
Saat mentari pagi kembali menggeser kegelapan malam, Aruna masih bergelung dengan selimutnya. Ia terlalu malas untuk bangun dan memulai harinya apalagi hari ini ia harus ke kantor PT. Glo_Tech. Bisa dipastikan bagaimana hebohnya para karyawan disana saat melihatnya.
Hingga terdengar suara nenek Sarah disertai dengan ketukan di pintu kamar dengan sedikit keras. Masih dengan rasa malas, Aruna menyingkirkan selimutnya kemudian turun dari ranjang dan membuka pintu kamarnya.
"Sayang, sudah siang ,,," Ucap nenek Sarah saat melihat Aruna masih dengan wajah bantalnya.
"Iya nek, ini juga mau mandi." Balas Aruna melirik jam dinding di kamarnya.
"Ya sudah, mandinya jangan lama-lama ,,, nenek tunggu di meja makan."
"Siap nenekku sayang ,,,"
Aruna segera melesat ke kamar mandi. Ia pun tak ingin bermasalah dengan klien perusahaannya pada pertemuan perdana mereka. Tepatnya pertemuan perdana setelah satu tahun berpisah.
Hanya dengan menghabiskan waktu selama dua puluh menit untuk mandi dan berpakaian, setelah itu Aruna keluar kamar dan bergabung dengan sang nenek dan bi Ina di meja makan.
"Wah, nona terlihat sangat cantik ,,," Sambut bi Ina dengan mata berbinar bahagia.
"Makasih bi, pujian bibi membuat kepalaku semakin membesar nih ,,," Balas Aruna terkekeh.
"Ayo sarapan ,,, berpandangan ditunda dulu." Lerai nenek Sarah menatap kedua wanita beda usia namun selalu kompak.
Nenek Sarah tak ingin Arion mempersulit Aruna jika datang terlambat. Nenek ingin semua baik-baik saja tanpa ada dendam diantara mereka.
Tanpa banyak bicara, Aruna segera melahap sarapannya hingga tuntas dan diakhiri dengan minum air putih. Nasi goreng bi Ina masih mendominasi peringkat pertama dilidah Aruna.
"Runa berangkat, nek ,,, bye bi ,,," Aruna mencium pipi keriput nenek Sarah dan memeluk bi Ina.
"Hati-hati di jalan sayang ,,, jangan ngebut. "
"Hati-hati non ,,,"
Aruna hanya mengangkat mengacungkan jempolnya sebelum melenggang pergi. Untuk pertama kalinya Aruna memakai mobil mewah yang ia beli dari hasil kerjanya selama setahun ini. Ia mengirimkan uang pembeli mobilnya pada nenek Sarah agar mengganti mobilnya yang terdahulu.
__ADS_1
Sementara itu di perusahaan PT. Glo_Tech, tampak Arion dan Restu menunggu kedatangan utusan perusahaan R@ & NY. Gurau kekesalan terlihat jelas pada wajah tampan Arion. Ia sangat tidak suka jika harus menunggu. Sejak kemarin utusan perusahaan itu berulah dan sepertinya sengaja mengaduk-aduk emosinya. Seandainya saja perusahaannya tidak membutuhkan dukungan perusahaan R@ & NY pastilah Arion menghentikan kerjasama ini.
"Maaf pak, tamu yang ditunggu sudah ada di lobby." Ucapan Lisa yang baru saja mendapat informasi dari resepsionis.
"Suruh Hanny segera mengantarnya kemari." Balas Restu bersemangat.
Arion melirik jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 09.15. Terlambat 1 jam 15 menit, Arion semakin kesal.
"Perlihatkan senyum terbaikmu, bos ,,, ingat kita yang membutuhkan mereka." Ucap Restu apa adanya.
Hanny yang ditugaskan mengantar tamu direktur perusahaan segera menggiring Aruna menuju lift khusus tamu perusahaan. Jam kerja sudah dimulai sejak satu setengah jam yang lalu dan tak ada yang memperhatikan kehadiran Aruna. Sahabatnya pun tak terlihat. Mungkin Syasa sudah resign, pikirnya.
Setahun ia tinggalkan perusahaan PT. Glo_Tech dan rupanya banyak perubahan yang terjadi termasuk bagian resepsionisnya yang juga merupakan karyawan baru.
"Mbak Hanny sudah berapa lama bekerja pada perusahaan ini ?" Aruna tak ingin terkesan sombong jika hanya diam saja.
"Enam bukan yang lalu, bu ,,," Balas Hanny dengan tersenyum manis.
"Silahkan bu, kita sudah sampai." Ucap Hanny mempersilahkan Aruna keluar.
"Terima kasih mbak ,,," Balas Aruna tersenyum sekilas.
Pintu lift kembali tertutup dan membawa Hanny kembali ke tempatnya bertugas. Aruna lalu membalikkan badannya dan membuat kedua pria itu melotot sempurna. Kecuali sang sekretaris yang tak tahu kejadian di masa lalu.
"Kau ??!!!" Hanya itu kata yang bisa Arion ucapkan.
Sedangkan Restu tersenyum lebar menyambut mantan kakak iparnya. Dengan sopan Restu mempersilahkan Aruna mengikutinya dan memerintahkan Lisa menyiapkan jamuan untuk tamu perusahaan.
"Silahkan ikuti saya, bu ,,," Ucap Restu berjalan terlebih dahulu.
Aruna mengikuti langkah kaki Restu tanpa memperdulikan keterkejutan Arion. Kali ini Aruna akan bersikap profesional dan mengenyampingkan masalah pribadinya. Semua sudah berlalu dan hanya menjadi masa lalu. Aruna ingin segera menyelesaikan urusan perusahaan mereka dengan baik.
Antara percaya dan tidak, Arion mengikuti keduanya. Sungguh Arion tak pernah membayangkan jika mantan istri yang masih menguasai hatinya hingga kini akan menjadi partner kerjanya beberapa bukan ke depan.
__ADS_1
'Apakah Tuhan memberikanku kesempatan kedua ?' Batin Arion menatap punggung Aruna.
Pintu ruang kerja Arion kemudian tertutup setelah Lisa menghilangkan cemilan dan minuman hangat di meja tamu dan menyuruh gadis itu keluar. Restu hanya ingin berjaga-jaga jika mantan pasangan suami istri itu saling menghujat walaupun ia belum pernah sekalipun melihat Aruna berteriak dengan nada marah selama mengenalnya.
"Lho, kok aku disuruh keluar sih, pak ,,," Ucap Lisa tak terima, selama ini ia selalu dilibatkan jika bosnya menerima tamu.
"Pekerjaan kali ini gak ada hubungannya denganmu, Lis ,,, jangan ngelunjak." Sarkas Restu dengan tatapan tajam.
Sedangkan Arion sejak tadi hanya diam seribu bahasa. Lidahnya Keluh dan bibirnya seolah terkunci meskipun hanya sekedar berbasa basi. Hanya tatapan matanya tak pernah teralihkan dari sosok wanita dewasa di depannya.
"Kami gak pernah menyangka lho, Run ,,, ternyata kamu utusan perusahaan bergengsi itu. Pantas saja kamu gak mau dijemput." Ucap Restu santai.
"Aku juga sama terkejutnya denga kalian saat kemarin aku membuka map kerjasama perusahaan kita. Seandainya sejak awal aku tahu sudah pasti aku akan langsung menolaknya." Balas Aruna dingin.
Diam-diam Restu bergidik ngeri mendengar nada suara Aruna yang sedingin pegunungan di Tibet. Restu menarik napas panjang menatap Arion yang masih terdiam.
"Bos, bagaimana kalau kita mulai membahas kerjasama kita ,,," Restu berusaha membuat agar Arion tidak hanya diam seperti patung.
"Kita mulai saja pak Restu ,,, gak usah bertanya pada patung. Toh dengan anda hasilnya akan sama juga. Lagian aku ada janji dengan seseorang." Ucap Aruna tak ingin berlama-lama berada dekat mantan suaminya.
Aruna tak sepenuhnya berbohong karena memang ia berjanji jika hari ini akan mengunjungi makam kedua orang tuanya. Saat akan meninggalkan tanah air setahun yang lalu, ia tidak sempat berpamitan pada kedua orang tuanya meskipun Aruna yakin jika di alam sana mama dan papanya melihat semua apa yang dilakukan oleh anak tunggal mereka.
Mendengar penuturan Aruna, Restu kemudian mengambil alih peran Arion. Keduanya segera membahas segala sesuatunya sebelum memulai pekerjaan yang rencananya akan dilaksanakan besok.
πΊπΊπΊπΊπΊ
SELAMAT PAGI SEMUANYA
TETAP SEMANGAT YA ,,, JANGAN LUPA SELALU BAHAGIA BERSAMA KELUARGA.
OH YA, SEPERTI BIASA JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA ππ
LOVE YOU ALL π€π€
__ADS_1