
Suasana lantai lima kembali sunyi setelah Kevin pergi dengan rasa kecewa dan penyesalan yang mendalam. Bagi Restu dan Aruna hal itu biasa saja namun yang tak biasa adalah tampilan seorang Arion yang kadang tersenyum kadang tampak berpikir.
"Apa yang baru saja terjadi ?" Tanya Restu yang kini berdiri di depan Aruna.
"Maksud pak Restu ?" Aruna balik bertanya dengan alis berkerut tak mengerti.
"Noh, kakak ipar kelihatan aneh dan berbeda."
Restu menggeser sedikit badannya sehingga Aruna bisa melihat yang dilakukan oleh Arion. Aruna pun ikut melongo melihat Arion yang sedikit aneh.
"Tadi hanya Kevin yang datang bersamanya." Balas Aruna apa adanya.
"Kevin ?! Kevin adiknya pak Hadi ?!"
Aruna hanya mengangkat kedua bahunya. Ia hanya mengenal Kevin karena selama mereka menjalin hubungan, Kevin tak pernah sekalipun menyinggung keluarganya apalagi membawa Aruna untuk berkenalan. Saat itu mereka layaknya anak ABG yang menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi. Aruna pun tak mempersiapkan hal itu karena sejak awal memang ia tak terlalu yakin dengan Kevin. Hanya feeling seorang wanita dan ternyata benar, Kevin tak sebaik tampilannya.
"Kamu mengenal Kevin ?" Restu terus mencecar Aruna. Ia meraih sedikit aneh jika istri bosnya itu ternyata mengenal Kevin.
"Bener pak, aku mengenal Kevin tapi tak terlalu mengenalnya walaupun dimasa lalu kami sempat memiliki hubungan spesial." Ucapan Aruna berterus terang.
"Beneran kakak ipar ?! Dan pria di dalam itu tahu ?"
"Ya, baru saja."
"Fix, ini yang membuat dia seperti orang aneh. Aku tinggal dulu, pria di dalam sana membutuhkanku." Secepat kilat Restu pindah tempat.
Aruna sekilas menatap kedua pria tersebut berbicara. Entah apa yang mereka bicarakan. Aruna bukanlah tipe wanita yang ingin tahu sesuatu yang bukan urusannya. Melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 11.10, waktu istirahat masih lama tapi ia tak sabar lagi ingin bertemu dengan si penyedap rasa.
Pekerjaan Aruna tak sebanyak seperti rumor yang beredar tentang sekretaris yang selalu bekerja rodi. Aruna pun heran dengan pekerjaannya yang terlalu sedikit dan terkesan santai, tapi Aruna selalu berpikiran positif dan berusaha menyelesaikan pekerjaannya.
Sejenak ia menatap Arion yang terlihat tampan jika sedang serius berbicara sebelum akhirnya memilih untuk menghampiri Syasya di divisinya. Aruna kemudian berdiri dan meninggalkan meja kerjanya.
"Mau kemana lagi gadis itu ,,," Ucap Arion melihat Aruna meninggalkan meja kerjanya.
"Gadis ??!!" Restu mengulang ucapan sahabatnya dengan tatapan tak percaya.
"Jadi kakak ipar masih gadis ? oh astaga ,,, kamu gak berubah bengkok, kan ?!" Restu tersenyum mengejek.
__ADS_1
"Kamu tahu sendiri kan ? Sangat susah umtuk meraih hati Aruna, bahkan semalam aku sudah melakukan ritual khusus dan membacakan doa Mahabbah untuknya tapi belum terlihat hasilnya." Keluh Arion sendu.
"Bukan belum ada hasil, bos ,,, tapi Aruna terlalu tenang dan penguasaan dirinya yang sangat bagus. Mungkin jika bos melakukannya pada wanita lain akan berbeda ceritanya. Sabar aja, akan tiba saatnya dimana kalian akan hidup dengan bahagia. Kakak ipar adalah wanita istimewa, dan jangan lengah pada Kevin karena kakak pria itu pasti akan berusaha menjerat istrimu." Balas Restu semakin membuat gundar hati sang sahabat.
"Kapan kalian menikah ?" Arion mencoba mengalihkan kegundahannya.
Wajah Restu seketika cerah bahkan saking cerahnya, bahkan mentari pagi pun kalah cerah dan tenggelam oleh wajah Restu.
"Beneran ? Kami sudah mendapat lampu hijau ?" Sorak Restu.
"Cepat temui kakek semua biaya aku yang tanggung, cukup maharnya yang kamu siapkan."
Restu langsung memeluk sahabat sekaligus bos dan tak lama lagi akan resmi menjadi kakak iparnya. Penantiannya selama bertahun-tahun akan segera berakhir. Sejak mengenal Arista, Restu telah menyimpan rasa pada gadis itu, hanya saja saat itu Arista masih sangat belia dan pastinya Arion tak memberikan lampu hijau padanya.
Arion lebih mengutamakan pendidikan adiknya sehingga walaupun ia tahu jika sahabatnya menaruh hati pada sang adik, Arion memilih diam dan pura-pura tak tahu.
"Kalau begitu aku menemui kakek sekarang." Ucap Restu segera meninggalkan ruangan Arion.
Kini Arion sendiri di lantai teratas gedung mewah tersebut. Ia menyalakan laptopnya tapi bukan untuk memeriksa surel yang dikirimkan oleh Aruna melainkan untuk memantau CCTV perusahaan. Ia ingin mencari keberadaan gadis yang sangat sulit ia dapatkan. Arion sengaja menyambung pemantau CCTV pada laptopnya tanpa sepengetahuan bagian yqng berwenang. Arion selalu siap untuk mengantisipasi jika karyawannya berlaku curang.
Arion tersenyum lebar kala melihat Aruna sedang duduk dikantin bersama sahabatnya.
Wajah Aruna berubah saat mendengar tanggapan Syasya mengenai kondisi jantungnya hari ini.
"Apa iya, aku jatuh cinta ? Tapi itu gak mungkin, Sya ,,," Aruna menolak ucapan sahabatnya.
"Apanya yang gak mungkin sih, Run ,,, kamu bisa apa jika Yang Diatas membalikkan hatimu."
"Tapi saat aku berpacaran dengan Kevin, jantungku biasa aja. Normal-normal aja."
"Berarti si Kevin bukan jodohmu dan sebenarnya kampung tidak mencintainya. Jangan menganggap disetiap hubungan percintaan itu ada rasa cinta karena bisa saja kalian berkomitmen hanya karena ingin mengisi waktu kosong, daripada jomblo kan ?"
Aruna menatap Syasya lekat-lekat, ia tak menyangka pengetahuan seputar dunia asmara gadis jomblo di depannya ternyata sangat mumpuni.
"Kamu seperti, ya " Tanya Aruna dengan wajah polosnya.
Plaaakkkk
__ADS_1
Syasya memukul dengan keras lengan Aruna sehingga sahabatnya itu menjerit kesakitan seraya mengelus-elus lengannya.
"Sakit monyong !!"
"Salah sendiri asal ngomong." Balas Syasa mendelik tajam.
Aruna terkikik geli disela-sela ringisannya. Mata sipit Syasa terlihat lucu kala mendelik tajam.
Drrrrttttt drrrrttttt
Saat mereka asyik bercanda, tiba-tiba ponsel Aruna berbunyi. Sebuah nomor asing membuat aslinya berkerut. Dengan ragu Aruna menggeser tombol hijau pada layar ponselnya untuk menjawab.
"Halo ,,," Sapa Aruna ragu.
"Lama banget angkatnya." Terdengar nada sedikit kesal di ujung telepon.
"Maaf ini siapa, ya ? Mungkin anda salah orang." Balas Aruna masih berusaha mengenali suara si penelepon.
"Aku suamimu, Aruna Melisha." Arion benar-benar kesal. Baru juga mereka berpisah dan Aruna sudah tak mengenali suaranya.
"Maaf pak, aku benar-benar gak mengenal suara anda karena terdengar berbeda." Ucap Aruna sedikit merasa bersalah.
"Sekarang cepat kembali ke tempatmu. Acara gossipnya nanti kalian lanjutkan." Balas Arion dengan tegas.
Aruna terdiam beberapa saat memikirkan ucapan Arion. Ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan pria yang berstatus sebagai suaminya itu.
"Ada apa, Run ?" Tanya Syasa bingung melihat tingkah aneh sahabatnya.
"Lain kali kita bicara lagi, bos tahu jika kita sedang bergosip." Ucap Aruna meninggalkan Syasa begitu saja.
Aruna bergegas menuju lift karyawan tanpa memperdulikan sekitarnya. Meskipun tak mungkin Arion berani memarahinya namun ia harus bersikap profesional saat berada di kantor. Lagipula pernikahan mereka belum diketahui.
πΊπΊπΊ
SELAMAT PAGI READERS
SELAMAT BERAKTIFITAS SEMOGA KITA SEMUA DALAM KEADAAN SEHAT DAN SENANTIASA BAHAGIA.
__ADS_1
TERIMA KASIH ATAS DUKUNGANNYA
LOVE YOU ALL π€π€π€