
"Gini banget ya, cinta seorang mantan yang kini terikat sebuah pernikahan." Goda Arista masih terkikik geli.
"Harus mesra dong, supaya cepat menghasilkan ,,," Kakek Ramdan ikut menimpali.
Wajah Aruna memerah bukan karena malu, akan tetapi ia menahan amarahnya pada Arion yang seenaknya menyentuhnya padahal mereka sudah sepakat dan menandatangani perjanjian. Nenek Sarah hanya bisa tersenyum menutupi tatapan sendunya pada Aruna.
"Apapun yang akan kamu lakukan nanti, aku akan terima tapi tolong jangan membuatku malu di depan kakek." Bisik Arion sedikit meniup telinga Aruna sehingga membuat gadis itu meremang. Arion memang ahli dan mengetahui titik sensitif pada wanita.
"Lepaskan tanganmu, jika tidak ,,, maka aku tak akan peduli dan akan menjatuhkan harga dirimu di depan mereka."
Arion langsung melepaskan tangannya. Ia melihat wajah Aruna yang sudah merah padam pertanda gadis itu sudah benar-benar marah. Lagi-lagi Arista terkikik geli kemudian menarik Aruna menjauhi mereka.
"Aku ada urusan dengan kakak ipar." Ucap Arista membawa Aruna keluar rumah.
Tujuan mereka adalah taman bunga yang terletak di samping rumah. Suasana sore menjelang malam sangat mendukung suasana di taman tersebut. Walaupun lelah namun Arion mengekori kedua gadis itu.
"Kenapa kakak ikutan, sih ,,,"
"Kami ini pengantin baru, dek ,,, dan harus membiasakan diri selalu bersama." Balas Arion tak mau kalah.
"Tapi kakak menghilang selama dua hari tanpa kabar, makanya kakek mengajakku kemari sekalian ketemu dengan menantunya. "
"Kakak ada urusan mendesak dek, dan itu menyangkut masa depan pernikahan kami."
Aruna tak ingin terlibat dengan pembicaraan kakak beradik itu. Pikirannya tentang Kevin yang ternyata menganggapnya hanya teman terus-terusan mengganggunya. Lalu apa arti ucapan Kevin yang menyuruhnya menunggu waktu baik untuk menemui nenek Sarah ? Aruna menatap lurus ke depan sambil menarik napas panjang. Tatapannya kosong dan tak mendengarkan perdebatan Arista dan Arion.
__ADS_1
Aruna merasa permainan takdir atas dirinya akan terus berlangsung. Membina hubungan yang lama tak menjamin akan berakhir dengan indah. Mengasingkan diri untuk menata kembali hidupnya dan takdir mempertemukannya dengan Kevin yang ia anggap mencintainya sepenuh hati namun harus menerima kenyataan pahit. Dan kini ia terikat pernikahan dengan pria yang selalu memuaskan hasratnya dengan wanita tak jelas membuat Aruna menyalahkan takdirnya.
"Kakak ipar ada masalah ?" Arista menyentuh pelan pundak Aruna sehingga Aruna tersadar dari lamunannya.
"Eh ,,, enggak. " Balas Aruna tersenyum manis menyembunyikan rasa gusarnya.
"Lupakan kekasihmu itu, dia hanya masa lalu bagimu dan aku adalah masa depanmu." Timpal Arion kesal.
"Gak semudah itu, kami melewatkan selama waktu empat tahun bersama dengan berbagai kenangan manis yang tak mungkin dilupakan begitu saja." Balas Aruna tak kalah kesalnya. Walaupun hatinya sedang terluka karena perbuatan Kevin yang mengkhianatinya namun kekesalannya pada Arion lebih dominan.
Bagaimana tidak kesal jika Aruna terpaksa menikah dengan pria yang dulu meninggalkannya. Padahal Arion memiliki kekasih dan fakta lainnya adalah Arion seorang player. Entah dosa apa yang Aruna lakukan di kehidupan sebelumnya sehingga harus menikah dengan pria bobrok seperti ini.
"Aku gak mau tahu. Bagaimanapun caranya segera hilangkan kekasihmu itu dalam hati, pikiran perasaanmu karena hanya Arseno Arion yang berhak ada disana bukan pria itu." Sarkas Arion kemudian meninggalkan kedua wanita itu.
'Dasar bodoh ! Arogan ! tentu saja aku akan melupakan Kevin memangnya tapi bukan kamu yang harus menghuni hatiku.' Batin Aruna menatap sinis Arion yang semakin menjauh.
"Santai aja dek. Yuk kita masuk ,,, sudah malam bentar lagi makan malam." Ajak Aruna mengalihkan pembicaraan.
Aruna berusaha menghindari pembahasan mengenai Kevin. Arista mengenal Kevin sebagai kekasih Aruna selama ini. Tak mungkin juga Aruna menceritakan perihal pertemuannya dengan Kevin sebelum pernikahannya.
Dengan pasrah Arista mengikuti langkah kaki Aruna, sebenarnya ia masih ingin mengorek informasi tentang Kevin dan hubungan asmara mereka. Bagaimanapun juga Arista ingin melihat kakaknya hidup bahagia bersama Aruna. Arista sangat menyukai Aruna sejak pertemuan pertama mereka di Inggris.
Aruna kemudian membantu ART menata makanan di atas meja makan. Sementara Arista sedang bersama kakek Ramdhan dan nenek Sarah. Arista tak menyukai pekerjaan dapur.
Sedangkan Arion yang berada di dalam kamar masih merasa kesal pada Aruna yang sepertinya masih sangat mencintai kekasihnya.
__ADS_1
'Kenangan manis apa yang tak bisa Aruna lupakan ? Apakah mereka sudah pernah melakukannya ?' Batin Arion menyimpulkan sendiri.
Berbagai pikiran jelek Arion berseliweran dalam kepalanya hingga membuatnya pusing sendiri. Arion menghubungkan dengan perjanjian yang dituliskan oleh Aruna. Mungkinkah gadis itu sengaja mengulur waktu untuk membuktikan kesetiaannya pada kekasih hatinya ? Arion tak mampu lagi berpikir, ia memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk menginginkan kepalanya.
Arion menyalakan shower dan membasahi kepala dan setuju tubuhnya. Menghilangkan penat dari perjalanan jauh dan menyegarkan otak dan perasaannya agar bisa memikirkan cara menaklukkan benteng kokoh yang di bangun oleh Aruna.
Setelah merasa cukup segar, Arion keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk. Dengan santainya ia memilih sendiri baju yang akan di pakainya. Beruntung Aeuna tak berada dalam kamar sehingga tak ada teriakan karena kelakuan Arion saat memakai baju.
Dengan wajah lebih segar, Arion keluar kamar dan ikut bergabung di ruang keluarga bersama adik dan kakek Ramdhan serta nenek Sarah.
"Aruna kemana, nek ?" Tanya Arion mengedarkan pandangannya.
"Di dapur sama bi Ina." Jawab nenek Sarah tersenyum.
"Wah, bisa-bisa berat badan Arion naik drastis jika Aruna suka berada di dapur." Canda kakek Ramdhan tertawa lepas.
"Gaklah kek, masa istriku harus terjun ke dapur. Tugasnya hanya mendampingiku seumur hidup dan menjaga anak-anak kami nantinya." Balas Arion serius.
"Idiiihh ,,, mana mau kakak ipar jadi pabrik anak. Nanti kakak malah kesana kesini dengan perempuan lain." Timpal Arista tak terima dengan ucapan Arion.
Perdebatan kakak beradik itu kembali dimulai. Kakek Ramdhan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kedua cucunya selalu saja berdebat. Walaupun begitu mereka juga saling menyayangi.
"Makan malam sudah siap ,,," Suara Aruna menghentikan perdebatan keduanya.
"Berdebatnya nanti aja, kita makan dulu agar tenaga kalian cukup untuk melanjutkan perdebatan kalian." Nenek Sarah meledek Arion dan Arista.
__ADS_1
Semua tertawa mendengar ucapan nenek Sarah. Sementara Aruna hanya diam saja tak mengerti apa yang mereka tertawakan. Mereka kemudian duduk di kursi masing-masing dan mulai menikmati makan malamnya. Berkumpul bersama keluarga merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Aruna. Walaupun bukan bersama kedua orang tuanya namun kebersamaan kali ini Aruna merasakan sesuatu yang berbeda. Sesaat ia melupakan Kevin dan pengkhianatannya.
🌺🌺🌺🌺