setelahnya Runa malas balik ke kantor makanya langsung pulang." Jawab Aruna tersenyum manis seraya duduk di kursi depan sang nenek.


"Gimana kabar pria tua itu ? Sudah lama kami tak pernah bertemu, ada banyak hal yang ingin nenek bicarakan dengannya." Ucap nenek Sarah menerawang.


"Nenek merindukan kakek Ramdhan ? Apa kalian punya kisah manis di masa lalu ?" Aruna sengaja menggoda sang nenek.


Satu kebahagiaan tersendiri bagi Aruna jika berhasil menggoda sang nenek. Walaupun ia tahu jika sang nenek sangat mencintai almarhum suaminya dan kakek Ramdhan adalah sahabat mereka.


Plaaakkkk


"Awwww ,,, sakit nek." Ringis Aruna mengusap lengannya yang kena tabokan dari tangan renta sang nenek.


"Makqnyq jangan asal kalau ngomong. Kisah kami memang sangat manis tapi sebagai sahabat."


"Nenek semakin tua, sayang ,,, nenek takut jika kontrak nenek di dunia ini keburu habis dan belum mempersiapkan segala sesuatunya untuk kamu." Lanjut nenek Sarah sendu.


Suasana siang menjelang sore tiba-tiba berubah mendung. Aruna paling anti jika sang nenek berkata seperti itu. Bukan hanya kali ini beliau mengatakan hal itu tapi siang ini mungkin sudah keseratus kalinya nenek Sarah berucap seolah waktunya di dunia tak banyak.


"Besok Aruna akan mengantar nenek menemui kakek Ramdhan tapi tolong hentikan ucapan nenek yang menakutkan itu." Ucap Aruna dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Baiklah sayang, kamu memang cucu terbaik yang nenek miliki."


"Pastilah, kan hanya Runa cucu nenek."


Kedua wanita beda generasi itu kemudian tertawa terpingkal-pingkal. Nenek Sarah berhasil membuat cucunya melupakan kata-katanya barusan. Wanita tua itu menatap sendu sang cucu yang hingga saat ini belum menemukan orang yang tepat untuk menjaganya jika suatu saat waktunya bertemu Sang Khalik tiba.


"Runa mandi dulu, nek ,,, gerah nih." Ucap Aruna setelah tawanan reda kemudian berdiri.


"Jangan lupa buat janji dengan kakek Ramdhan." Balas nenek Sarah setengah berteriak karena Aruna sudah berjalan menuju kamarnya.


Aruna membalikkan badannya dan memberi hormat pada nenek Sarah sebagai jawabannya sebelum ia benar-benar menghilang dibalik pintu. Tanpa membuang-buang waktu Aruna segera meraih handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.


Selesai dengan urusan kamar mandi, Aruna lalu berpakaian santai kemudian berbaring meluruskan tubuhnya. Berusaha memejamkan matanya untuk meraih alam bawah sadarnya. Aruna tak ingin menyia-nyiakan kesempatan menikmati istirahatnya. Jika di negara United Kingdom tersebut ia harus lebih banyak bekerja maka di negeri sendiri Aruna sedikit lebih santai. Ia tidak harus masak sendiri untuk makannya karena ada bi Ina yang dengan sukarela memasak.


Tak butuh waktu lama bagi Aruna untuk berlayar ke dunia mimpi. Hingga tiba waktu makan malam barulah Aruna terbangun itupun karena bunyi alarm ponselnya yang sengaja ia letakkan di diatas nakas. Dengan wajah bantalnya, Aruna keluar kamar mencari keberadaan sang nenek.


"Hehehe ,,, kan di rumah sendiri, nek." Balqs Aruna nyengir kuda.


"Makanya gak usah balik ke Inggris. Tinggal disini saja bareng nenek."


"Iya nek, setelah pekerjaanku selesai aku akan resign dan menetap di tanah air. Siapa tau aja jodoh Runa masih orang lokal." Aruna terkikik geli dengan ucapannya.


"Aamiin ,,," Timpal nenek Sarah secepat kilat.


Mendengar ucapan sang nenek membuat Aruna mendelik tajam. Ia hanya bercanda dalam pikirannya sama sekali tak ada pernikahan. Aruna lebih senang dengan kehidupannya yang sekarang. Sendiri dan bebas kemana saja tanpa harus memikirkan orang lain.

__ADS_1


Pandangan kedua wanita beda generasi itu sangat berbeda tentang kehidupan. Nenek Sarah berharap cucunya kelak menikah dan berubah tangga sehingga ada yang menjaganya sedangkan Aruna menganggap semua pria sama saja, dan wanita hanya akan menderita dengan segala kelakuan pria yang seenaknya saja.,Wanita dituntut untuk setia pada suami sedangkan sang suami bebas di luar sana. Sungguh tidak adil menurut Aruna.


"Aruna hanya bercanda, nek. Jangan di aminkan." Ucap Aruna datar.


"Jangan trauma dengan sebuah pernikahan yang gagal, sayang ,,, karena tidak semua pria seperti nak Arion. Dan mungkin saja nak Arion kini telah berubah dan bertaubat." Bakas nenek Sarah bijak.


"Nenek menginginkan aku kembali bersama Arion ?!" nada suara Aruna sedikit naik tanpa ia sadari.


"Tidak seperti itu sayang, tapi yang namanya takdir siapa yang tahu, tak ada yang bisa menolaknya jika Tuhan berkehendak. Setiap manusia yang masih menikmati napas selalu memiliki kesempatan untuk bertaubat dan berubah sampai Tuhan mengatakan berhenti dan waktunya untuk kembali padaNYA." Ucap Nenek Sarah bijaksana.


Aruna terdiam mendengar ucapan neneknya. Semua yang dikatakan oleh sang nenek adalah benar adanya. Aruna tak membantah setiap kata keluar dari bibir nenek kesayangannya.


"Runa tahu, nek. Tapi jika Runa diberi pilihan maka Runa pasti memilih pria lain untuk menjadi pendamping hidupku kelak." Entahlah Aruna sama sekali tak berniat menjadikan Arion pilihan dalam hidupnya.


"Bukannya nenek ingin mengatur-ngatur hidupmu sayang, tapi nenek hanya penasaran dengan penolakanmu pada nak Arion. Bukankah akan lebih baik jika kalian kembali bersama ? Walaupun hanya sebentar tapi setidaknya kalian sudah saling mengenal."


"Aruna pernah mencintainya nek tapi Arion tak menghargai perasaan Aruna dan bahkan melakukan hal-hal yang menjijikkan di pesta pernikahan Arista, ditolak pula." Balas Aruna terus terang. Ia tak ingin mengingat rasa cintanya pada pria itu namun nenek Sarah tak qkqn berhenti sebelum Aruna mengatakan yang sebenarnya.


Nenek Sarah hanya bisa terdiam. Ia melihat sorot mata kekecewaan dan terluka pada manik mata bening cucu kesayangannya. Walaupun tanpa airmata namun nenek Sarah bisa menebak dalamnya perasaan cinta sang cucu. Jika seseorang dikhianati oleh pasangannya dan merasa kecewa hingga terluka maka bisa dipastikan jika orang itu sangat mencintai pasangannya.


"Bagi Runa kisah dengan Arion sudah selesai, nek. Jika nenek berharap aku menikah lagi maka aku akan mencoba membuka hati untuk pria tapi bukan Arion." Tegas Aruna.


"Baiklah sayang, nenek menurut saja yang penting kamu bahagia tapi ingat pesan nenek JANGAN MELAWAN TAKDIR, karena itu akan menyengsarakanmu." Nenek Sarah sengaja menekan kata JANGAN MELAWAN TAKDIR agar Aruna selalu mengingatnya kelak.


🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


SELAMAT PAGI READERS


TERIMA KASIH ATAS DUKUNGANNYA


__ADS_2